Novel

Showing the single result


  • PROLOG

    Ketika kupijakkan kaki di gerbang sekolah ini untuk pertama kalinya semenjak lima tahun silam, seseorang menepuk pundakku dari belakang.

     “Jonat!” Mudah saja aku mengenalinya. Dia masih konsisten pasang tampang tanpa ekspresi. “Hei! Kupikir kamu nggak bakalan datang reuni. Dengar-dengar, kamu kuliah di luar negeri?”

    “Begitulah. Aku datang sebab aku punya utang denganmu. Saat kemari, aku berharap kau belum bunuh diri. Dan harapanku terkabul.”

     “Terimakasih soal harapanmu itu. Tapi maaf, aku ngerasa belum pernah pinjami kamu uang.”

    “Ingatkah kau, ketika malam itu kau berdiri di pinggir jalan seperti orang gila yang memukuli wajah sendiri? Ingatkah kau, kalau semenjak malam itu kau jadi begitu susah diajak omong, jadi pendiam, penyendiri, serupa orang putus asa? Ingatkah kau, kalau malam itu catatan harianmu tertinggal di tasku?”

    Aku diam sejenak. Memori buruk itu menghantuiku kembali. Lalu kujawab dengan terbata-bata, “Oh, ya ya ya! Catatan harian. Itu yang kamu maksud utang?”

    “Persis. Dan sekarang tulisannya telah luntur, tak terbaca.”

    “Santai, Jon. Lupakan saja. Sekarang ayo kita masuk, cari kawan-kawan lainnya.” Aku berusaha mengalihkannya dari bahasan soal masa lalu suram.

    Belum sempat kami melangkah masuk, Jonat lebih dulu mengeluarkan sebuah buku dari tasnya. “Ini, kukembalikan padamu. Anggap utangku lunas.” Ia sodorkan kepadaku seraya menjelaskan, “Aku ketik ulang catatan harianmu. Beberapa kuubah sesuai selera estetisku. Ada yang kuhapus, ada yang kutambahkan. Karena kau lipat setiap awal bulan Agustus, maka pada sampul depannya kutulis ‘Melipat Agustus’.”

    Aku telah bersusah payah melupakan diriku yang lampau. Sedang kini, segalanya kembali ke genggamanku. Tanganku menggigil menerima buku catatan harian itu.


Showing the single result

logo-gambang-footer
Top