Puisi

Showing 1–12 of 18 results


  • Nermi Silaban dilahirkan di Pematang Siantar, Sumatera Utara, 17 Juli 1987. Ia menulis puisi dan cerpen. Tahun 2012, ia menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Bandung. Beberapa puisinya pernah dimuat di Kabar Priangan, Pikiran Rakyat, Riau Pos, Padang Ekspress, Indopos, Media Indonesia, Kompas, juga dalam beberapa antologi bersama, antara lain: Dari Sragen Memandang Indonesia (2012), Bersepeda ke Bulan (2014). Bendera Putih untuk Tuhan (2015), Pelabuhan Merah (2016).

  • Catatan
    Tahun 1999 kumpulan puisi “Di Atas Umbria” diterbitkan Indonesia Tera untuk pertama kalinya. Kumpulan ini berisi puisi-puisi yang sebagian besar merupakan catatan perjalanan saya ke sejumlah tempat. Dengan keterbatasan halaman yang ditetapkan penerbit waktu itu, puisi-puisi dari periode ini terpaksa saya seleksi secara ketat sehingga tidak semua bisa termuat. Alhamdulillah, sambutan publik sastra terhadap kumpulan ini lumayan baik. Tahun 2001 kumpulan puisi ini mengalami cetak ulang.

    “Di Atas Umbria” sudah belasan tahun menghilang dari pasaran, sementara yang menanyakan kepada saya tentang keberadaan serta di mana dapat memperoleh kumpulan puisi tersebut semakin banyak. Sejak beberapa tahun lalu saya sudah punya keinginan menghadirkan kembali kumpulan ini kepada publik sastra, namun selalu tertunda. Ketika tahun 2010 kebetulan bertemu dengan Dorothea Rosa Herliany dari Indonesia Tera, saya sempat meminta izin seandainya sekali waktu “Di Atas Umbria” akan dicetak lagi, meskipun pada saat itu belum jelas siapa penerbitnya.

    Dalam edisi baru yang diterbitkan Penerbit Gambang, kumpulan puisi ini mengalami perubahan. Selain memperbaiki kesalahan kecil yang sifatnya teknis serta sedikit revisi untuk satu dua puisi, juga ada penambahan 13 puisi yang tidak termuat pada cetakan pertama dan kedua. Penambahan ini dimaksudkan agar “Di Atas Umbria” lebih utuh sebagai kumpulan. Puisi-puisi tambahan semuanya ditulis pada periode maupun atmosfir penciptaan yang sama, dan secara tematik sangat berkaitan. Dengan demikian edisi ini menjadi sedikit lebih tebal dibanding cetakan sebelumnya.

    A.Z.N.

  • Buku kumpulan puisi Syarifuddin Arifin

  • Hikayat Anak-anak Pendosa memiliki sebuah eksplorasi yang berani dan menjanjikan.
    Tia Setiadi – Penyair dan Kritikus Sastra

    Banyak hal yang harus diperhitungkan di dalam menulis puisi. Tidak sekedar bergagah-gagahan dengan kata, atau menggarap tema “Nyeleneh” puisi harus memiliki karakter sendiri. Karakter di mana kita bisa membaca perjalanan penulisnya. Puisi-puisi dalam buku HikayatAnak-anak Pendosa cukup nikmat untuk dibaca. Waktulah kelak yang akan mengantar penyairnya untuk di uji.  Apakah mampu bertahan dan makin kokoh?
    Oka Rusmini – Novelis dan Penyair

    Buku puisi Muhammad de Putra, Hikayat Anak-anak Pendosa, akan menjadi buku puisi yang saya simpan di rak khusus bersama buku-buku puisi lain dari penyair Indonesia yang saya sukai.
    Cecep Syamsul Hari – Penyair

  • Puisi-puisi dalam kumpulan ini ditulis dengan penuh kekhusyukan dan kesiagaan. Bagaimana upaya penyair memilih tema, menentukan rancang bangun serta mengolah kata-kata sebagai bahan baku puisinya, dengan jelas telah menunjukkan adanya kekhusyukan dan kesiagaan itu. Dengan demikian frasa-frasanya yang terkesan sederhana menjadi terasa kaya, berwarna dan bermakna ganda. (Acep Zamzam Noor)

  • Puisi Magma Rp 40.000

    Kumpulan puisi ini membawa kita ke dalam refleksi mengenai hubungan antar manusia, waktu, dan peristiwa. Di antara waktu yang bergegas dan waktu yang berjalan lambat, kadang manusia terasing dalam suasana gamang dan linglung seperti terlukiskan dalam sajak pendek yang menyentuh, “Pagi di Kantor Pos”: Mengantre// Tapi tak ada lagi / Surat kukirim.
    (Joko Pinurbo – penyair)

    Bagi setiap penyair, puisi sudah ada dalam hatinya sebelum terlahir. Ratna Ayu Budhiarti menyimpan seluruh kandungan magma dalam arus bawah sadar, dan kumpulan puisi ini bagai refleksi atas setiap letup peristiwa yang dialaminya. Ia perempuan yang mewakilkan citra dirinya dalam ketegaran, introspeksi, pelbagai pertanyaan tentang hidup, dan penyerahan yang indah sebagai puisi.
    (Kurnia Effendi – penulis prosa dan puisi)

    Lembut, puitis, dan bermakna. Inilah kesan utama setelah membaca sajak-sajak Ratna Ayu Budhiarti dalam buku ini. Kelembutan yang merepresentasikan dunia perempuan yang diungkapkannya. Kepuitisan yang menandakan kepiawaiannya dalam menyusun kata-kata secara indah dengan metafor-metafor yang unik dan segar. Dan, kebermaknaan yang mengisyaratkan kedalaman makna dan pesan yang disampaikannya.
    (Ahmadun Yosi Herfanda – penyair dan pemimpin redaksi portal sastra Litera)

  • CATATAN PENGANTAR

    Hingga berusia sekitar 50 tahun, tidak lebih dari 10 puisi yang pernah kubuat. Itu pun karena permintaan beberapa teman, bahwa puisi itu akan dilagukan (dimusikalisasi). Memang, dari beberapa puisi tersebut, ada dua puisi yang dilagukan. Aku merasa membuat puisi itu sulitnya minta ampun.

    Dalam perjalanan hidupku, aku bergulat dengan sastra, mengajar dan menulis. Cukup banyak tulisanku, terutama untuk tulisan yang bersifat akademis, dan lebih dari 330 esai opini yang telah diterbitkan di sejumlah media massa.

    Dalam perjalanan karierku menulis itu, aku juga menulis sejumlah cerpen, dan naskah drama. Cerpenku pernah dimuat di banyak media massa, dan diterbitkan dalam sebuah kumpulan antologi Keboji (2009), yang diterbitkan oleh Fakultas Ilmu Budaya UGM.

    Sekali lagi, aku merasa aku tak mampu menulis puisi. Padahal, hampir setiap hari aku bercengkrama dengan prosa dan puisi.

    Pada suatu malam, di awal tahun 2016, tiba-tiba aku ingin menulis puisi. Ada semacam getaran halus yang meminta aku menulis puisi. Dengan berbagai keraguan dan kerinduan, aku memenuhi panggilan tadi. Jadilah puisi, yang aku sebut sebagai para mantra. Ini memang soal pilihan, jadi ketika aku menulis puisi-puisi ini, aku seperti menulis mantra.

    Tentu aku berterimakasih kepada Tuhan (Tuhan ampunilah dengan dan bersama puisi mantraku). Aku berterimakasih kepada anakku Ainina Zahra dan istriku Pristi Salam, yang ketika aku menulis puisi mantra ini, mereka membiarkan aku berlagak sok jadi penyair, bahkan sedikit sok menjadi filsuf.

    Terimakasihku kepada para teman di Pusat Studi Kebudayaan UGM, dan terimakasih kepada para teman klangenanku dalam bersastra dan blusukan ke berbagai tempat.

    Terimakasih kepada siapa saja yang berkenan membaca puisi mantraku. Semoga bisa jadi mantra dalam arti yang sesungguhnya.

    Yogyakarta, 29 Februari 2016

    Aprinus Salam

  • Buku kumpulan puisi Nissa Rengganis

  • Aku lahir bukan dari tanah
    Tapi paham bahwa manusia sebermula tanah
    Lahirku dari kegembiraan yang sakral
    Menunggu bulan, memelihara kesucian

    Kelahiranku adalah awal pengorbanan
    Perjuangan merenda usia sampai renta
    Memupuk kesadaran demi kesadaran sebagai kodrat
    Manusia hidup dalam kegelisahan

    Tujuan akhirnya mencari jalan pulang
    menyusuri liku-liku kehidupan, peradaban yang mencekam
    meniti cukang menuju tanah lapang
    berdesakan menuju pintu yang sempit untuk dimasuki.

    Demikianlah pada akhirnya
    Kelahiran bukan hanya untuk dirayakan.

  • SEPANJANG jalan, ia mencatat sebuah kalimat. Kemudian memungut diksi, mencium aroma kematian dan menjadikannya bait-bait ingatan. Itulah hakikat seorang pejalan yang digambarkan Yopi Setia Umbara dalam kumpulan puisi Mengukur Jalan, Mengulur Waktu (2015). Bisa dipastikan keseluruhan puisinya bertaut antara diri (aku), perjalanan, dan ingatan tentang perjumpaan.

    Untung saja, Yopi memaknai itu semua dengan mata seorang penyair. Ia bergerak dari ruang material hingga ke ruang batin paling intim. Seperti sebuah renungan ikhwal perjalanan mencari diri. Menariknya, seorang penyair ketika merumuskan, memaknai dan mengingat waktu akan berbeda dengan seorang fisikawan dan pebisnis. Misalnya, dalam teori relativitas ala Eintens bahwa “duduk di tungku api lebih lama dari duduk di dekat seorang perempuan cantik”. Seorang pebisnis (entreprener) akan merumuskan “waktu adalah uang”. Apakah Yopi mirip pemain sepakbola (Indonesia) yang melulu mengulur waktu ketika berada dalam sebuah pertandingan? Selengkapnya

  • Mutia Sukma, lahir di Yogyakarta, 12 Mei 1988. Lulus di Jurusan Sastra Indonesia UNY. Pendidikan terakhirnya ditempuh di Pascasarjana Ilmu Sastra, UGM. Menulis puisi dan esai sastra yang di publikasikan di beberapa koran, majalah dan antologi bersama. Mendapat sejumlah kejuaraan juga penghargaan di bidang pembacaan puisi, penulisan puisi, serta pendidikan.

  • Percayalah, di balik laku spiritual yang mesti ditempuhnya, di balik napas puisinya yang selalu menyiratkan pemahamannya akan kosmologi Hindu-Bali, Mira hanyalah manusia biasa. Perempuan kurus dan cerewet ini bagi saya adalah perempuan konyol, lengkap dengan kisah hidup konyolnya. Salah satu pesan Mira kepada pembaca adalah: bacalah Pinara Pitu sambil bakar dupa dan jangan pernah membaca Pinara Pitu tanpa ditemani secangkir kopi. Konyol, bukan? Sekonyol dia yang sedang asyik-asyiknya belajar menenggak kopi, sekonyong-konyong bila kopi adalah hal paling memabukkan di bumi selain puisi.
    (Komang Ira Puspitaningsih dalam Epilog Pinara Pitu)


Showing 1–12 of 18 results

logo-gambang-footer
Top