Puisi

Showing all 9 results


  • Nermi Silaban dilahirkan di Pematang Siantar, Sumatera Utara, 17 Juli 1987. Ia menulis puisi dan cerpen. Tahun 2012, ia menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Bandung. Beberapa puisinya pernah dimuat di Kabar Priangan, Pikiran Rakyat, Riau Pos, Padang Ekspress, Indopos, Media Indonesia, Kompas, juga dalam beberapa antologi bersama, antara lain: Dari Sragen Memandang Indonesia (2012), Bersepeda ke Bulan (2014). Bendera Putih untuk Tuhan (2015), Pelabuhan Merah (2016).

  • Hikayat Anak-anak Pendosa memiliki sebuah eksplorasi yang berani dan menjanjikan.
    Tia Setiadi – Penyair dan Kritikus Sastra

    Banyak hal yang harus diperhitungkan di dalam menulis puisi. Tidak sekedar bergagah-gagahan dengan kata, atau menggarap tema “Nyeleneh” puisi harus memiliki karakter sendiri. Karakter di mana kita bisa membaca perjalanan penulisnya. Puisi-puisi dalam buku HikayatAnak-anak Pendosa cukup nikmat untuk dibaca. Waktulah kelak yang akan mengantar penyairnya untuk di uji.  Apakah mampu bertahan dan makin kokoh?
    Oka Rusmini – Novelis dan Penyair

    Buku puisi Muhammad de Putra, Hikayat Anak-anak Pendosa, akan menjadi buku puisi yang saya simpan di rak khusus bersama buku-buku puisi lain dari penyair Indonesia yang saya sukai.
    Cecep Syamsul Hari – Penyair

  • Puisi Magma Rp 40.000

    Kumpulan puisi ini membawa kita ke dalam refleksi mengenai hubungan antar manusia, waktu, dan peristiwa. Di antara waktu yang bergegas dan waktu yang berjalan lambat, kadang manusia terasing dalam suasana gamang dan linglung seperti terlukiskan dalam sajak pendek yang menyentuh, “Pagi di Kantor Pos”: Mengantre// Tapi tak ada lagi / Surat kukirim.
    (Joko Pinurbo – penyair)

    Bagi setiap penyair, puisi sudah ada dalam hatinya sebelum terlahir. Ratna Ayu Budhiarti menyimpan seluruh kandungan magma dalam arus bawah sadar, dan kumpulan puisi ini bagai refleksi atas setiap letup peristiwa yang dialaminya. Ia perempuan yang mewakilkan citra dirinya dalam ketegaran, introspeksi, pelbagai pertanyaan tentang hidup, dan penyerahan yang indah sebagai puisi.
    (Kurnia Effendi – penulis prosa dan puisi)

    Lembut, puitis, dan bermakna. Inilah kesan utama setelah membaca sajak-sajak Ratna Ayu Budhiarti dalam buku ini. Kelembutan yang merepresentasikan dunia perempuan yang diungkapkannya. Kepuitisan yang menandakan kepiawaiannya dalam menyusun kata-kata secara indah dengan metafor-metafor yang unik dan segar. Dan, kebermaknaan yang mengisyaratkan kedalaman makna dan pesan yang disampaikannya.
    (Ahmadun Yosi Herfanda – penyair dan pemimpin redaksi portal sastra Litera)

  • Aku lahir bukan dari tanah
    Tapi paham bahwa manusia sebermula tanah
    Lahirku dari kegembiraan yang sakral
    Menunggu bulan, memelihara kesucian

    Kelahiranku adalah awal pengorbanan
    Perjuangan merenda usia sampai renta
    Memupuk kesadaran demi kesadaran sebagai kodrat
    Manusia hidup dalam kegelisahan

    Tujuan akhirnya mencari jalan pulang
    menyusuri liku-liku kehidupan, peradaban yang mencekam
    meniti cukang menuju tanah lapang
    berdesakan menuju pintu yang sempit untuk dimasuki.

    Demikianlah pada akhirnya
    Kelahiran bukan hanya untuk dirayakan.

  • Mutia Sukma, lahir di Yogyakarta, 12 Mei 1988. Lulus di Jurusan Sastra Indonesia UNY. Pendidikan terakhirnya ditempuh di Pascasarjana Ilmu Sastra, UGM. Menulis puisi dan esai sastra yang di publikasikan di beberapa koran, majalah dan antologi bersama. Mendapat sejumlah kejuaraan juga penghargaan di bidang pembacaan puisi, penulisan puisi, serta pendidikan.

  • Indrian Koto lahir 19 Februari 1983 di Kenagarian Lansano, kampung kecil di Pesisir Selatan Sumatra Barat. Menyukai sastra dan terus belajar mendalaminya. Lulusan Sosiologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Aktif di Rumahlebah Yogyakarta dan Rumah Poetika. Tulisannya berupa cerpen dan puisi dipublikasikan di media masa juga termuat dalam beberapa antologi bersama. Mengelola toko buku sastra online jualbukusastra.com, serta mengurus beberapa kegiatan di #KedaiJBS. Mendirikan penerbit alternatif MK Books dan Penerbit JBS. Pleidoi Malin Kundang merupakan antologi puisi tunggal pertamanya.

  • Sedikit Pembuka

    Sinta Ridwan

     

    Untuk Senja Hatiku: Kutunggu kau/ di rumah mungil itu// Aku akan siapkan kayu untuk perapian nanti malam// Dan secangkir bintang/ untuk kita berdua// Dari Embun Pagimu – Ujungberung II, 26 Mei 2009

    Setiap malam tiba, hal pertama yang aku cari adalah keberadaan bintang-bintang. Kami seolah saling menyapa: Bagaimana kabarmu hari ini? Indah? Ya, aku dan bintang seperti memiliki keterikatan yang dalam. Selain bintang, sahabatku yang lain adalah senja, Manglayang, awan putih, langit biru, pelangi, hujan, mentari, angin, naskah kuna, tanah, laut, camar, elang, dan naga. Aku juga punya seorang kekasih, Embun Pagi namanya. Namun, sebenarnya hanya satu pelindung hati dan semangat jiwa, bintang itulah.

    Lalu mengapa harus secangkir? Bukan seember, segelas, semangkuk, atau selangit. Alasannya, karena hidup ini sebentar. Seperti ukuran cangkir kecil yang dalam dan melengkung. Waktu ini sempit. Ibaratnya, duniaku hanya sebesar cangkir. Dan mimpi-mimpi yang ada dalam hidupku seperti sedang memenuhi cangkir dengan bintang-bintang penuh warna. Sedih, suka, senang, bahagia, masa lalu, masa kini, dan amarah. Sengaja aku beri warna-warna pada si hidup agar menambah cita rasa bintang dalam cangkirku.

    Ya, secangkir bintang. Dua kata inilah yang mewakili perasaanku dalam judul naskah yang berisikan kumpulan tulisan pendek dan ringan selama perjalanan empat tahun dari 2006 hingga 2009. Dan ini adalah naskah pertamaku. Anakku sendiri, yang lahir dari seluruh tubuhku, berbaur dengan apa yang ada di dekatku.

    Inspirasi untuk menulis “katakanlah” puisi, selalu datang tanpa terdeteksi sebelumnya. Ketika muncul, aku hanya sanggup mempersilakan mereka masuk ke dalam ruang imajinasiku. Entah, menarik atau tidak bagi orang lain. Setidaknya aku bersikap jujur untuk mengungkapkan apa yang aku lihat, apa yang aku dengar, apa yang aku rasa, apa yang aku sentuh, apa yang aku pikir, dan apa yang aku mimpikan pada saat itu juga. Langsung kutuang ke dalam cangkir. Entah berasa pahit, manis, luka, atau ceria.

    Kuyakini, jika imajinasi, mimpi, khayalan, dan ambisi merupakan anugerah yang dimiliki setiap makhluk hidup. Bila dikolaborasi suasana hati akan menjadi lebih berwarna. Hidup semakin lebih hidup.

    Coretan tulisan ini berasal dari apa saja yang aku rasa dan merupakan hal-hal sederhana di kehidupanku sehari-hari. Aku sedang belajar dan mencoba menuangkan isi tentang hal-ihwal di hadapan juga di belakang, mulai dari mata lalu ke otak, ke hati kemudian membentuk kata-kata. Bagiku, si pengidap ill communication stadium tinggi, menulis adalah bentuk ekspresi dari pelampiasan kata-kata yang tertahan, tak terucap, terpendam, lama mengendap, lalu menggunung dalam tubuh.

    Melalui tulisan yang sedikit malu-malu kucing ini, aku mengakui bahwa anak-anakku yang didokumentasikan dalam secangkir bintang dianggap sebagai bentuk puisi sederhana, yang akhirnya mampu kutuang semuanya. Dan aku merasa plong. Lega rasanya.

    Teramat bahagia, ketika melihat ada makhluk-makhluk hidup lainnya mau menyisakan waktu membaca coretan ini. Bagiku, itu adalah bentuk dari perhatian yang tak dapat dibalas dengan apapun. Mungkin, hanya bisa memberikan senyuman paling manis yang dimiliki dan bisikan terima kasih atas semua yang telah membantu dan menemani selama proses pembuatan dan kelahirannya anak kecil ini.

    Kepada semua yang sudah pernah main ke duniaku, membaca tulisan-tulisannya, menggenggam secangkir bintang, menyeruput dan turut menambah rasa warna-warni bintang dalam cangkir ini, kuucapkan: Hatur nuhun pisan.

     

    Ujungberung II, 23 April 2009

  • Esti memotret hidup dengan bahasa dan ia memakaikan gambarnya lewat katanya—bukan lewat warnanya. Tapi toh titik itu kembali lagi: lewat kata kita menghidupi warna yang diambil Esti dari dalam, katanya, tengahnya hidup dan itulah Mijil yang lagi menurunkan dirinya, dari tembang kesunyian hidup manusia, manusia siapa saja dan manusia mana saja, kita beroleh kabar agak terang bahwa, kata Esti, tengahnya dunia adalah laku atau diri atau, apa saja hendak kita isikan, dunia nasihat yang keluar dari gaibnya dunia Mijil juga. Esti mengatakan potretnya ini lewat nada dari warna gambar hidupnya dan keluarlah sesuatu pernyataan normatif atas hidup yang berlaku untuk siapa saja, tapi sukar itu. Esti: tengahnya laku//terhormat dan bermartabat. Tapi lihatlah “sampai juga gairah asmaradhana” di sana. sampai dan tiba ke “hingga senja megatruh”. (Hudan Hidayat – Sastrawan)

    Kembalinya penyair ke akar tradisi sebagai pilihan pantas dihargai, sebab realitas menunjukkan bahwa akar tradisi memberikan tumpuan yang kuat bagi tumbuhkembangnya karya sastra monumental. Bagi kita yang hidup di dalam tata nilai Timur, sastra yang unggul adalah sastra yang berjalin-berkelindan pada Realitas Hakiki yang metafisis sifatnya. Karya sastra yang dihasilkan oleh tata nilai Timur ini menunjukkan karya yang memiliki keharmonisan di dalam dan sarat makna. Penyair pada akhirnya harus tanggap pada apa yang disebut oleh Romo Dick hartoko sebagai ”Tanda-tanda Zaman”. Perubahan memerlukan penyesuaian. Penyesuaian memerlukan pemahaman. Pemahaman memerlukan kerja keras. Kerja keras akan menghasilkan karya berkualitas. Penyair yang gemilang adalah mereka yang mau bekerja keras saat orang-orang lain tidur, berani mengambil risiko ketika yang lain mundur. Demikianlah, lanskap suasana yang tertangkap saat Esti Ismawati menyanyi megetruh di saat senja. (Dimas Arika Mihardja – Direktur Eksekutif Bengkel Puisi Swadaya Mandiri)

  • SULUK PENGANTAR

    Aku merasa sudah memasuki umur cukup tua. Entah kapan aku akan meninggalkan dunia ini. Tentu aku berharap usiaku panjang. Panjang usia dan dalam keadaan sehat sejahtera. Tentu aku juga berharap dosa-dosaku, dosa-dosa kita diampuni.

    Dalam kecemasan entah kapan kita kembali pada-Nya, aku merasa tidak ada persiapan yang cukup. Aku sadar, nanti kalau meninggal aku tidak membawa apa-apa. Untuk itulah, aku berpikir aku perlu meninggalkan sesuatu, yang kelak bisa aku bawa. Salah satu pilihan itu adalah dengan menulis puisi.

    Berbeda ketika aku menulis Mantra Bumi (2016). Waktu itu, aku bisa menulis dengan cepat, dan tidak berpikir panjang, karena kuniati menulis mantra atau doa. Munulis puisi dalam Suluk Bagimu Negeri, aku harus bekerja keras.

    Berdasarkan pengalamanku kali ini, tidak ada pekerjaan lain yang lebih melelahkan daripada membuat puisi. Tidak ada pekerjaan lain yang lebih menuntut konsentrasi tinggi daripada membuat puisi.

    Biasanya, setelah aku berhasil membuat dua atau tiga puisi, aku tertidur kelelahan, dengan perasaan tidak puas. Dalam tidur yang penuh kecemasan, terbersit pertanyaan apakah aku dibangunkan dan bisa membuat puisi lagi.

    Begitulah, segalanya harus kita lewati menuju hari-hari yang kita tak tahu ke mana arah hidup berjalan. Dalam kesempatan ini, tidak ada kata-kata yang lebih pantas untuk mengatakan terimakasih. Terimakasih kepada Tuhan, serta shawalat dan salam kepada junjungan Kanjeng Muhammad.

    Terimakasih kepada buah hatiku, kecintaanku, Ainina Zahra, kepada istriku yang indah, Pristi Salam. Terimakasih kepada sahabat-sahabat di Pusat Studi Kebudayaan UGM, kepada seniman dan sastrawan Yogyakarta, dan kepada para mahasiswaku yang hebat-hebat. Juga kepada sahabat-sahabat yang telah menemani diskusi-diskusi yang panjang di malam-malam yang larut.

    Hormat saya kepada Anda semua.

    Aprinus Salam


Showing all 9 results

logo-gambang-footer
Top