Puisi

Showing all 10 results


  • Hikayat Anak-anak Pendosa memiliki sebuah eksplorasi yang berani dan menjanjikan.
    Tia Setiadi – Penyair dan Kritikus Sastra

    Banyak hal yang harus diperhitungkan di dalam menulis puisi. Tidak sekedar bergagah-gagahan dengan kata, atau menggarap tema “Nyeleneh” puisi harus memiliki karakter sendiri. Karakter di mana kita bisa membaca perjalanan penulisnya. Puisi-puisi dalam buku HikayatAnak-anak Pendosa cukup nikmat untuk dibaca. Waktulah kelak yang akan mengantar penyairnya untuk di uji.  Apakah mampu bertahan dan makin kokoh?
    Oka Rusmini – Novelis dan Penyair

    Buku puisi Muhammad de Putra, Hikayat Anak-anak Pendosa, akan menjadi buku puisi yang saya simpan di rak khusus bersama buku-buku puisi lain dari penyair Indonesia yang saya sukai.
    Cecep Syamsul Hari – Penyair

  • Puisi Magma Rp 40.000

    Kumpulan puisi ini membawa kita ke dalam refleksi mengenai hubungan antar manusia, waktu, dan peristiwa. Di antara waktu yang bergegas dan waktu yang berjalan lambat, kadang manusia terasing dalam suasana gamang dan linglung seperti terlukiskan dalam sajak pendek yang menyentuh, “Pagi di Kantor Pos”: Mengantre// Tapi tak ada lagi / Surat kukirim.
    (Joko Pinurbo – penyair)

    Bagi setiap penyair, puisi sudah ada dalam hatinya sebelum terlahir. Ratna Ayu Budhiarti menyimpan seluruh kandungan magma dalam arus bawah sadar, dan kumpulan puisi ini bagai refleksi atas setiap letup peristiwa yang dialaminya. Ia perempuan yang mewakilkan citra dirinya dalam ketegaran, introspeksi, pelbagai pertanyaan tentang hidup, dan penyerahan yang indah sebagai puisi.
    (Kurnia Effendi – penulis prosa dan puisi)

    Lembut, puitis, dan bermakna. Inilah kesan utama setelah membaca sajak-sajak Ratna Ayu Budhiarti dalam buku ini. Kelembutan yang merepresentasikan dunia perempuan yang diungkapkannya. Kepuitisan yang menandakan kepiawaiannya dalam menyusun kata-kata secara indah dengan metafor-metafor yang unik dan segar. Dan, kebermaknaan yang mengisyaratkan kedalaman makna dan pesan yang disampaikannya.
    (Ahmadun Yosi Herfanda – penyair dan pemimpin redaksi portal sastra Litera)

  • Sajak-sajak dalam antologi puisi Matahari Sebutir Pasir ini bisa saya katakan sebagai sajak-sajak yang terselamatkan. Sejak menulis puisi di bangku sekolah menengah, saya tidak pintar mendokumentasikan karya sendiri—bahkan mungkin kesadaran pentingnya menyimpan sebuah karya tidak ada dalam benak saya kala itu. Hal itu dikarenakan saya terlibat dalam gerakan pelajar dan berlanjut menjadi seorang aktivis, pada masa yang menuntut atau menyita waktu saya berlebihan, juga pikiran, tenaga dan jiwa saya sendiri, sehingga intensi saya terhadap puisi menurun akibat seringnya turun ke jalan dan merapat dalam kumpulan para aktivis, seniman dan budayawan pada masa transisi politik di negeri ini.

     

    Meski proses kreatifitas saya tersenda-sendat oleh idealisme politik-aktivisme yang saya hayati sebagai kewajiban anak bangsa, pada saat yang sama saya ikut menjadi pemimpin redaksi Senthir, jurnal kebudayaan untuk pelajar pada masa itu, serta meluangkan waktu mengirimkan tulisan, baik puisi, cerpen dan esai ke media massa dan majalah sastra. Sekarang, yang terlacak dari proses kepenyairan saya di masa pelajar tersebut dapat dijumpai pada sejumlah buku antologi seperti Horison Kakilangit (2001), Bengkel Sastra (1998), Pelajar mengenang Chairil (1998). Selebihnya telah lenyap, tidak terlacak lagi.

     

    Bagi saya sekarang, kepenyairan harus sungguh-sungguh diperjuangkan dan tidak bisa dianaktirikan. Saya tersadarkan oleh pernyataan Saini K.M, “Kepenyairan tidak terwujud berdasarkan keingintahuan saja, kepenyairan juga bukan karena menguasai dengan baik teknik menulis puisi. Kepenyairan lebih berdasarkan pada Panggilan!” Saya tidak memungkiri, proses kepenyairan di masa pelajar masih sebatas keinginan dan tujuan-tujuan sederhana. Meski begitu, pergulatan saya di ranah perpolitikan juga tidak luput dari pernyataan Chairil Anwar yang berkata, “Tiap seniman harus seorang perintis jalan, tidak segan memasuki hutan rimba penuh binatang buas, mengarungi lautan lebar tak bertepi, seniman ialah tanda hidup yang melepas bebas!”

     

    Saya yang melibatkan diri dalam politik, turun ke jalan, tanpa sadar telah menafikan akan pentingnya sebuah sajak berhadapan dengan kekuasaan. Saya juga memaklumi, masa itu adalah masa pencarian, di mana saya masih memandang segala kemungkinan dan ketepatan dengan sebelah mata. Sajak-sajak dalam antologi ini, yang saya tulis dari tahun 1996-2010, merekam peristiwa-peristiwa Orde Baru, tumbangnya dan masa transisi yang berliku, baik yang saya terlibat langsung atau pun tidak. Di samping rekaman peristiwa itu, terdapat tema terkait persoalan-persoalan cinta, transformasi desa-kota, spiritualitas, dan lain sebagainya.

     

    Bisa dikatakan, saya adalah seniman yang bangkrut atas keteledoran saya. Saya banyak kehilangan tulisan-tulisan saya mengingat saya senang berkeliaran kesana-kemari, bertemu kawan yang kamarnya saya pinjam untuk tidur atau berkarya. Selama kepenyairan, saya juga mengalami goncangan hebat yang membuat saya patah dan surut semangat atas hilangnya tiga kumpulan sajak saya, yang dipinjam kawan perempuan. Bagi saya karya itu sangat penting dan berharga, semoga yang termaksud dapat mengetahui hal ini dan bisa secepatnya mencari dan mengembalikan untuk memulihkan harapan dan mimpi-mimpi saya.

     

    Sajak-sajak dalam kumpulan sajak ini saya temukan dalam simpanan kawan saya, Andi Magadhon, yang tertinggal di rumahnya. Saya sangat berterima kasih kepadanya serta pihak-pihak lain yang tidak bisa saya sebutkan. Harapan saya, semoga kumpulan sajak ini bermanfaat dan semakin memperkaya dunia sastra di tanah air Indonesia.

  • Aku lahir bukan dari tanah
    Tapi paham bahwa manusia sebermula tanah
    Lahirku dari kegembiraan yang sakral
    Menunggu bulan, memelihara kesucian

    Kelahiranku adalah awal pengorbanan
    Perjuangan merenda usia sampai renta
    Memupuk kesadaran demi kesadaran sebagai kodrat
    Manusia hidup dalam kegelisahan

    Tujuan akhirnya mencari jalan pulang
    menyusuri liku-liku kehidupan, peradaban yang mencekam
    meniti cukang menuju tanah lapang
    berdesakan menuju pintu yang sempit untuk dimasuki.

    Demikianlah pada akhirnya
    Kelahiran bukan hanya untuk dirayakan.

  • Tema-tema identitas yang muncul merupakan bagian dari problem yang disebutkan di atas. Kontestasi antargender, etnis, dan agama, yang semua merupakan ekspresi kebebasan yang terbuka setelah Orde Baru, telah menjadi masalah di kemudian hari, terutama konflik horisontal di kalangan masyarakat, yang kemudian disebut dengan istilah “populisme”. Masalah ini tentu bersumber bukan dari nilai-nilai budaya identitas tadi semata, tetapi terutama berkaitan dengan masalah ekonomi dan politik. Di sinilah sastra perlu hadir untuk merenung dan bertanya tentang akar masalah dari fenomena ini, tentang perlunya semangat keadilan dan kemanusiaan yang berangkat dari diagnosa terhadap model ekonomi dan politik yang berbeda. Jika sastra berpaling muka dari problem-problem tersebut—dengan melahirkan karya-karya yang tidak kritis— mungkin tak mengubah posisi sastra di hadapan publik, namun secara substansial sastra bukan lagi jalan keluar dari masalah melainkan justru menjadi bagian dari masalah tersebut.

    Tak ada pilihan lain bagi kita selain kembali menjadi kritis di tengah keterasingan dan eksploitasi ekonomi yang bekerja secara virtual serta banjir informasi yang tidak baik. Dalam kerangka tersebut, mayoritas/minoritas dari kita bukan lagi dipandang Jawa/Cina, laki-laki/perempuan, Islam/Kristen, tapi kaum miskin yang tidak sadar dirinya miskin yang harus menjalani hidup dengan menggunakan hal-hal yang bukan miliknya: kontrakan, kafe, motor, kulkas, bahkan pengetahuan, bahasa, dan ideologi. Semua kita peroleh secara kredit; betapa pun nyaman, semua barang itu adalah pinjaman yang belum kita lunasi.

    Di tengah kondisi itulah puisi-puisi Irwan Segara yang terkumpul dalam antologi Perjalanan Menuju Mars (Gambang, 2018) hadir sebagai karya yang menyegarkan dan layak disambut dengan baik. Tentu belum sehebat Pablo Neruda dan Nizar Qabbani (meski tebakan saya Irwan dipengaruhi oleh keduanya), tapi cukup mewakili semangat kritis terhadap kondisi zamannya yang dikemas dalam ungkapan yang jelas dan langsung serta dengan sentuhan liris yang indah. Penalaran yang logis dengan penggambaran yang realis amat dibutuhkan untuk memasuki kenyataan, dan gaya lirisnya dapat membantu pembaca untuk bertahan merenungkan keadaan yang sering tidak manusiawi.

    (Muhammad Aswar, Penyair)

  • Mutia Sukma, lahir di Yogyakarta, 12 Mei 1988. Lulus di Jurusan Sastra Indonesia UNY. Pendidikan terakhirnya ditempuh di Pascasarjana Ilmu Sastra, UGM. Menulis puisi dan esai sastra yang di publikasikan di beberapa koran, majalah dan antologi bersama. Mendapat sejumlah kejuaraan juga penghargaan di bidang pembacaan puisi, penulisan puisi, serta pendidikan.

  • Indrian Koto lahir 19 Februari 1983 di Kenagarian Lansano, kampung kecil di Pesisir Selatan Sumatra Barat. Menyukai sastra dan terus belajar mendalaminya. Lulusan Sosiologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Aktif di Rumahlebah Yogyakarta dan Rumah Poetika. Tulisannya berupa cerpen dan puisi dipublikasikan di media masa juga termuat dalam beberapa antologi bersama. Mengelola toko buku sastra online jualbukusastra.com, serta mengurus beberapa kegiatan di #KedaiJBS. Mendirikan penerbit alternatif MK Books dan Penerbit JBS. Pleidoi Malin Kundang merupakan antologi puisi tunggal pertamanya.

  • Sedikit Pembuka

    Sinta Ridwan

     

    Untuk Senja Hatiku: Kutunggu kau/ di rumah mungil itu// Aku akan siapkan kayu untuk perapian nanti malam// Dan secangkir bintang/ untuk kita berdua// Dari Embun Pagimu – Ujungberung II, 26 Mei 2009

    Setiap malam tiba, hal pertama yang aku cari adalah keberadaan bintang-bintang. Kami seolah saling menyapa: Bagaimana kabarmu hari ini? Indah? Ya, aku dan bintang seperti memiliki keterikatan yang dalam. Selain bintang, sahabatku yang lain adalah senja, Manglayang, awan putih, langit biru, pelangi, hujan, mentari, angin, naskah kuna, tanah, laut, camar, elang, dan naga. Aku juga punya seorang kekasih, Embun Pagi namanya. Namun, sebenarnya hanya satu pelindung hati dan semangat jiwa, bintang itulah.

    Lalu mengapa harus secangkir? Bukan seember, segelas, semangkuk, atau selangit. Alasannya, karena hidup ini sebentar. Seperti ukuran cangkir kecil yang dalam dan melengkung. Waktu ini sempit. Ibaratnya, duniaku hanya sebesar cangkir. Dan mimpi-mimpi yang ada dalam hidupku seperti sedang memenuhi cangkir dengan bintang-bintang penuh warna. Sedih, suka, senang, bahagia, masa lalu, masa kini, dan amarah. Sengaja aku beri warna-warna pada si hidup agar menambah cita rasa bintang dalam cangkirku.

    Ya, secangkir bintang. Dua kata inilah yang mewakili perasaanku dalam judul naskah yang berisikan kumpulan tulisan pendek dan ringan selama perjalanan empat tahun dari 2006 hingga 2009. Dan ini adalah naskah pertamaku. Anakku sendiri, yang lahir dari seluruh tubuhku, berbaur dengan apa yang ada di dekatku.

    Inspirasi untuk menulis “katakanlah” puisi, selalu datang tanpa terdeteksi sebelumnya. Ketika muncul, aku hanya sanggup mempersilakan mereka masuk ke dalam ruang imajinasiku. Entah, menarik atau tidak bagi orang lain. Setidaknya aku bersikap jujur untuk mengungkapkan apa yang aku lihat, apa yang aku dengar, apa yang aku rasa, apa yang aku sentuh, apa yang aku pikir, dan apa yang aku mimpikan pada saat itu juga. Langsung kutuang ke dalam cangkir. Entah berasa pahit, manis, luka, atau ceria.

    Kuyakini, jika imajinasi, mimpi, khayalan, dan ambisi merupakan anugerah yang dimiliki setiap makhluk hidup. Bila dikolaborasi suasana hati akan menjadi lebih berwarna. Hidup semakin lebih hidup.

    Coretan tulisan ini berasal dari apa saja yang aku rasa dan merupakan hal-hal sederhana di kehidupanku sehari-hari. Aku sedang belajar dan mencoba menuangkan isi tentang hal-ihwal di hadapan juga di belakang, mulai dari mata lalu ke otak, ke hati kemudian membentuk kata-kata. Bagiku, si pengidap ill communication stadium tinggi, menulis adalah bentuk ekspresi dari pelampiasan kata-kata yang tertahan, tak terucap, terpendam, lama mengendap, lalu menggunung dalam tubuh.

    Melalui tulisan yang sedikit malu-malu kucing ini, aku mengakui bahwa anak-anakku yang didokumentasikan dalam secangkir bintang dianggap sebagai bentuk puisi sederhana, yang akhirnya mampu kutuang semuanya. Dan aku merasa plong. Lega rasanya.

    Teramat bahagia, ketika melihat ada makhluk-makhluk hidup lainnya mau menyisakan waktu membaca coretan ini. Bagiku, itu adalah bentuk dari perhatian yang tak dapat dibalas dengan apapun. Mungkin, hanya bisa memberikan senyuman paling manis yang dimiliki dan bisikan terima kasih atas semua yang telah membantu dan menemani selama proses pembuatan dan kelahirannya anak kecil ini.

    Kepada semua yang sudah pernah main ke duniaku, membaca tulisan-tulisannya, menggenggam secangkir bintang, menyeruput dan turut menambah rasa warna-warni bintang dalam cangkir ini, kuucapkan: Hatur nuhun pisan.

     

    Ujungberung II, 23 April 2009

  • Esti memotret hidup dengan bahasa dan ia memakaikan gambarnya lewat katanya—bukan lewat warnanya. Tapi toh titik itu kembali lagi: lewat kata kita menghidupi warna yang diambil Esti dari dalam, katanya, tengahnya hidup dan itulah Mijil yang lagi menurunkan dirinya, dari tembang kesunyian hidup manusia, manusia siapa saja dan manusia mana saja, kita beroleh kabar agak terang bahwa, kata Esti, tengahnya dunia adalah laku atau diri atau, apa saja hendak kita isikan, dunia nasihat yang keluar dari gaibnya dunia Mijil juga. Esti mengatakan potretnya ini lewat nada dari warna gambar hidupnya dan keluarlah sesuatu pernyataan normatif atas hidup yang berlaku untuk siapa saja, tapi sukar itu. Esti: tengahnya laku//terhormat dan bermartabat. Tapi lihatlah “sampai juga gairah asmaradhana” di sana. sampai dan tiba ke “hingga senja megatruh”. (Hudan Hidayat – Sastrawan)

    Kembalinya penyair ke akar tradisi sebagai pilihan pantas dihargai, sebab realitas menunjukkan bahwa akar tradisi memberikan tumpuan yang kuat bagi tumbuhkembangnya karya sastra monumental. Bagi kita yang hidup di dalam tata nilai Timur, sastra yang unggul adalah sastra yang berjalin-berkelindan pada Realitas Hakiki yang metafisis sifatnya. Karya sastra yang dihasilkan oleh tata nilai Timur ini menunjukkan karya yang memiliki keharmonisan di dalam dan sarat makna. Penyair pada akhirnya harus tanggap pada apa yang disebut oleh Romo Dick hartoko sebagai ”Tanda-tanda Zaman”. Perubahan memerlukan penyesuaian. Penyesuaian memerlukan pemahaman. Pemahaman memerlukan kerja keras. Kerja keras akan menghasilkan karya berkualitas. Penyair yang gemilang adalah mereka yang mau bekerja keras saat orang-orang lain tidur, berani mengambil risiko ketika yang lain mundur. Demikianlah, lanskap suasana yang tertangkap saat Esti Ismawati menyanyi megetruh di saat senja. (Dimas Arika Mihardja – Direktur Eksekutif Bengkel Puisi Swadaya Mandiri)

  • SULUK PENGANTAR

    Aku merasa sudah memasuki umur cukup tua. Entah kapan aku akan meninggalkan dunia ini. Tentu aku berharap usiaku panjang. Panjang usia dan dalam keadaan sehat sejahtera. Tentu aku juga berharap dosa-dosaku, dosa-dosa kita diampuni.

    Dalam kecemasan entah kapan kita kembali pada-Nya, aku merasa tidak ada persiapan yang cukup. Aku sadar, nanti kalau meninggal aku tidak membawa apa-apa. Untuk itulah, aku berpikir aku perlu meninggalkan sesuatu, yang kelak bisa aku bawa. Salah satu pilihan itu adalah dengan menulis puisi.

    Berbeda ketika aku menulis Mantra Bumi (2016). Waktu itu, aku bisa menulis dengan cepat, dan tidak berpikir panjang, karena kuniati menulis mantra atau doa. Munulis puisi dalam Suluk Bagimu Negeri, aku harus bekerja keras.

    Berdasarkan pengalamanku kali ini, tidak ada pekerjaan lain yang lebih melelahkan daripada membuat puisi. Tidak ada pekerjaan lain yang lebih menuntut konsentrasi tinggi daripada membuat puisi.

    Biasanya, setelah aku berhasil membuat dua atau tiga puisi, aku tertidur kelelahan, dengan perasaan tidak puas. Dalam tidur yang penuh kecemasan, terbersit pertanyaan apakah aku dibangunkan dan bisa membuat puisi lagi.

    Begitulah, segalanya harus kita lewati menuju hari-hari yang kita tak tahu ke mana arah hidup berjalan. Dalam kesempatan ini, tidak ada kata-kata yang lebih pantas untuk mengatakan terimakasih. Terimakasih kepada Tuhan, serta shawalat dan salam kepada junjungan Kanjeng Muhammad.

    Terimakasih kepada buah hatiku, kecintaanku, Ainina Zahra, kepada istriku yang indah, Pristi Salam. Terimakasih kepada sahabat-sahabat di Pusat Studi Kebudayaan UGM, kepada seniman dan sastrawan Yogyakarta, dan kepada para mahasiswaku yang hebat-hebat. Juga kepada sahabat-sahabat yang telah menemani diskusi-diskusi yang panjang di malam-malam yang larut.

    Hormat saya kepada Anda semua.

    Aprinus Salam


Showing all 10 results

logo-gambang-footer
Top