Catullus

Rp 40.000

0 out of 5

Sebuah usaha awal agar pembaca bisa mengintip dunia Romawi Kuno yang diabadikan Catullus dalam puisi-puisinya. Buku ini dilengkapi dengan puisi-puisi versi Latin (yang tentu saja sudah menjadi milik publik, dapat diakses bebas di internet), dengan tujuan paling mendasar, agar bentuk asli puisi-puisi tersebut dapat tetap “dinikmati” bersamaan dengan penelusuran terhadap gagasan-gagasan di dalamnya melalui bahasa terjemahannya. Untuk memudahkan pemahaman atas konteks, sejumlah catatan akhir, yang dianggap perlu, disertakan pada sejumlah puisi. Diterjemahkan oleh Mario F. Lawi.

Category: . Tag: .

Product Description

Sekilas tentang Catullus

 

Basia da nobis, Diadumene, pressa. ‘Quot’ inquis?

    Oceani fluctus me numerare iubes

et maris Aegaei sparsas per litora conchas

    et quae Cecropio monte vagantur apes,

quaeque sonant pleno vocesque manusque theatro

    cum populus subiti Caesaris ora videt.

Nolo quot arguto dedit exorata Catullo

    Lesbia: pauca cupit qui numerare.

 

Beri kami ciuman sederhana, Diadumenus. ‘Berapa banyak,’ tanyamu?

Kau memintaku untuk menghitung gelombang samudera,

dan kerang yang tersebar sepanjang pantai lautan Aegeia,

dan lebah-lebah yang tersebar sepanjang gunung Cecrops,

juga suara dan bunyi tepuk tangan dari gedung teater yang penuh

ketika orang-orang melihat Caesar mendadak muncul.

Aku tak mau sebanyak yang diberikan Lesbia yang luluh kepada

Catullus yang merdu; ia yang dapat menghitung mengharapkan hanya sedikit.

 

Marcus Valerius Martialis, buku 6, epigram 34.

 

Puisi Marcus Valerius Martialis di atas, penyair Hispania yang berkarya jauh setelah Catullus si orang Verona meninggal, memiliki hubungan langsung dengan dua puisi Catullus, yakni puisi 5 dan 7. Pada puisi 5 (baris 7-9), Catullus menulis:

 

Da mi basia mille, deinde centum,

Dein mille altera, dein secunda centum,

Deinde usque altera mille, deinde centum.

 

Beri aku seribu ciuman, kemudian seratus,

Lalu seribu yang lain, lalu seratus kedua,

Sampai seribu lainnya, lalu seratus lagi.

 

Permintaan Catullus dalam puisi 5 bisa dibaca sebagai pars pro toto: bilangan yang disebutkan mewakili jauh lebih banyak jumlah yang dimaksud. Dalam puisi 7, Catullus menegaskan maksudnya: ciuman-ciuman yang ia inginkan dari Lesbia adalah ciuman-ciuman yang tak terhitung, sebanyak butir-butir pasir Libya (Quam magnus numerus Libyssae harenae), dan bintang-bintang (aut quam sidera multa). Pergeseran dari jumlah tentu (mille dan centum) ke jumlah tak tentu ini ditutup dengan frasa basia multa (banyak ciuman) yang tak bisa dihitung dan dikutuk.

Jika dalam versi yang lebih modern Eliot menulis bahwa historical sense-lah yang menjadikan seorang penulis tradisional, pendapat tersebut dapat kita temukan rujukannya pada hal-hal yang telah dikerjakan Catullus dan para penyair klasik ribuan tahun sebelumnya. Demikianlah, puisi-puisi Catullus dapat dibaca sebagai puisi-puisi yang saling terhubung dan berjalinan, antara satu puisi dengan puisi lain yang ia tulis, juga antara puisi-puisinya dengan puisi-puisi dari para penyair sebelum dan sesudahnya. Puisi 51 yang disertakan dalam terjemahan ini, misalnya, merupakan terjemahan/saduran atas puisi 31 milik penyair Yunani Klasik Sappho. Hubungan erat antara puisi-puisi yang ditulisnya tampak paling jelas dalam puisi-puisi tentang Lesbia. Puisi-puisi Catullus adalah jembatan yang jelas untuk melihat bagaimana pengaruh tradisi puisi Yunani Klasik diteruskan ke dalam khazanah Latin Klasik.

 

Catullus dan Lesbia

Catullus atau Gaius Valerius Catullus adalah penyair Latin yang hidup sekitar tahun 84 SM – 54 SM. Catullus lahir di Verona, berasal dari keluarga yang memiliki hubungan baik dengan Julius Caesar, dan pergi ke Roma dalam usia yang sangat muda. Di Roma, Catullus memusatkan perhatiannya pada puisi dan menjadi anggota dari kelompok poetae novi (para penyair baru), sekelompok penyair yang pada umumnya membawa pengaruh puisi Yunani ke dalam sastra Latin, terutama dasar-dasar puitika Aleksandria. Para poetae novi tersebut mengambil pengaruh yang sangat banyak dari Kallimakhos (310 SM – 240 SM), penyair Yunani Aleksandria. Catullus adalah penyair terpenting dari antara generasi poetae novi, dengan cukup banyak naskah yang selamat, dan banyak berpengaruh terhadap para penyair Latin di masa sesudahnya. (Untuk ulasan lebih jauh tentang gerakan poetae novi lihat R.O.A.M. Lyne, “The Neoteric Poets”, dalam Collected Papers on Latin Poetry, Oxford University Press, 2007: 60-84).

Lesbia, tokoh paling terkenal dalam puisi-puisi Catullus, diyakini para sarjana modern sebagai pseudonim dari Clodia Pulchra, istri Quintus Caecilius Metellus Celer, seorang aristokrat yang pada 62-61 SM mengabdi sebagai gubernur Gallia Cisalpina, wilayah yang ditaklukkan pada 220 SM dan menjadi bagian dari provinsi Romawi dari 81 SM hingga 42 SM. Pseudonim Lesbia diambil dari kata “Lesbos”, nama tempat Sappho berasal.

Ada 30 dari 113 puisi Catullus yang diterjemahkan dalam buku ini. Puisi Catullus sering diberi nomor sampai 116, meski jumlah puisi lengkapnya adalah 113 (puisi dengan nomor 18-20 salah diatributkan kepadanya, dan kemudian direvisi, meski nomor-nomor yang ada tetap tak diganti). Dari 30 puisi tersebut, 22 di antaranya adalah puisi-puisi yang berbicara tentang Lesbia (2, 3, 5, 7, 8, 11, 36, 51, 58, 68a, 70, 72, 75, 79, 83, 85, 86, 87, 92, 104, 107, 109). Sisanya adalah puisi-puisi dengan berbagai tema, misalnya himne untuk Diana (puisi 34). Puisi 68 tidak diterjemahkan secara utuh, dengan alasan sederhana: puisi tersebut terdiri atas dua bagian yang bisa dibaca secara terpisah.

Lesbia dalam puisi-puisi Catullus ditampilkan secara variatif. Ia bisa merupakan pencinta yang kehilangan peliharaan, orang yang dituduh berselingkuh dengan banyak lelaki, perempuan yang memberikan dirinya kepada para lelaki di perempatan-perempatan jalan, dan sebagainya. Lesbia adalah tokoh yang dibenci dalam puisi yang satu, tetapi begitu dicintai dalam puisi yang lain; dipuja dalam puisi yang satu, tetapi diserapahi dalam puisi yang lain.

 

Catullus dan Periode Emas

Catullus adalah bagian dari Periode Emas sastra Latin Klasik, masa Res publica Romana, dan secara umum berpengaruh terhadap generasi penyair sesudahnya dari masa Imperium Romanum, termasuk terhadap tiga penyair kanonik dari Periode Emas pemerintahan Augustus: Vergilius, Horatius, dan Ovidius. Bentuk-bentuk maupun gagasan-gagasan yang dieksplorasi para penyair segenerasi setelah Catullus sudah tampak dalam puisi-puisi yang ditulisnya. Tema mitologi, bentuk, dan alusi pada tokoh-tokoh Yunani dalam epik Aeneis mungkin yang paling terkenal dari periode ini, tetapi sebelum Vergilius, Catullus telah menunjukkan tema dan bentuk tersebut melalui puisi 64, sebuah puisi epik mini tentang pernikahan Peleus dan Thetis (tidak diterjemahkan dalam kumpulan ini). Sejumlah baris fragmennya bahkan kita temukan digunakan kembali, dan ditanggapi oleh penyair-penyair sesudahnya.

Kita membaca Homeros dalam bahasa Indonesia melalui terjemahan Inggris, tetapi apakah kita membaca penyair lain dari khazanah Yunani dan Romawi Kuno, yang diterjemahkan langsung ke bahasa kita dari bahasa yang mereka gunakan ketika menulis puisi-puisi mereka? Kita memang memiliki Cicero yang diterjemahkan dari bahasa Inggris, tetapi saya yakin kita membacanya bukan sebagai sastrawan Periode Emas Latin Klasik yang membawa neologisme-neologisme baru ke dalam bahasa Latin melalui penerjemahan konsep-konsep filosofis Yunani, melainkan sebagai filsuf dan politikus. (Periodisasi sastra Latin Klasik telah saya singgung secara singkat dalam pengantar Elegidia, terjemahan puisi-puisi Sulpicia yang diterbitkan Rua Aksara, 2019).

Penerjemahan puisi-puisi pilihan ini tentu saja tidak bisa menampilkan perjalanan kreatif Catullus secara utuh, tetapi sebagai sebuah usaha awal, semoga pembaca bisa mengintip dunia Romawi Kuno yang diabadikan Catullus dalam puisi-puisinya. Buku ini dilengkapi dengan puisi-puisi versi Latin (yang tentu saja sudah menjadi milik publik, dapat diakses bebas di internet), dengan tujuan paling mendasar, agar bentuk asli puisi-puisi tersebut dapat tetap “dinikmati” bersamaan dengan penelusuran terhadap gagasan-gagasan di dalamnya melalui bahasa terjemahannya. Untuk memudahkan pemahaman atas konteks, sejumlah catatan akhir, yang dianggap perlu, disertakan pada sejumlah puisi. Selamat membaca.

Additional Information

cetakan

Agustus 2019

halaman

xii+67

ISBN

978-602-6776-85-3

Judul

Catullus

penulis

Catullus

Reviews

There are no reviews yet!

Be the first to write a review

*

Delivery and Returns Content description.
logo-gambang-footer
Top