Kitab Air Pasang

Rp 60.000

0 out of 5

Puisi-puisi di Kitab Air Pasang ini mayoritas ditulis kurun 1996-2006. Ada beberapa yang ditulis setelah 2007, saat Agus Hernawan melanjutkan studi di Amerika Serikat. Setelah 2010, Agus Hernawan lebih banyak menulis artikel untuk opini Harian Kompas yang tidak berkaitan dengan puisi dan sastra. Puisi-puisi awal dan belakangan tidak ikut hadir. Selain faktor dokumentasi yang buruk, juga alasan subyektif, bahwa Agus Hernawan menulis puisi.

Category: . Tag: .

Product Description

Dan cahaya kebebasan saat ini menyinari kita, teriak Scipio dalam Africa Petrarch. Suaranya sangat merdu di telinga anak-anak jajahan yang mewarisi struktur penindasan berlapis selama berabad-abad. Kebebasan adalah uomo universale, menjadi manusia yang merayakan universalitas dirinya, terlepas dari jeruji kekuasaan mengerangkeng, yang memaksa manusia memikul beban kesengsaraan karena surga yang hilang.

Puisi dalam imperium individu, dalam konstruksi asimentris atas dunia kolektif, menjadi sangat vernacular juga partikular. Peristiwa bahasa, peristiwa puisi, menjadi penegasan ”being” yang melepas dari ”ing”. Situasi terkutuk yang jadi anak kandung modernisme ini membawa puisi tidak butuh serikat. Bahunya cukup bagi takdirnya sendiri, sebongkah batu yang dipanggul lantas digelindingkan kembali.

Absurditas eksistensi dalam model produksi budaya kapitalisme ini meludikkan puisi. Puisi dengan segala asosiasi pada kerumunan adalah benalu. Puisi harus sepenuhnya terbebas dari itu. Longing for the joys of life menjadi tantangan, juga ajakan untuk terkekeh-kekeh dalam absurditas eksistensi puisi. Peristiwa bahasa dalam puisi seolah tanpa pretensi.

Tapi, aku membawa puisi tidak sampai pada kekeh itu. Tak juga aku bisa pulang pada kelaluan. Ini tulah, juga konsekuensi geografis menghuni negeri kepulauan. Sejarah bahasa adalah sejarah datang-pergi kekuasaan, dengan puisi kadang jadi karpet merah, kadang ingin jadi cadik di antara beribu jalur perairan yang menawarkan pelarian.

Peristiwa bahasa pada puisi yang indah dan anggun sekadar lilin dalam nyala keisengan borjuasi abad ke-16. Menerangi keangkuhan segala perabot perak di atas meja makan para pembesar, didatangkan dari kekejaman di seberang lautan, dari keringat orang orang tenggelam di lubang-lubang tambang Potasi dan Ombilin, di kebun-kebun tanaman ekspor sehampar pulau Jawa, Sabuk perkebunan Sumatera Timur, dan bermacam lain.

Peristiwa puisi adalah peristiwa orang tenggelam dalam monopoli kata oleh kekuasaan. Tapi beribu jalur perairan selalu membawa gelombang air pasang, merayu tepian-tepian baru. Gairah majal tak bisa sepenuhnya membuat puisi jadi doeli, antara ”payung kuning” dan ”karpet merah” kekuasaan. Penyangkalan individu, perlambang dari dunia partikularitas, yang dirayakan sebagai uomo universale jadi kronikal kekuasaan dan indeksikal kekejaman pada tubuh-tubuh kaum pemberontak yang diikatkan di mulut meriam lantas diledakkan, kemudian para serdadu itu bersorak girang menyaksikan usus, limpa, dan daging berhamburan di bawah langit Hindustan.

Di tepian Musi, di sisi Jembatan Pampasan Perang Kolonialsme Jepang, dalam situasi internacolonialism dan democratorship, suatu demokrasi di bawah mata bayonet kaum bersenjata, aku membaca Chairil, membaca puisi-puisi generasi pascaperang, juga membaca sepenuh reruntuhan kemonarkian bahari lama. Air pasang. Kekaguman pada sebentuk kemerdekaan individu. Pergaulan dan pendewaan modernitas. Seperti kapal uap lepas dari bandar menuju “sana” sebagai depan, sang perlambang kemajuan. Rel kereta di atas sungai-sungai purba dengan lokomotif menderas memecah bukit. Jalan raya pos membelah kubur leluhur dan hutan perawan. Sawit tumbuh menggantikan hutan hujan. Tapi sepanjang usia berjalan, pun di dunia yang berada di kemajuan, peristiwa puisi adalah aku yang tenggelam.

Kutinggalkan kau, Sri di abad lalu. Kupilih jadi kelasi tanpa tuan, tanpa kapal. Aku melagu. Mencumbu kesedihan tanah-tanah kepulauan. Kupeluk pemahaman esensial tentang jarak mendasar antara kau dan tanah yang dijanjikan. O, nun di sana, tanah yang dijanjikan, kitab kemajuan, daya dan sumber inspirasi kita. 

Nyaris kesastraan di banyak bekas tanah jajahan dipenjara moral etis kolonial. Moral etis itu divaksinkan atas nama kesastraan modern. Lahirlah generasi diferensiasi. Generasi dengan klaim pada sejarah dan sibuk untuk berbeda. Generasi dengan beban menyambungkan “sini” secara permanen dalam posisi “aku tetap di lantai geladak kapal”. Generasi kesastraan yang menciptakan dirinya jadi serangga-serangga di bawah mikroskop ilmu pengetahuan. Sri, di abad lalu dan di yang akan datang, aku serangga  dalam rimba raya ilmu pengetahuan itu. Melaluimu, hanya melalui cahaya matamu, aku mengada. Menemu dunia terang. Door Duisternis too Licht.

Sejak Rafles, kekerasan modernitas diproduksi. Kuasa kosentris kuno satu per satu dianeksasi, dieliminasi, atau tetap dipelihara tapi dengan tulang punggung menekuk bak sabuk kelapa. Mitos dunia modern, sejak pangkal abad ke-20, telah mengalihkan hak monopoli produksi karya sastra. Mitos yang dibangun secara diskurisif ini, melalui tulisan dan mekanisme representasi, telah membuat kaum kepujanggaan istana lama kehilangan tubuh sejarahnya. Sebagian mengikuti junjungannya, hidup dalam pembuangan dan menulis puisi sebagai upaya terakhir mengembalikan kehormatan yang sudah terampas.

Generasi penyair-bangsawan asal gulung tikar. Lahir generasi yang tumbuh di balik kastil perkotaan kolonial. Generasi yang hidup dalam kotak-kotak hierarkis yang dikekalkan melalui prasangka, perbedaan warna kulit, dan klab-klab eksklusif yang disebut Societeit. Para terdidik lulusan persekolahan Barat yang membaca dalam Melayu dan Belanda, menulis dalam Latin dan tidak sebagaimana leluhurnya dalam aksara Jawi, pegon, atau malah Jawa kuno.

Aduhai, kapal sejarah menuju dunia baru. Kiblat memancar. Selamat tinggal astana dengan tembok-tembok benteng yang kokoh dan lawang-lawang yang dimuati meriam raja. Selamat datang masa depan. Puisiku tidak lagi untuk dokumentasi dunia di luar subjektivitas. Puisi tidak lagi mengabdi ke keagungan kaum bangsawan yang pandai bersilat dan berkhianat, tidak juga untuk menobatkan ke-erucakra-an sang pangeran yang terbuang. Puisi menyuarakan urat-darah seorang, Sri!

Puisi kota menandai akhir era Fansuri. Kemonarkian bahari terhuyung sejak keruntuhan Pajang. Demak jatuh, Rembang karam. Tuban tenggelam. Kolonialisme telah mengubur segala kitab pesisir sepanjang pantai utara Jawa. Penguasaan Selat Sunda, eliminasi kuasa konsentris sepanjang pantai timur Sumatera, dengan Aceh segera diletup perang 40 tahun yang penuh heroism itu, menyusul pesisir Barat dilumat kuasa kolonial. Setelah Sumatera dibelah partition dan repartition antara Belanda dengan Inggris, dunia bahari Fansuri yang terkubur. Puisi kota di balik tembok kastil Kota Batavia, di bawah bendera Pax Neerlandica, menemukan kenyamanan dalam subsidi kolonial.

 Sri, lupakan. Di sini, aku hanya bedil dan mulut meriam. Aku sekadar imigran di iringan sejarah para buruh paksa yang memanggul supply makanan untuk serdadu kulit berwarna dalam proyek menaklukan dunia.

Rochussen pun nyengir gembira. H.C. Klinkert, lingus-orientalis itu dikirim ke Riau, mengorek-ngorek Bahasa Melayu. Bahasa Melayu yang pernah seharum bahasa Perancis di Eropa itu dikemas menjadi komoditi kekuasaan untuk keuntungan seperti kopi dan tembakau. Zaman Etis dimulai. Nieuwenhuis, Snouck, dan Abendranon tegak di balik gelontoran dana ratusan ribu Gulden per tahun membiayai proyek hegemoni Balai Pustaka, membiayai politik bahasa kolonial, membiayai politik sastra kolonial.

Dekolonisasi di banyak negara jajahan adalah kematian yang menumpuk, darah yang menggenang. Puisi pun ikut. Tapi acap reaksi pada eksistensi itu selesai di upacara politis. Masa lalu bahari sudah kapal karam di tengah lautan. Kesastraan memilih hidup di lautan kebangsaan penuh ketegangan yang tidak terpadamkan. Bila akhirnya kini aku pun menulis, puisi-puisi ini hanyalah “…luka sekarang”, tulis Chairil dalam “Kabar dari Laut”.

Kau yang berabad-abad didendangkan. Di sini, di lantai geladak ini, orang tenggelam menulis Kitab Air Pasang.

Yogyakarta-Mataram-Pontianak, 2016-2018

AGUS HERNAWAN

Additional Information

cetakan

Mei 2019

halaman

ix + 98

ISBN

978-602-6776-58-7

Judul

Kitab Air Pasang

Reviews

There are no reviews yet!

Be the first to write a review

*

Delivery and Returns Content description.
logo-gambang-footer
Top