MERSI KUNING

Rp 55.000

0 out of 5

Naguib Mahfouz, sastrawan Mesir peraih hadiah nobel, adalah manusia kafe. Ia banyak menulis cerita pendek, bahkan novel legendaris sepanjang masa (salah satunya adalah novel Lorong Midaq), dari obrolan serta pengamatannya di sebuah kafe. Ia selalu duduk di sana, menikmati secangkir kopi, sambil melihat dan mendengarkan orang-orang bicara. Ia mengajak ngobrol, serta merekam dan mencatat tokoh-tokoh “cerita” yang akan dituliskannya dalam karyakaryanya.

Di Indonesia, kita mengenal sastrawan Kuntowijoyo,Budi Darma, dan penyair Iman Budhi Santoso. Kuntowijoyo menulis novel Pasar, berdasarkan rekaman pengamatannya di pasar-pasar  tradisional Jawa (khususnya Yogyakarta)—dan ia menulis miniatur Indonesia lewat orang-orang yang ada di pasar: para pedagang, para pembeli, mandor pasar, serta orang-orang kecil yang menggantungkan nafkhnya di sana. Kemudian Budi Darma, menulis Orang  Orang Boomington, berdasarkan pengamatannya yang jeli terhadap orang-orang  yang hidup dalam sebuah apartemen yang berisi ratusan kamar di kota Bloomington. Lalu bagaimanakah dengan penyair Iman Budhi Santoso? Penyair ini, hanya untuk menulis sebuah puisi dengan judul Janda Penjual Sayur Imogiri-Yogya, ia harus rela pergi ke jalan Imogiri pada jam 3 pagi selama hampir satu bulan, untuk mengamati para pedagang perempuan yang bersepeda dari Imogiri (dengan beban keronjot muatan sayur), menuju ke pasar Beringharjo Yogyakarta.

Menulis karya sastra (terutama prosa), adalah upaya mencatat dan mengabadikan setiap peristiwa lewat beragam karakter manusia yang menjadi tokoh-tokohnya. Maka sebagian besar para penulis, adalah sekaligus juga pengamat, peneliti, dan para pencatat yang jeli. Ia melihat, mendengar, mencari-cari, dan sekaligus “mencoba memahami” apa yang diserapnya dari hasil pengamatannya. Hasil pengamatan inilah, yang kemudian menjadi bahan dasar yang  bisa dikembangkan menjadi sebuah karya. Hampir semua penulis besar, selalu terlibat dengan realitas empiris yang dihadapinya. Ia tidak cukup memenuhi dirinya hanya dengan bacaan—hanya dengan referensi. Bahkan beberapa penulis besar, dikenal sebagai petualang yang sengaja mendatangi berbagai belahan dunia lain untuk lebih mendekatkan dirinya pada realitas. Kita mengenal petualang-petualang besar sepanjang zaman seperti Ernest Hemingway, Charles Dickens, Mark Twain, Emile Zola, dan lain-lain.

“Setiap orang adalah sebuah novel”, begitulah ungkapan sangat populer yang menggambarkan bahwa setiap orang memiliki latar belakang kisah berbeda-beda, yang jika didalami  bisa ditulis menjadi sebuah novel. Tugas dari seorang sastrawan hanyalah membuka mata, membuka telinga, dan membuka kepekaan dirinya untuk melihat hal-hal yang luput dari pandangan orang lain. Peristiwa unik, kejadian tak lazim, karakter-karakter menarik dan menyimpang dari keumuman, bisa memantik sebuah ide besar yang mungkin akan melahirkan karya besar. ***

Tien Rostini, adalah seorang guru. Setiap hari ia menyatu dengan beragam karakter murid-muridnya, yang memiliki latar belakang berbeda-beda. Tugasnya sebagai guru, menganugerahkan ia kemampuan untuk merangkul manusia (menyapa, mengakrabkan diri, membimbing dan mengarahkan).  Tentu saja, tugas istimewa harian semacam ini,  akan semakin menajamkan seluruh perangkat inderanya untuk memandang perbedaan karakter tokoh—jika kelak ia menulis karya sastra.

Faktanya, selain guru, Tien Rostini juga seorang penulis. Ia telah menghasilkan  banyak karya, terutama cerita pendek dan novel—dan di antaranya telah mendapatkan beberapa penghargaan. Tentu saja, gabungan antara naluri seorang guru sekaligus penulis, akan menghasilkan sesuatu yang berbeda jika dilihat dari karya-karya yang ditulisnya  Ia menulis dengan latar didaktik, mengedepankan empati, serta berupaya memunculkan makna positif sebagai hasil akhir dari perenungannya. Ia adalah guru di depan siswa, dan “pemetik cahaya” di depan tulisan-tulisannya. Tidak banyak penulis yang mendapatkan keistimewaan bergaul sepanjang hari dengan ratusan karakter manusia, seperti profesi seorang guru. Tien Rostini tampaknya tahu betul kelebihannya, sehingga ketika ia melebarkan dunianya pada lingkungan yang lebih luas (kota sebagai miniatur sebuah negara), ia pun tetap membidik manusia sebagai objek utama. Tien kemudian menulis “orang-orang berjalan” dengan bingkai angkot (sebuah moda transportasi perkotaan) yang menjadi latar tempat bertemunya orangorang asing dalam satu kesatuan ikatan: menuju tujuan pulang, atau pergi.

Hidup pada dasarnya adalah tujuan pulang dan pergi. Di antara dua ambang kesadaran antara pulang dan pergi inilah, Tien Rostini menempatkan posisinya sebagai penengah. Ia mencatat persoalan keseharian yang tergambar lewat karakter-karakter manusia, kemudian merangkumnya menjadi serpihan cermin-cermin kecil tempat setiap pembaca bisa berkaca. Berkaca pada kisah-kisah pendek yang dituliskan, untuk mengambil sedikit pantulan cahaya yang dipancarkan melaluinya. Pilihan angkot sebagai benang merah yang mempersatukan banyak tema di dalamnya, tentu adalah sebuah pilihan unik yang mungkin tidak pernah terbayangkan  oleh penulis-penulis lain—bahwa dari sebuah angkot, bisa tergambar beragam makna kehidupan. Di sinilah istimewanya Tien Rostini sebagai seorang penulis, ia tiba-tiba memilih sebuah dunia yang tidak terbayangkan oleh orang biasa: dunia angkot. Angkot sebagai miniatur masyarakat sebuah kota—lebih jauh, negara. Di dalam “dunia angkot” inilah, Tien Rostini berbicara tentang Indonesia.

Ada sopir sebagai penentu nasib, dan ada penumpang sebagai pemilik tujuan sementara yang  bebas untuk memilih, tetapi tetap terikat dalam sebuah kepatuhan. Dua relasi ini, kemudian diisi oleh beragam peristiwa yang ditafsirkan lewat percakapan antara supir dan penumpang, dan antara penumpang satu dengan penumpang lainnya. Masing-masing percakapan memancarkan tema yang dipilih, berdasarkan pilihan karakter unik serta kaitan peristiwa menuju pada sebuah kesimpulan yang dikehendaki. Struktur alurnya selalu tetap: para penumpang menaiki sebuah angkot, kemudian terjadi  komunikasi di antara sesama penghuni dunia angkot. Hal yang membedakan adalah silang komunikasi di antara mereka, dengan petikan karakter dan peristiwa yang menjadi pemicunya. Kita lihat contoh pada bagian pembuka buku ini, tulisan dengan judul Bicara Besar. Seorang sopir, dengan pongahnya menceriterakan tentang kepemilikan tiga angkotnya yang menurutnya, bisa mencukupi kebutuhan keseharian. Ia hendak menunjukkan kepada para penumpang, bahwa meskipun ia hanya supir angkot, tapi ia juga adalah  majikan. Bahkan dengan nada setengah merendahkan, ia hendak mengatakan bahwa dirinya adalah orang yang paling kaya di antara para penumpang karena memiliki 3 mobil.  “Sebenarnya bagiku membeli mobil itu gampang. Penghasilanku boleh dibandingkan dengan gaji ibu-ibu yang PNS ini. Lebih lumayan saya, karena punya usaha lain.” Pembicaraan sopir ini, tentu saja didengar (dan memang harus didengar) oleh seluruh penumpang. Termasuk, juga didengar oleh salah satu penumpang perempuan yang minta diantarkan pada sebuah alamat. Penumpang perempuan yang turun di depan rumahnya—rumah yang megah dengan garasi terbuka, dan sebuah mobil mahal terparkir. Tokoh aku (tokoh yang  menjadi pencerita dalam buku ini) mengatakan pada sopir, “Itu mobil suaminya. Mobil dia lagi diservis, makanya dia naik angkot.” Sebuah tamparan manis yang membuat pembaca tersenyum puas,  ketika membaca kalimat, “Itu mobil suaminya. Mobil dia lagi diservis, makanya dia naik angkot.” Ada ironi, ada kesegaran, ada unsur humor yang menyelinap, sekaligus menampar. Penulis (lewat corong tokoh utama, yakni tokoh aku), tentu tidak harus secara kejam mengatakan langsung bahwa “kamu tidak boleh sombong pada penumpang, karena faktanya dia lebih kaya darimu”, akan tetapi cukup menutup obrolan dengan senyuman manis.

Kemampuan mengemas ironi, hanya dimiliki oleh penulis cerdas. Dalam buku ini, tebaran adegan-adegan  ironi cukup  banyak bisa ditemukan. Kita lihat pada tulisan lain dengan judul Kekuasaan Sang Sopir, yang mengisahkan bagaimana perlakuan sopir ugal-ugalan yang sangat suka berkata kasar kepada penumpang. Ia bahkan berani mengomel dan membentak. Seorang penumpang perempuan, yang pada saat itu melamun sehingga melewati gang yang seharusnya ia berhenti, dibentak oleh sopir dengan kalimat: “Ibu, jangan seenaknya, kalau mau turun jangan memberi tahu mendadak. Untuk menghentikan mobil bukan seperti ibu berjalan, bisa langsung berhenti!” Tidak cukup dengan adegan itu (yang membuat pembacanya mengelus dada), ketika seorang penumpang lain—digambarkan oleh penulis, penumpang itu perempuan paruh baya yang membawa banyak belanjaan—meminta diantar sampai depan rumah, Sang Sopir berkata: “Inilah, para penumpang cerewet. Penumpang berlagak pemilik mobil, seenaknya menyuruh-nyuruh sopir. Beli mobil dulu, Yuk, kalau mau mengatur seenak diri!” Lalu bagaimanakah Tien Rostini bersikap, melalui tokoh aku, ketika melihat pemandangan semacam ini? Si Ibu paruh baya berani membayar ongkos tambahan 15 ribu, karena ia tersinggung. Sementara tokoh aku, memilih turun sebelum  sampai ke tempat biasanya berhenti, dan menyetop angkot lain sambil berkata (di dalam hati):  Aku berharap hanya satu sopir yang berperilaku seperti itu. Siapa dan bagaimana pun penumpang berhak dihormati dan dilayani dengan baik. Banyak hal di “dunia angkot” bersama liku-liku para sopirnya yang tidak kita ketahui. Ada ketengilan, kerakusan, kesombongan, tapi sekaligus juga kemuliaan. Membaca bagaimana sopir terpaksa membawa anaknya (usia balita) saat bertugas karena istrinya juga harus bekerja, membuat kita menjadi iba. Menyimak seorang sopir yang dengan cekatan membantu penumpang, mengantarkan dengan gembira setiap penumpangnya hingga ke depan pintu (meskipun harus melewati gang sempit berliku),  menggratiskan ongkos bagi seorang anak sekolah lantaran “kasihan, sekolahnya jauh, dan orangtuanya tidak mampu”—adalah contohcontoh ahlak-ahlak yang membuat pembacanya trenyuh.

Ada sopir yang ternyata adalah seorang PNS—harus nyambi menjadi sopir lantaran gajinya tidak cukup. Ada sopir yang ngantukan sehingga para penumpang dengan riang gembira menghiburnya, dan menyuruhnya minum kopi di sebuah warung agar semuanya selamat sampai tujuan. Perayaan kesedihan, kejengkelan, kegembiraan, dan keharuan, yang tergambar dari relasi antara sopir dan penumpang, turut memperkaya kepekaan dan kemanusiaan kita. Di titik itulah, fungsi sastra menemukan perannya. Joni Ariadinata, Redaktur Majalah Sastra Horison

Category: . Tag: .

Product Description

Berbeda dengan buku-buku yang terdahulu (kumpulan cerita pendek, novel, dan cerita rakyat), buku Tien Rostini kali ini, dengan judul besar Mersi Kuning, bukanlah murni cerita pendek, dan bukan juga sebuah novel. Ia lebih mirip kumpulan sketsa dengan gaya penuturan khas seorang penulis cerita pendek. Lintasan peristiwa yang cepat (sekali tebas untuk satu tema), penggambaran latar minimalis tetapi cukup untuk menghidupkan suasana, serta tangkapan karakter pada tiap tokoh disertai kelincahan dalam memainkan dialog antar tokoh; merupakan ciri khas yang sangat mewarnai. Itulah gaya narasi yang secara umum  dilekatkan dalam  buku ini.  Ia meramu fakta menjadi kisah yang menarik untuk dibaca. Ia melewati teknik fisi, untuk mengungkap fakta yang benar-benar ada dan bisa ditelusuri.

Tien Rostini tidak menghilangkan jejak fakta yang direkam dari hasil pengamatan, tapi ia juga tidak menghilangkan unsur fiksi yang merupakan daya tarik utama dalam teknik penulisan. Tentu saja, gaya tulisan semacam ini hanya bisa dilakukan oleh seorang penulis yang telah memiliki kebiasaan panjang (serta kemampuan) dalam menulis karya sastra. Bagi sebagian besar para cerpenis dan novelis, variasi perpindahan jenis tulisan semacam ini memang hal yang biasa dilakukan. Perpindahan gaya pada momen tertentu, bisa menjadi sebuah jeda bagi tantangan kreativitas yang cukup menarik.

Additional Information

cetakan

Januari, 2020

halaman

xix + 107

ISBN

978-602-6776-95-2

Judul

Mersi Kuning

penulis

Tien Rostini

Reviews

There are no reviews yet!

Be the first to write a review

*

Delivery and Returns Content description.
logo-gambang-footer
Top