Secangkir Bintang V1.7

Rp 55.000

0 out of 5

Sedikit Pembuka

Sinta Ridwan

 

Untuk Senja Hatiku: Kutunggu kau/ di rumah mungil itu// Aku akan siapkan kayu untuk perapian nanti malam// Dan secangkir bintang/ untuk kita berdua// Dari Embun Pagimu – Ujungberung II, 26 Mei 2009

Setiap malam tiba, hal pertama yang aku cari adalah keberadaan bintang-bintang. Kami seolah saling menyapa: Bagaimana kabarmu hari ini? Indah? Ya, aku dan bintang seperti memiliki keterikatan yang dalam. Selain bintang, sahabatku yang lain adalah senja, Manglayang, awan putih, langit biru, pelangi, hujan, mentari, angin, naskah kuna, tanah, laut, camar, elang, dan naga. Aku juga punya seorang kekasih, Embun Pagi namanya. Namun, sebenarnya hanya satu pelindung hati dan semangat jiwa, bintang itulah.

Lalu mengapa harus secangkir? Bukan seember, segelas, semangkuk, atau selangit. Alasannya, karena hidup ini sebentar. Seperti ukuran cangkir kecil yang dalam dan melengkung. Waktu ini sempit. Ibaratnya, duniaku hanya sebesar cangkir. Dan mimpi-mimpi yang ada dalam hidupku seperti sedang memenuhi cangkir dengan bintang-bintang penuh warna. Sedih, suka, senang, bahagia, masa lalu, masa kini, dan amarah. Sengaja aku beri warna-warna pada si hidup agar menambah cita rasa bintang dalam cangkirku.

Ya, secangkir bintang. Dua kata inilah yang mewakili perasaanku dalam judul naskah yang berisikan kumpulan tulisan pendek dan ringan selama perjalanan empat tahun dari 2006 hingga 2009. Dan ini adalah naskah pertamaku. Anakku sendiri, yang lahir dari seluruh tubuhku, berbaur dengan apa yang ada di dekatku.

Inspirasi untuk menulis “katakanlah” puisi, selalu datang tanpa terdeteksi sebelumnya. Ketika muncul, aku hanya sanggup mempersilakan mereka masuk ke dalam ruang imajinasiku. Entah, menarik atau tidak bagi orang lain. Setidaknya aku bersikap jujur untuk mengungkapkan apa yang aku lihat, apa yang aku dengar, apa yang aku rasa, apa yang aku sentuh, apa yang aku pikir, dan apa yang aku mimpikan pada saat itu juga. Langsung kutuang ke dalam cangkir. Entah berasa pahit, manis, luka, atau ceria.

Kuyakini, jika imajinasi, mimpi, khayalan, dan ambisi merupakan anugerah yang dimiliki setiap makhluk hidup. Bila dikolaborasi suasana hati akan menjadi lebih berwarna. Hidup semakin lebih hidup.

Coretan tulisan ini berasal dari apa saja yang aku rasa dan merupakan hal-hal sederhana di kehidupanku sehari-hari. Aku sedang belajar dan mencoba menuangkan isi tentang hal-ihwal di hadapan juga di belakang, mulai dari mata lalu ke otak, ke hati kemudian membentuk kata-kata. Bagiku, si pengidap ill communication stadium tinggi, menulis adalah bentuk ekspresi dari pelampiasan kata-kata yang tertahan, tak terucap, terpendam, lama mengendap, lalu menggunung dalam tubuh.

Melalui tulisan yang sedikit malu-malu kucing ini, aku mengakui bahwa anak-anakku yang didokumentasikan dalam secangkir bintang dianggap sebagai bentuk puisi sederhana, yang akhirnya mampu kutuang semuanya. Dan aku merasa plong. Lega rasanya.

Teramat bahagia, ketika melihat ada makhluk-makhluk hidup lainnya mau menyisakan waktu membaca coretan ini. Bagiku, itu adalah bentuk dari perhatian yang tak dapat dibalas dengan apapun. Mungkin, hanya bisa memberikan senyuman paling manis yang dimiliki dan bisikan terima kasih atas semua yang telah membantu dan menemani selama proses pembuatan dan kelahirannya anak kecil ini.

Kepada semua yang sudah pernah main ke duniaku, membaca tulisan-tulisannya, menggenggam secangkir bintang, menyeruput dan turut menambah rasa warna-warni bintang dalam cangkir ini, kuucapkan: Hatur nuhun pisan.

 

Ujungberung II, 23 April 2009

Category: . Tag: .

Product Description

Kumpulan Puisi

Sinta Ridwan

Additional Information

Judul

Secangkir Bintang V1.7

penulis

Sinta Ridwan

cetakan

ketujuh, Juli 2017

halaman

xxx+320

ISBN

978-602-6776-46-4

Reviews

There are no reviews yet!

Be the first to write a review

*

Delivery and Returns Content description.
logo-gambang-footer
Top