Shop

Showing 1–12 of 33 results


  • Cerpen Badriyah Rp 55.000

    Ada seni menulis, ada seni membaca. Adalah seni membaca yang menentukan makna tulisan. Menghadapi cerita-cerita Ayu Weda, saya menerima cerita-ceritanya sebagai cerita berdasarkan pengalaman, penghayatan, dan pengamatan seorang perempuan Indonesia dalam perjuangan eksistensialnya—yakni mengada dengan cara menyatakannya.

    Cerita-cerita ini menunjukkan bagaimana subjek keluar-masuk dunia objektif yang diungkapnya, antara dingin dan emosional, terharu dan bingung, kritis dan lebur silih berganti, dalam pergulatan untuk mendapatkan kejernihan dan pencerahan di dunia yang amburadul. Selengkapnya

     

  • Pendidikan karakter menjadi trending topik dalam pemerintah sekarang karena disadari bahwa membangun karakter tidak mungkin dilepaskan dari maju mundurnya sebuah bangsa dan menjadi amanat para faunding fathers kita untuk diwujudkan. Pendidikan karakter dalam kurikulum sekolah tidak dibelajarkan secara mandiri sebagai mata pelajaran tetapi dimasukkan ke dalam seluruh mata pelajaran yang sudah ada, dalam hal ini Pelajaran Sastra Indonesia. Pemilihan bahan ajar sastra berbasis karakter dalam buku ini sudah melalui desain yang panjang, dimulai dari studi pendahuluan yang bertujuan melihat kemampuan siswa, dilanjutkan need analysis, dan workshop yang diselenggarakan di SMKN II Klaten pada tanggal 19 Mei 2015. Diharapkan buku sastra Indonesia berbasis karakter yang disusun ini dapat dioperasionalkan secara mudah dan menyenangkan. Seluruh bahan ajar yang dipilih di dalam buku ini disesuaikan dengan karakter yang akan dibelajarkan. Pada bagian akhir buku ini juga disertakan lampiran bahan ajar alternatif untuk sastra Indonesia SMA, SMK, MA.

    Sale!
  • Catatan
    Tahun 1999 kumpulan puisi “Di Atas Umbria” diterbitkan Indonesia Tera untuk pertama kalinya. Kumpulan ini berisi puisi-puisi yang sebagian besar merupakan catatan perjalanan saya ke sejumlah tempat. Dengan keterbatasan halaman yang ditetapkan penerbit waktu itu, puisi-puisi dari periode ini terpaksa saya seleksi secara ketat sehingga tidak semua bisa termuat. Alhamdulillah, sambutan publik sastra terhadap kumpulan ini lumayan baik. Tahun 2001 kumpulan puisi ini mengalami cetak ulang.

    “Di Atas Umbria” sudah belasan tahun menghilang dari pasaran, sementara yang menanyakan kepada saya tentang keberadaan serta di mana dapat memperoleh kumpulan puisi tersebut semakin banyak. Sejak beberapa tahun lalu saya sudah punya keinginan menghadirkan kembali kumpulan ini kepada publik sastra, namun selalu tertunda. Ketika tahun 2010 kebetulan bertemu dengan Dorothea Rosa Herliany dari Indonesia Tera, saya sempat meminta izin seandainya sekali waktu “Di Atas Umbria” akan dicetak lagi, meskipun pada saat itu belum jelas siapa penerbitnya.

    Dalam edisi baru yang diterbitkan Penerbit Gambang, kumpulan puisi ini mengalami perubahan. Selain memperbaiki kesalahan kecil yang sifatnya teknis serta sedikit revisi untuk satu dua puisi, juga ada penambahan 13 puisi yang tidak termuat pada cetakan pertama dan kedua. Penambahan ini dimaksudkan agar “Di Atas Umbria” lebih utuh sebagai kumpulan. Puisi-puisi tambahan semuanya ditulis pada periode maupun atmosfir penciptaan yang sama, dan secara tematik sangat berkaitan. Dengan demikian edisi ini menjadi sedikit lebih tebal dibanding cetakan sebelumnya.

    A.Z.N.

  • Buku kumpulan puisi Syarifuddin Arifin

  • Hikayat Anak-anak Pendosa memiliki sebuah eksplorasi yang berani dan menjanjikan.
    Tia Setiadi – Penyair dan Kritikus Sastra

    Banyak hal yang harus diperhitungkan di dalam menulis puisi. Tidak sekedar bergagah-gagahan dengan kata, atau menggarap tema “Nyeleneh” puisi harus memiliki karakter sendiri. Karakter di mana kita bisa membaca perjalanan penulisnya. Puisi-puisi dalam buku HikayatAnak-anak Pendosa cukup nikmat untuk dibaca. Waktulah kelak yang akan mengantar penyairnya untuk di uji.  Apakah mampu bertahan dan makin kokoh?
    Oka Rusmini – Novelis dan Penyair

    Buku puisi Muhammad de Putra, Hikayat Anak-anak Pendosa, akan menjadi buku puisi yang saya simpan di rak khusus bersama buku-buku puisi lain dari penyair Indonesia yang saya sukai.
    Cecep Syamsul Hari – Penyair

  • Buku ini merupakan kumpulan geguritan (puisi berbahasa Jawa) yang ditulis antara lain oleh: Prof. Dr. Agus Nuryatin, M.Hum. (Univ. Negeri Semarang), Prof. Dr. H. Bani Sudardi, M. Hum. (Univ. Sebelas Maret Surakarta), Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd. (Univ. Negeri Malang), Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum. (Univ. Negeri Jember), Prof. Dr. Suminto A. Sayuti (Univ. Negeri Yogyakarta), Prof. Dr. Suwardi Endraswara, M.Hum. (Univ. Negeri Yogyakarta), Drs. Pardi Suratno, M.Hum. (Kepala Balai Bahasa Yogyakarta), Budhi Setyawan (Depkeu RI), dan beberapa penggurit lainnya. Buku ini dikuratori oleh Dr. Esti Ismawati, M.Pd.

    Sale!
  • Puisi-puisi dalam kumpulan ini ditulis dengan penuh kekhusyukan dan kesiagaan. Bagaimana upaya penyair memilih tema, menentukan rancang bangun serta mengolah kata-kata sebagai bahan baku puisinya, dengan jelas telah menunjukkan adanya kekhusyukan dan kesiagaan itu. Dengan demikian frasa-frasanya yang terkesan sederhana menjadi terasa kaya, berwarna dan bermakna ganda. (Acep Zamzam Noor)

  • Cerpen Kastagila Rp 35.000

    Buku kumpulan cerita Muhammad Qhadafi.

  • “Aku tahu kau suka hal-hal gila dan irasional, seperti ayahmu dahulu. Ingatlah, bahwa setiap tanda selalu membawa isyarat. Setiap isyarat membawa kebenaran yang akan tenggelam,”
    Cerpen Lawalata – Ferina Meliasanti

    Berpangkal dari warna hidup manusia. Dilema dan lema yang berpusaran pada cerita akan mengantarkan pada sesuatu yang dekat dan mungkin terabaikan. Sisi-sisi lain manusia dielaborasi lalu dihadirkan dalam beragam bentuk persepsi. Mulai dari tubuh sebagai identitas keyakinan pada cerpen “Sunat”, hingga pertanyaan-pertanyaan tentang esensi sebuah relasi pada cerpen “Manusia Terakhir”. Semua disajikan dalam dimensi bernama keluarga. Keluarga yang tidak hanya memperlihatkan hubungan darah emosional. Lebih daripada itu, keluarga yang menghadirkan ekspresi cinta dan kebencian dalam bentuk pengalaman dan amatan. Keluarga yang kemudian dibaca dan dilafalkan sebagai: Keluarga Owig.

  • Buku kumpulan cerita Toni Lesmana

  • Mizraim diarak ke alun-alun. Pengadilan terbuka, seperti yang sering terjadi di desa itu, bukanlah tempat untuk membuktikan bahwa seseorang tidak bersalah melainkan sebuah usaha untuk mendesak seseorang mengaku. Di tiang gantung Mizraim berteriak-teriak bahwa ia tak bersalah; bahwa penduduk desa tak tahu berterimakasih. Ia menyebutkan jasa-jasanya di medan perang, menyebut nama teman-temannya yang mati, mengutuk betapa anak muda zaman sekarang tak menghargai jasa pahlawan yang membuat mereka bisa hidup tanpa ancaman. Mizraim baru diam saat tali menyentuh kulit lehernya. Ia menelan ludah. “Seperti dugaanku, kalian bersekongkol untuk membunuhku. Tapi, kenapa baru sekarang?”
    Orang yang Ingin Mati sebagai Pahlawan
    Ia mulai membuka kios setelah putus asa mencari kerja selama satu tahun pasca lulus SMA. Kemarau pencari kerja yang tekun, sebenarnya, selain itu ia rajin sembahyang dan selalu bangun saat mendengar adzan subuh. Sesungguhnya ia layak menuntut keadilan pada Tuhan atau memprotes ibunda tercinta mengapa ia dilahirkan ke dunia. Tetapi ia tidak melakukannya. Ia bukan orang yang mau berdebat dengan nasib. Kedua orangtuanya lalu menyarankan agar ia menikah saja, mereka percaya pernikahan akan membuka pintu rezeki. Meski Kemarau tak menolak ide itu, toh ia tetap belum menikah hingga detik ini. Bukan karena tak ada perempuan yang mau. Soal asmara, ia punya keyakinan sendiri.
    Jam Sibuk

     

  • Azwar R. Syarifudin.


Showing 1–12 of 33 results

logo-gambang-footer
Top