Shop

Showing 13–24 of 30 results


  • Sajak-sajak dalam antologi puisi Matahari Sebutir Pasir ini bisa saya katakan sebagai sajak-sajak yang terselamatkan. Sejak menulis puisi di bangku sekolah menengah, saya tidak pintar mendokumentasikan karya sendiri—bahkan mungkin kesadaran pentingnya menyimpan sebuah karya tidak ada dalam benak saya kala itu. Hal itu dikarenakan saya terlibat dalam gerakan pelajar dan berlanjut menjadi seorang aktivis, pada masa yang menuntut atau menyita waktu saya berlebihan, juga pikiran, tenaga dan jiwa saya sendiri, sehingga intensi saya terhadap puisi menurun akibat seringnya turun ke jalan dan merapat dalam kumpulan para aktivis, seniman dan budayawan pada masa transisi politik di negeri ini.

     

    Meski proses kreatifitas saya tersenda-sendat oleh idealisme politik-aktivisme yang saya hayati sebagai kewajiban anak bangsa, pada saat yang sama saya ikut menjadi pemimpin redaksi Senthir, jurnal kebudayaan untuk pelajar pada masa itu, serta meluangkan waktu mengirimkan tulisan, baik puisi, cerpen dan esai ke media massa dan majalah sastra. Sekarang, yang terlacak dari proses kepenyairan saya di masa pelajar tersebut dapat dijumpai pada sejumlah buku antologi seperti Horison Kakilangit (2001), Bengkel Sastra (1998), Pelajar mengenang Chairil (1998). Selebihnya telah lenyap, tidak terlacak lagi.

     

    Bagi saya sekarang, kepenyairan harus sungguh-sungguh diperjuangkan dan tidak bisa dianaktirikan. Saya tersadarkan oleh pernyataan Saini K.M, “Kepenyairan tidak terwujud berdasarkan keingintahuan saja, kepenyairan juga bukan karena menguasai dengan baik teknik menulis puisi. Kepenyairan lebih berdasarkan pada Panggilan!” Saya tidak memungkiri, proses kepenyairan di masa pelajar masih sebatas keinginan dan tujuan-tujuan sederhana. Meski begitu, pergulatan saya di ranah perpolitikan juga tidak luput dari pernyataan Chairil Anwar yang berkata, “Tiap seniman harus seorang perintis jalan, tidak segan memasuki hutan rimba penuh binatang buas, mengarungi lautan lebar tak bertepi, seniman ialah tanda hidup yang melepas bebas!”

     

    Saya yang melibatkan diri dalam politik, turun ke jalan, tanpa sadar telah menafikan akan pentingnya sebuah sajak berhadapan dengan kekuasaan. Saya juga memaklumi, masa itu adalah masa pencarian, di mana saya masih memandang segala kemungkinan dan ketepatan dengan sebelah mata. Sajak-sajak dalam antologi ini, yang saya tulis dari tahun 1996-2010, merekam peristiwa-peristiwa Orde Baru, tumbangnya dan masa transisi yang berliku, baik yang saya terlibat langsung atau pun tidak. Di samping rekaman peristiwa itu, terdapat tema terkait persoalan-persoalan cinta, transformasi desa-kota, spiritualitas, dan lain sebagainya.

     

    Bisa dikatakan, saya adalah seniman yang bangkrut atas keteledoran saya. Saya banyak kehilangan tulisan-tulisan saya mengingat saya senang berkeliaran kesana-kemari, bertemu kawan yang kamarnya saya pinjam untuk tidur atau berkarya. Selama kepenyairan, saya juga mengalami goncangan hebat yang membuat saya patah dan surut semangat atas hilangnya tiga kumpulan sajak saya, yang dipinjam kawan perempuan. Bagi saya karya itu sangat penting dan berharga, semoga yang termaksud dapat mengetahui hal ini dan bisa secepatnya mencari dan mengembalikan untuk memulihkan harapan dan mimpi-mimpi saya.

     

    Sajak-sajak dalam kumpulan sajak ini saya temukan dalam simpanan kawan saya, Andi Magadhon, yang tertinggal di rumahnya. Saya sangat berterima kasih kepadanya serta pihak-pihak lain yang tidak bisa saya sebutkan. Harapan saya, semoga kumpulan sajak ini bermanfaat dan semakin memperkaya dunia sastra di tanah air Indonesia.

  • PROLOG

    Ketika kupijakkan kaki di gerbang sekolah ini untuk pertama kalinya semenjak lima tahun silam, seseorang menepuk pundakku dari belakang.

     “Jonat!” Mudah saja aku mengenalinya. Dia masih konsisten pasang tampang tanpa ekspresi. “Hei! Kupikir kamu nggak bakalan datang reuni. Dengar-dengar, kamu kuliah di luar negeri?”

    “Begitulah. Aku datang sebab aku punya utang denganmu. Saat kemari, aku berharap kau belum bunuh diri. Dan harapanku terkabul.”

     “Terimakasih soal harapanmu itu. Tapi maaf, aku ngerasa belum pernah pinjami kamu uang.”

    “Ingatkah kau, ketika malam itu kau berdiri di pinggir jalan seperti orang gila yang memukuli wajah sendiri? Ingatkah kau, kalau semenjak malam itu kau jadi begitu susah diajak omong, jadi pendiam, penyendiri, serupa orang putus asa? Ingatkah kau, kalau malam itu catatan harianmu tertinggal di tasku?”

    Aku diam sejenak. Memori buruk itu menghantuiku kembali. Lalu kujawab dengan terbata-bata, “Oh, ya ya ya! Catatan harian. Itu yang kamu maksud utang?”

    “Persis. Dan sekarang tulisannya telah luntur, tak terbaca.”

    “Santai, Jon. Lupakan saja. Sekarang ayo kita masuk, cari kawan-kawan lainnya.” Aku berusaha mengalihkannya dari bahasan soal masa lalu suram.

    Belum sempat kami melangkah masuk, Jonat lebih dulu mengeluarkan sebuah buku dari tasnya. “Ini, kukembalikan padamu. Anggap utangku lunas.” Ia sodorkan kepadaku seraya menjelaskan, “Aku ketik ulang catatan harianmu. Beberapa kuubah sesuai selera estetisku. Ada yang kuhapus, ada yang kutambahkan. Karena kau lipat setiap awal bulan Agustus, maka pada sampul depannya kutulis ‘Melipat Agustus’.”

    Aku telah bersusah payah melupakan diriku yang lampau. Sedang kini, segalanya kembali ke genggamanku. Tanganku menggigil menerima buku catatan harian itu.

  • Aku lahir bukan dari tanah
    Tapi paham bahwa manusia sebermula tanah
    Lahirku dari kegembiraan yang sakral
    Menunggu bulan, memelihara kesucian

    Kelahiranku adalah awal pengorbanan
    Perjuangan merenda usia sampai renta
    Memupuk kesadaran demi kesadaran sebagai kodrat
    Manusia hidup dalam kegelisahan

    Tujuan akhirnya mencari jalan pulang
    menyusuri liku-liku kehidupan, peradaban yang mencekam
    meniti cukang menuju tanah lapang
    berdesakan menuju pintu yang sempit untuk dimasuki.

    Demikianlah pada akhirnya
    Kelahiran bukan hanya untuk dirayakan.

  • SEPANJANG jalan, ia mencatat sebuah kalimat. Kemudian memungut diksi, mencium aroma kematian dan menjadikannya bait-bait ingatan. Itulah hakikat seorang pejalan yang digambarkan Yopi Setia Umbara dalam kumpulan puisi Mengukur Jalan, Mengulur Waktu (2015). Bisa dipastikan keseluruhan puisinya bertaut antara diri (aku), perjalanan, dan ingatan tentang perjumpaan.

    Untung saja, Yopi memaknai itu semua dengan mata seorang penyair. Ia bergerak dari ruang material hingga ke ruang batin paling intim. Seperti sebuah renungan ikhwal perjalanan mencari diri. Menariknya, seorang penyair ketika merumuskan, memaknai dan mengingat waktu akan berbeda dengan seorang fisikawan dan pebisnis. Misalnya, dalam teori relativitas ala Eintens bahwa “duduk di tungku api lebih lama dari duduk di dekat seorang perempuan cantik”. Seorang pebisnis (entreprener) akan merumuskan “waktu adalah uang”. Apakah Yopi mirip pemain sepakbola (Indonesia) yang melulu mengulur waktu ketika berada dalam sebuah pertandingan? Selengkapnya

  • Parabel Carventes dan Don Quixote merupakan kumpulan cerpen karya Jorge Luis Borges yang diterjemahkan oleh Lutfi Mardiansyah.

    Dipilih dan diterjemahkan dari Collected Fictions of Jorge Luis Borges (Penguin Books, London: 1999) dan The Book of Imaginary Beings (Penguin Books, London: 1974).

    Berisi beberapa cerpen: “Zahir”, ” Pencarian Averroës”, “Aleph”, “Kitab Pasir”, “Yang Lain”, “Simurgh”, “Bahamut”, “Burak”, ” Haniel, Kafziel, Azriel, dan Aniel”, ” Uroboros”, ” Legenda”, dan sembilan cerpen lainnya.

    Silakan unduh terjemahan cerpen “Zahir”.

  • Buku ini dibuka dengan pemahaman umum secara historis, praktis, dan kritis mengenai pascakolonialisme, Dari pemahaman tersebut, buku berpendar untuk menggagas beberapa teori pascakolonialisme seperti Orientalisme, Identitas, Subalternitas, Politik Spasial, Realisme Magis, dan Sastra Perjalanan.

    Orientalisme, dalam pandangan Edward Said, dapat dilihat secara ringkas sebagai suatu cara pandangan Barat terhadap timur sehingga wacana di dalamnya mengandung kekuasaan kolonial atas bangsa Timur, pandangan tersebut melihat, membayangkan, menekankan, membesar-besarkan dan mendistorsi perbedaan antara masyarakat serta budaya Timur (terutama bangsa Arab) dengan bangsa Eropa Barat. Sementara itu, Bhabha meyakini kekuasaan kolonial tersebut pasti akan berdampak pada identitas bangsa dari masyarakat Dunia Ketiga. Namun, sebagai seorang dekonstruksionis, Bhabha menunjukkan bahwa krisis tersebut dapat menjadi alat resistensi yang menghancurkan dominasi kekuasaan kultural dalam identitas bangsa Dunia Ketiga tersebut. Akan tetapi, Dunia Ketiga sendiri sangat identik dengan orang-orang Subaltern, sehingga Gayatri C. Spivak, menjelaskan adanya proses politis yang justru memanfaatkan orang-orang tertindas sebagai alat untuk melanggengkan suatu kekuasaan.

    Selain masalah-masalah tersebut, teori pascakolonial juga merambat pada dimensi ruang, di mana ada kajian ruang yang dikembangkan oleh Sara Upstone, Realisme Magis oleh Wendy B. Faris, dan juga Sastra Perjalanan oleh Carl Thompson. Ketiganya merupakan perkembangan dari teori kritis pascakolonialisme. Tentu saja, semuanya ditulis di dalam buku ini, baik ulasan teoretis dan contoh penerapannya dalam karya sastra. Inilah yang menjadi kekuatan buku ini. Buku ini adalah suatu pendulum yang cukup lengkap dan sangat membantu dalam perluasan pemahaman kajian pascakolonialisme.

  • Tema-tema identitas yang muncul merupakan bagian dari problem yang disebutkan di atas. Kontestasi antargender, etnis, dan agama, yang semua merupakan ekspresi kebebasan yang terbuka setelah Orde Baru, telah menjadi masalah di kemudian hari, terutama konflik horisontal di kalangan masyarakat, yang kemudian disebut dengan istilah “populisme”. Masalah ini tentu bersumber bukan dari nilai-nilai budaya identitas tadi semata, tetapi terutama berkaitan dengan masalah ekonomi dan politik. Di sinilah sastra perlu hadir untuk merenung dan bertanya tentang akar masalah dari fenomena ini, tentang perlunya semangat keadilan dan kemanusiaan yang berangkat dari diagnosa terhadap model ekonomi dan politik yang berbeda. Jika sastra berpaling muka dari problem-problem tersebut—dengan melahirkan karya-karya yang tidak kritis— mungkin tak mengubah posisi sastra di hadapan publik, namun secara substansial sastra bukan lagi jalan keluar dari masalah melainkan justru menjadi bagian dari masalah tersebut.

    Tak ada pilihan lain bagi kita selain kembali menjadi kritis di tengah keterasingan dan eksploitasi ekonomi yang bekerja secara virtual serta banjir informasi yang tidak baik. Dalam kerangka tersebut, mayoritas/minoritas dari kita bukan lagi dipandang Jawa/Cina, laki-laki/perempuan, Islam/Kristen, tapi kaum miskin yang tidak sadar dirinya miskin yang harus menjalani hidup dengan menggunakan hal-hal yang bukan miliknya: kontrakan, kafe, motor, kulkas, bahkan pengetahuan, bahasa, dan ideologi. Semua kita peroleh secara kredit; betapa pun nyaman, semua barang itu adalah pinjaman yang belum kita lunasi.

    Di tengah kondisi itulah puisi-puisi Irwan Segara yang terkumpul dalam antologi Perjalanan Menuju Mars (Gambang, 2018) hadir sebagai karya yang menyegarkan dan layak disambut dengan baik. Tentu belum sehebat Pablo Neruda dan Nizar Qabbani (meski tebakan saya Irwan dipengaruhi oleh keduanya), tapi cukup mewakili semangat kritis terhadap kondisi zamannya yang dikemas dalam ungkapan yang jelas dan langsung serta dengan sentuhan liris yang indah. Penalaran yang logis dengan penggambaran yang realis amat dibutuhkan untuk memasuki kenyataan, dan gaya lirisnya dapat membantu pembaca untuk bertahan merenungkan keadaan yang sering tidak manusiawi.

    (Muhammad Aswar, Penyair)

  • Mutia Sukma, lahir di Yogyakarta, 12 Mei 1988. Lulus di Jurusan Sastra Indonesia UNY. Pendidikan terakhirnya ditempuh di Pascasarjana Ilmu Sastra, UGM. Menulis puisi dan esai sastra yang di publikasikan di beberapa koran, majalah dan antologi bersama. Mendapat sejumlah kejuaraan juga penghargaan di bidang pembacaan puisi, penulisan puisi, serta pendidikan.

  • Percayalah, di balik laku spiritual yang mesti ditempuhnya, di balik napas puisinya yang selalu menyiratkan pemahamannya akan kosmologi Hindu-Bali, Mira hanyalah manusia biasa. Perempuan kurus dan cerewet ini bagi saya adalah perempuan konyol, lengkap dengan kisah hidup konyolnya. Salah satu pesan Mira kepada pembaca adalah: bacalah Pinara Pitu sambil bakar dupa dan jangan pernah membaca Pinara Pitu tanpa ditemani secangkir kopi. Konyol, bukan? Sekonyol dia yang sedang asyik-asyiknya belajar menenggak kopi, sekonyong-konyong bila kopi adalah hal paling memabukkan di bumi selain puisi.
    (Komang Ira Puspitaningsih dalam Epilog Pinara Pitu)

  • Indrian Koto lahir 19 Februari 1983 di Kenagarian Lansano, kampung kecil di Pesisir Selatan Sumatra Barat. Menyukai sastra dan terus belajar mendalaminya. Lulusan Sosiologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Aktif di Rumahlebah Yogyakarta dan Rumah Poetika. Tulisannya berupa cerpen dan puisi dipublikasikan di media masa juga termuat dalam beberapa antologi bersama. Mengelola toko buku sastra online jualbukusastra.com, serta mengurus beberapa kegiatan di #KedaiJBS. Mendirikan penerbit alternatif MK Books dan Penerbit JBS. Pleidoi Malin Kundang merupakan antologi puisi tunggal pertamanya.

  • Boleh dikata, “Rahasia Dapur Bahagia”, kumpulan puisi dengan tiga segmen. Segmen Rahasia, ensiklopedi deskriptif historik. Segmen Dapur, ensiklopedi deskriptif kulinerik. Segmen Bahagia, ensiklopedi deskriptif konklutif kisah-kisah, logistik dalam teks tradisi, dan rasa bahagia karena ketersediaan sarana bahagia. Alam dan tanaman, alam dan satwa, alam dan manusia. Suatu sambungan kesadaran reportatif, historik, dan logistik yang menjadi satu paket rahasia-rahasia pusat kebahagiaan. Ada pada pucuk lidah. Bisa pengecap cicipan, citarasa kunyahan, ataupun silat perkataan. Betapa licinnya pucuk lidah.

  • Buku kumpulan cerita Kun Andyan Anindito


Showing 13–24 of 30 results

logo-gambang-footer
Top