Teori

Showing all 8 results


  • Terdapat kekuatan besar yang mengatur dan beroperasi dalam kebudayaan global, termasuk kebudayaan kita di dalamnya. Kekuatan tersebut, dalam salah satu versinya disebut biopower, suatu kekuasaan (dan kekuatan), yakni “organ hidup” dalam tubuh kebudayaan yang melahirkan berbagai pemikiran, tindakan, bahkan hingga ke hal-hal perasaan. Berbagai ideologi yang bersaing, dan terutama yang dominan, merupakan efek lanjutan biopower. Terbentuklah suatu kebudayaan yang asimetris, hierarkis, dan eksploitatif.

     

    Dalam situasi tersebut, kita perlu mendorong dan memperkuat biokultural, energi hidup yang selayaknya dijadikan substansi utama tubuh kebudayaan kita. Suatu energi positif yang hidup dalam pribadi kita masing-masing. Energi rasa senang, suka, sayang, gembira, dan cinta, yang diharapkan dapat menjadi pesaing berhadapan dengan kekuatan lanjutan dan implikasi biopower. Dalam semangat tersebutlah berbagai esai yang terkumpul dalam buku ini saya tulis dan persembahkan.

  • Pendidikan karakter menjadi trending topik dalam pemerintah sekarang karena disadari bahwa membangun karakter tidak mungkin dilepaskan dari maju mundurnya sebuah bangsa dan menjadi amanat para faunding fathers kita untuk diwujudkan. Pendidikan karakter dalam kurikulum sekolah tidak dibelajarkan secara mandiri sebagai mata pelajaran tetapi dimasukkan ke dalam seluruh mata pelajaran yang sudah ada, dalam hal ini Pelajaran Sastra Indonesia. Pemilihan bahan ajar sastra berbasis karakter dalam buku ini sudah melalui desain yang panjang, dimulai dari studi pendahuluan yang bertujuan melihat kemampuan siswa, dilanjutkan need analysis, dan workshop yang diselenggarakan di SMKN II Klaten pada tanggal 19 Mei 2015. Diharapkan buku sastra Indonesia berbasis karakter yang disusun ini dapat dioperasionalkan secara mudah dan menyenangkan. Seluruh bahan ajar yang dipilih di dalam buku ini disesuaikan dengan karakter yang akan dibelajarkan. Pada bagian akhir buku ini juga disertakan lampiran bahan ajar alternatif untuk sastra Indonesia SMA, SMK, MA.

    Sale!
  • Naskah nomor 31, “Bualan Warto Kemplung, Cerita Bersambung Mustofa Abdul Wahab”, adalah Pemenang Pertama. Karya kritik sastra ini menyoroti strategi dan bentuk naratif novel Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu karya Mahfud Ikhwan (2017), dengan fokus sudut pandang penceritaan oleh dua narator. Pengulas menunjukkan bahwa peristiwa pembacaan adalah upaya untuk memasuki suatu narasi sekaligus proses untuk memahami bagaimana “realitas” terbentuk dalam narasi, baik narasi versi narator pertama maupun yang kedua. Masing-masing versi saling berkelindan sehingga pembaca digiring agar tidak lagi mempersoalkan “realitas” mana yang lebih mungkin untuk dipercayai. Analisis naratologisnya tidak hanya mengungkapkan kepiawaian dan kebaruan estetik dari karya yang dikritik, melainkan juga membuatnya berhasil mengungkapkan posisi pasca-kolonial dan pasca-modern karya tersebut sebagai karya yang melawan lupa, menjadi penulisan sejarah alternatif dari sejarah resmi, dan sekaligus sebuah karya yang sadar-diri atau metafiksi.

    Kekuatannya yang lain adalah kemampuan karya kritik ini menerapkan berbagai teori yang menjadi dasar perspektifnya dengan sangat cermat tanpa membuat teksnya mengalami penindasan. Karya kritik ini memperlakukan teori secara terbuka dan membiarkannya membangun hubungan dialektik dengan teks sehingga ia berhasil mengungkap kebaruan karya yang diteliti dan sekaligus menemukan kontribusi karya terhadap kerangka teori yang ada. Kemampuan kritik ini dalam menempatkan Dawuk dalam konteks sejarah sastra Indonesia dan bahkan dunia adalah kekuatan lainnya yang patut digarisbawahi. Hal itu tidak hanya menunjukkan bahwa sang penulis mempunyai wawasan sejarah sastra yang memadai, melainkan juga memperlihatkan kemampuannya menggunakan wawasan tersebut dengan tepat.[]

     

    Faruk, Nirwan Dewanto, Wicaksono Adi

    Pertanggungjawaban Dewan Juri Sayembara Kritik Sastra Dewan Kesenian Jakarta 2019

    (Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 4 Desember 2019)

  • Di saat seperti sekarang ini dimana isu tentang rasisme dan intoleransi merebak di tingkat nasional maupun global, maka diperlukan suatu usaha nyata untuk menanggulanginya. Beberapa cara dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan, salah satunya adalah melalui pendekatan kebudayaan. Seiring dengan itu, terbitnya hasil penelitian “Kearifan Lokal Jawa dalam Wedhatama” karya Dr. Esti Ismawati, MPd. dan Dr. Warsito, MPd, jelas mempunyai relevansi yang kuat untuk mengatasi berbagai permasalahan bangsa Indonesia termasuk isu-isu tersebut di atas.

    KRT Darajadi Gondodiprojo , kerabat Mangkunegara IV, Pengageng Sasono Gondo Puri Surakarta.

  • Buku ini memberikan bekal bagi pribadi-pribadi yang menginginkan pemahaman akan perwujudan nilai-nilai budi pekerti luhur dalam kehidupan sehari-hari. Ungkapan-ungkapan yang disajikan dalam buku ini dipilih, diolah, dan diselaraskan dengan kehidupan masa kini agar mudah dipahami khalayak bangsa Indonesia yang berbahasa ibu bahasa daerah dan berbahasa nasional bahasa Indonesia. Oleh karena itu buku ini ditulis dalam bahasa Indonesia dengan tidak meninggalkan ruh bahasa Jawa yang menjadi bahan pembentuk ungkapan-ungkapan dimaksud.

    Ungkapan dalam bahasa Jawa adalah salah satu sarana untuk mengajarkan dan melestarikan nilai-nilai moral dalam masyarakat Jawa. Ungkapan-ungkapan tsb sering bersifat simbolik dan mengandung makna filosofi yang tinggi tetapi tidak semua orang Jawa (terutama generasi muda) sanggup memaknainya. Oleh karena itu diperlukan penafsiran sebagaimana makna yang diidealkan oleh para pendahulu kita.

    Buku ini disusun untuk menjadi jembatan antara generasi tua dan generasi muda Jawa dalam rangka menghidupkan nilai-nilai luhur budaya Jawa khususnya nilai-nilai budi pekerti. Budi pekerti hanya bisa diturunkan melalui pelatihan dan pembiasaan, keteladanan dan srawung yang lugas. Penerapan budi pekerti menurut Ki Hajar Dewantara berada pada tataran diri pribadi, keluarga, kehidupan bersama (bebrayan), sesama manusia, dan pada tataran bangsa. Nilai-nilai budi pekerti (Jawa) itu sendiri banyak terdapat dalam ungkapan bahasa Jawa, oleh karena itu ungkapan bahasa Jawa perlu dihidupkan terus sepanjang masa.

    Menghidupkan nilai-nilai budi pekerti Jawa melalui penghayatan dan pemahaman makna ungkapan Jawa sangat penting karena etnik Jawa yang merupakan etnik terbesar di Indonesia kini menghadapi kendala yang serius. Kendala tersebut antara lain terputusnya tradisi pemakaian bahasa Jawa sehari-hari di kalangan generasi muda Jawa (terutama yang hidup di kota) khususnya dalam hal memahami ungkapan bahasa Jawa.

  • Buku ini dibuka dengan pemahaman umum secara historis, praktis, dan kritis mengenai pascakolonialisme, Dari pemahaman tersebut, buku berpendar untuk menggagas beberapa teori pascakolonialisme seperti Orientalisme, Identitas, Subalternitas, Politik Spasial, Realisme Magis, dan Sastra Perjalanan.

    Orientalisme, dalam pandangan Edward Said, dapat dilihat secara ringkas sebagai suatu cara pandangan Barat terhadap timur sehingga wacana di dalamnya mengandung kekuasaan kolonial atas bangsa Timur, pandangan tersebut melihat, membayangkan, menekankan, membesar-besarkan dan mendistorsi perbedaan antara masyarakat serta budaya Timur (terutama bangsa Arab) dengan bangsa Eropa Barat. Sementara itu, Bhabha meyakini kekuasaan kolonial tersebut pasti akan berdampak pada identitas bangsa dari masyarakat Dunia Ketiga. Namun, sebagai seorang dekonstruksionis, Bhabha menunjukkan bahwa krisis tersebut dapat menjadi alat resistensi yang menghancurkan dominasi kekuasaan kultural dalam identitas bangsa Dunia Ketiga tersebut. Akan tetapi, Dunia Ketiga sendiri sangat identik dengan orang-orang Subaltern, sehingga Gayatri C. Spivak, menjelaskan adanya proses politis yang justru memanfaatkan orang-orang tertindas sebagai alat untuk melanggengkan suatu kekuasaan.

    Selain masalah-masalah tersebut, teori pascakolonial juga merambat pada dimensi ruang, di mana ada kajian ruang yang dikembangkan oleh Sara Upstone, Realisme Magis oleh Wendy B. Faris, dan juga Sastra Perjalanan oleh Carl Thompson. Ketiganya merupakan perkembangan dari teori kritis pascakolonialisme. Tentu saja, semuanya ditulis di dalam buku ini, baik ulasan teoretis dan contoh penerapannya dalam karya sastra. Inilah yang menjadi kekuatan buku ini. Buku ini adalah suatu pendulum yang cukup lengkap dan sangat membantu dalam perluasan pemahaman kajian pascakolonialisme.

  • Buku proses kreatif menulis puisi disusun oleh Hasta Indriyana.

  • T. S. Eliot terutama dikenal sebagai pemuka penyair modernis yang dianugerahi Hadiah Nobel Sastra tahun 1948. Selain itu, dia juga esais yang jejaknya selama enam puluh tahun (1905-1965) dibuktikan melalui delapan jilid tebal antologi. Esai-esai yang dia tulis memiliki cakupan tema sangat luas dari mulai sastra, budaya, agama, sampai pendidikan. Melalui esai-esai sastranyalah dia dikenal sebagai salah satu patron aliran Kritisisme Baru dalam kritik sastra.
    Antologi ini memuat enam esai terpenting yang dia tulis tentang hal-hal mendasar dalam kritik sastra, termasuk esai legendarisnya “Tradisi dan Bakat Individu”. Berbeda dengan esai-esai kritik sastranya yang mengupas karya sastrawan tertentu, esai-esai seperti yang dimuat dalam antologi ini lebih memiliki sifat universal yang memungkinkan mereka untuk tetap kontemporer bahkan saat dibaca puluhan tahun kemudian.


Showing all 8 results

logo-gambang-footer
Top