Uncategorized

Showing the single result


  • Seorang legenda pendaki gunung dan pencinta alamIndonesia Soe Hok Gie pernah menyatakan dalamsebuah tulisannya, bahwa rasa nasionalisme tidak dapat tumbuh dari slogan atau indoktrinasi melainkan cinta tanah air hanya dapat tumbuh dari melihat langsung alam dan masyarakatnya.

    Pernyataan Soe Hok Gie tersebut, betul-betul penulis rasakan ketika bergabung menjadi anggota Perkumpulan Pendaki Gunung dan Penjelajah Alam MERMOUNC. Melakukan perjalanan dan kegiatan alam bebas menelusuri pelosok negeri, menerobos hutan belantara,menyusuri lembah dan mendaki tingginya Gunung di semesta alam Nusantara serta melihat langsung denyut nadi kehidupan masyarakat yang berada jauh dari hiruk pikuk kota metropolitan. Sebuah pengalaman inderawi yang banyak memberikan pengetahuan bagi penulis dalam memahami makna kehidupan.

    Mungkin bagi sebagian orang, apa yang dilakukan oleh penulis dengan berkegiatan petualangan di alam bebas, bisa jadi dipersepsikan sebagai sebuah aktivitas yang tidak ada manfaatnya alias buang-buang waktu. Bahkan penulis sendiripun pernah mengalami perlakuan sinis dan cibiran dari sebagian orang yang menganggap para petualang alam bebas adalah orang-orang kurang kerjaan dan hanya sekedar mencari eksistensi agar dianggap “macho”.

    Boleh saja sebagian orang berpendapat begitu, namun bagi penulis melalui kegiatan petualangan di alam bebas, kita dapat melihat dan merasakan langsung keindahan bumi Nusantara dan juga keaneka ragaman budaya yang merupakan ekspresi dari keragaman masyarakat Nusantara tercinta ini. Sesuatu hal yang jauh melampaui dari hanya sekedar mencari pengakuan akan eksistensi diri agar dianggap “macho”, tapi sesuatu hal yang memberikan makna yang lebih dalam untuk mengenal lebih dekat alam dan masyarakat bumi Nusantara ini, dengan melihat dan merasakan secara langsung melalui pengalaman inderawi baik sebagai sebuah pengalaman material maupun spiritual.

    Apalagi berbicara tentang sebuah gunung, gunung bagi penulis penuh dengan beribu makna yang terekam dalam bentuk kisah-kisah baik yang bersifat personal maupun kisah yang bercerita tentang aspek pengetahuan baik secara ilmiah maupun aspek pengetahuan lokal masyarakat yang hidup di lingkaran sebuah gunung. Secara personal penulis memandang gunung sebagai sebuah realitas empirik yang berdimensi ruang dan waktu. Ketika kita mendaki sebuah gunung yang sama namun dengan dimensi ruang dan waktu yang berbeda pasti kita mendapatkan pengalaman dan pengetahuan yang berbeda pula.

    Sementara dalam konteks aspek pengetahuan ilmiah, gunung adalah sesuatu fenomena alam yang harus kita ketahui bersama, karena kita tinggal di bumi Nusantara yang dikelilingi oleh beribu-ribu gunung api atau disebut sebagai wilayah ring of fie. Di mana keberadaan gunung dapat merupakan ancaman bencana bagi sebuah wilayah yang dihuni oleh penduduk, sehingga pengetahuan tentang kegunungapian atau vulkanologi sudah semestinya menjadi pengetahuan dasar bagi kita semua yang hidup di wilayah
    “cinci api” termasuk di dalamnya memahami pengetahuan lokal yang bersumber dari cara pandang masyarakat lokal
    sebagai cara kita untuk memahami “bahasa” gunung dan sekaligus upaya kita dalam konteks pengurangan resiko
    bencana yang disebabkan oleh erupsi gunung api.

    Bagi sebagian masyarakat Jawa, keberadaan sebuah gunung adalah sebuah keniscayaan, karena gunung api paling banyak terdapat di pulau Jawa dibandingkan dengan pulau lainnya di wilayah nusantara. Hal ini menyebabkan sebagian masyarakat Jawa terutama mereka yang hidup di sekitar gunung memiliki cara pandang sendiri dalam memaknai keberadaan sebuah gunung. Gunung dapat
    dipandang dari sisi material maupun dari sisi spritualitas.

    Dari sisi material sebagian masyarakat Jawa memahami bahwa gunung merupakan ancaman bencana ketika gunung tersebut tengah mengalami erupsi, tapi di balik ancaman bencana tersebut gunung juga mendatangkan keuntungan ekonomi berupa tanah yang subur bagi lahan pertanian dan pasir yang melimpah yang dapat menghasilkan manfaat secara ekonomi.

    Sementara dari sisi spritualitas gunung bagi masyarakat Jawa bukanlah sekedar benda mati, namun diyakini bahwa gunung melambangkan hubungan diantara dunia manusia atau jagad manusia dan kayangan atau jagad para dewa-dewa. Kepercayaan tersebut memang mempengaruhi kepercayaan masyarakat Jawa terhadap gunung, mulai dari jaman dahulu hingga saat ini. Mencoba memahami “bahasa” gunung barangkali adalah sebuah ungkapan yang tepat bagi penulis untuk menuliskan pengalaman-pengalaman penulis dalam melakukan kegiatan pengembaraan dan melihat secara langsung kehidupan yang ada di sekitar gunung serta mendengar langsung cara pandang masyarakat yang hidup di kaki gunung atau meminjam istilah antropologi adalah dengan menggunakan pendekatan emic sehingga kita menjadi tahu persepsi mereka dari sudut pandang mereka sendiri bukan dari sudut pandang kita.

    Buku yang hadir ditangan pembaca ini bukanlah sebuah hasil penelitian ilmiah yang lengkap dengan kerangka teori dan metodologinya. Buku ini hanya berdasarkan pengalaman inderawi ketika penulis melakukan perjalanan yang penulis rekam dalam catatan perjalanan ditambah dengan beberapa data sekunder yang penulis peroleh dari berbagai sumber referensi. Beberapa penggalan kisah yang berangkat dari pengalaman pribadi penulis dalam melakukan pengembaraan di wilayah pegunungan dan melihat langsung denyut nadi kehidupan masyarakat di beberapa daerah. Penulis mencoba mengulasnya dalam beberapa penggalan kisah yang didasarkan pada hasil observasi, wawancara dan terekam dalam catatan perjalanan


Showing the single result

logo-gambang-footer

Jika Anda Merasa Kesusahan dalam Berbelanja Buku dari Website Kami Silakan Order Melalui Nomor WhatsApp Berikut : 0856-4303-9249

Top