Esai

Showing all 8 results


  • Bagian pertama buku ini mengulas tentang komposisi, transmisi, dan fungsi sastra lisan. Teori kelisanan yang dikemukakan Finnegan (1992) menyebut perihal komposisi, transmisi, pertunjukan, dan penonton. Komposisi, meminjam istilah dari Parry dan Lord (1974), terbentuk saat pertunjukan berlangsung dengan memanfaatkan formula yang dipelajari dari serangkaian latihan dan berbagai pertunjukan yang dilakukan pelantun lainnya. Melengkapi pernyataan Parry dan Lord, Finnegan (1977) mengatakan bahwa proses komposisi juga bisa terbentuk sebelum dan sedikit terpisah dari pertunjukan. Dengan kata lain, komposisi dilihat tidak hanya yang terjadi saat pertunjukan berlangsung, tetapi juga dapat dilihat terpisah dari pertunjukan, seperti yang berupa persiapan sebelum pertunjukan dimulai.

    Bagian kedua buku ini mengungkap tentang religiositas dalam sastra lisan.  Glock dan Stark (1965, 1969) mengemukakan bahwa terdapat lima dimensi religiositas, yakni (1) dimensi kepercayaan, (2) dimensi praktis, (3) dimensi pengalaman, (4) dimensi pengetahuan, dan (5) dimensi konsekuensi. Dalam sastra lisan, biasanya terkandung satu atau lebih dimensi religiositas.  Dengan demikian, sastra lisan memiliki fungsi religi.

    Bagian ketiga, membahas tentang posisi perempuan dalam sastra lisan.  Gender yang dipahami sebagai konstruksi sosial tentang relasi antara perempuan dan laki-laki tidak dengan sendirinya terhapus dari kehidupan masyarakat yang patriarkis. Konstruksi sosial tersebut sering memunculkan ketidakadilan gender dan relasi yang tidak setara antara perempuan dan laki-laki. Kaum perempuan banyak yang mengalami marjinalisasi, subordinasi, stereotip, tindakan kekerasan, dan beban kerja lebih. Masalah-masalah tersebut kemudian menjadi inspirasi untuk diangkat dalam sastra lisan, bahkan permasalahan yang berkaitan dengan relasi gender tersebut ditemukan dalam beberapa sastra lisan. Terkait dengan hal tersebut, Norton (dalam Bunanta, 1998: 53) mengatakan bahwa ada anggapan dari kaum feminis bahwa cerita rakyat bersifat seksis, yakni memiliki gambaran stereotip pada tokoh-tokoh perempuan

    Bagian keempat, “Jejak Kolonial dalam Sastra Lisan” merefleksikan rekam jejak peristiwa pada masa penjajahan Belanda dan Jepang dalam sastra lisan di Indonesia. Sastra lisan merupakan bagian dari tradisi lisan. Menurut Kuntowijoyo (2003), tradisi lisan merupakan salah satu sumber sejarah yang merekam masa lampau kehidupan manusia. Vansina (1985) menyatakan bahwa tradisi lisan, seperti tuturan rakyat, hikayat, dan cerita rakyat berpotensi menjadi sejarah. Sastra lisan berkaitan erat dengan sejarah karena sastra lisan dapat dijadikan sebagai sarana utama dalam penyampaian fakta-fakta sejarah (Muslimin dan Utami, 2020). Oleh karena itu, pelacakan tehadap fakta-fakta sejarah yang terkandung dalam sastra lisan perlu dilakukan untuk mengungkapkan jejak-jejak sejarah dalam masyarakat pada masa lampau, termasuk jejak-jejak kolonial di Indonesia pada zaman dahulu.

  • Beberapa kali saya diberi kesempatan menjadi saksi ahli bahasa untuk sejumlah kasus hukum. Kasus hukum yang dimaksud adalah kasus-kasus yang muncul sebagai akibat dari tindakan berbahasa, seperti pencemaran nama baik, penistaan agama, penghinaan terhadap suku tertentu, pelecehan atau penghujatan terhadap ideologi negara, dan beberapa kasus lainnya. Berbagai masalah tindakan berbahasa tersebut kemudian diperkarakan dan menjadi masalah hukum sebagai kasus kejahatan berbahasa.

    Dalam bebeberapa kesempatan yang berbeda, beberapa kali pula saya mendapat sejumlah pertanyaan yang lebih kurang sama. Pertanyaan itu antara lain: “apa hubungan bahasa dengan hukum”, “apa hubungan bahasa dengan politik”, “apa hubungan bahasa dengan etika”, “apa hubungan bahasa dengan perilaku”,
    “apa hubungan bahasa dengan negara”, hingga “apa hubungan perkara pidana dengan persoalan bahasa”. Salah satu pertanyaan yang paling serius tentulah bagaimana mungkin tindakan berbahasa dapat menjadi tindakan kejahatan berbahasa.

    Untuk menjelaskan hubungan antara bahasa dengan hukum, Shuy (2008: 4—5) mengatakan bahwa hukum adalah bahasa. Dengan demikian, praktisi hukum sebenarnya memiliki implikasi sebagai praktisi bahasa. Akan tetapi, bukannya memiliki pengetahuan tentang aspek-aspek bahasa, praktisi hukum memfokuskan kemampuan dan pengetahuannya pada aspek-aspek hukum dan bukan pada bahasa. Selanjutnya, menurut Shuy, banyak ahli hukum tidak sadar pada kontribusi kebahasaan dan penyelesaian dalam permasalahan hukum. Di beberapa negara, hubungan antara ahli bahasa dengan hukum terlihat sangat kompleks. Sebagai contoh, pengadilan Afrika Selatan pernah meminta seorang ahli bahasa untuk menyelesaikan kasus perselisihan merk dagang (Hubbard, 1992; Sanderson, 2007), isu-isu semantik yang berkaitan dengan nama baik dan kasus-kasus mengenai identifikasi otoritas (Hubbard, 1992; 1994; 1995; Kotzѐ; 2007; 2010). Sementara itu, tradisi tersebut jarang terjadi di Amerika dan Eropa. Hal itu disebabkan oleh kurangnya reportase dari ahli bahasa tentang hubungan bahasa dengan hukum, dan kepercayadirian aparat hukum dalam pengetahuan bahasa.

    Pengadilan menggunakan rangkaian teori untuk menginterpretasikan undang-undang dan mengaitkannya pada kasus yang dihadapi. Teori-teori tersebut  menyediakan beberapa petunjuk untuk menuntun aparatus pengadilan dalam menyelesaikan pemaknaan kata-kata (Carney, 2014:327). Permasalahannya adalah banyak praktik-praktik hukum yang masih menginterpretasikan kata-kata hanya berdasar dengan makna kamus (leksikal) atau kasus-kasus yang pernah terjadi (Botha, 1998:103; Hutton, 2009: 86—87; Mouritsen, 2010; Solan, 1993:50; Thumma dan Kirchmeier, 1999). Sementara itu, kamus sangatlah terbatas sehingga memerlukan studi lebih lanjut sebanyak alat-alat kebahasaan dalam pencarian makna yang kompleks, sedangkan kasus-kasus yang pernah terjadi tidak bisa dijadikan pedoman utama dalam memberikan keputusan karena tidak selalu bersumber dari isu bahasa dan tidak selamanya mencerahkan masalah-masalah kebahasaan (Carney, 2012).

    Permasalahan-permasalahan di atas sebenarnya juga belum selesai terjawab dalam konteks pengadilan Indonesia. Hal itu menyebabkan timbulnya pertanyaan-pertanyaan lain yang cukup sering dilontarkan seperti “bagaimana Anda bisa menjelaskan adanya kesalahan dalam kasus ini menurut perspektif ilmu bahasa”, “bagaimana Anda bisa menjelaskan bahwa ada kejahatan dalam berbahasa”, “teori kebahasaan apa yang Anda gunakan untuk menjelaskan itu”, “bagaimana kewenangan ilmu bahasa bisa menjelaskan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang tidak baik”, bahkan pertanyaan-pertanyaan yang terkadang terkesan kurang relevan.

    Dalam waktu-waktu tertentu, saya menjawabnya secara spontan atau menjelaskannya secara sekilas. Jawaban spontan, misalnya, bahwa semua hal dalam cara hidup kita dapat disampaikan melalui berbahasa. Kita bisa memahami suatu masalah jika kita menjelaskannya dalam bahasa. Kita menyampaikan aspirasi, pikiran, ide, rencana, dan melaporkan sesuatu dalam tindakan berbahasa. Kita bisa menyelesaikan suatu masalah dan dapat saling memahami dengan menggunakan bahasa dan tindakan berbahasa.

    Pada kesempatan lain, saya menjawab seperti ini: berkomunikasi itu meliputi tiga hal berbahasa, yakni komunikasi yang bersifat verbal (baik tertulis maupun lisan), secara visual (dan audio), dan secara kinetik (gerakan tubuh atau gerakan organ tubuh). Hal yang ingin saya tekankan adalah bahwa berbahasa itu merupakan suatu tindakan yang meliputi tiga hal, yakni berbicara (bertutur), menulis dan menyampaikan pesan lewat gambar (bisa jadi dengan dukungan suara tertentu), atau mengepalkan tangan, menutup bibir dengan telunjuk jari, dan sebagainya. Tindakan lain, semisal kita melakukan perbuatan dalam kata kerja (aktif) sebagai cara berbahasa kinetik, seperti berjalan, berlari, memukul, menendang, dan sebagainya.

    Ilmu-ilmu linguistik, pada umumnya, lebih memusatkan objek material bahasa sebagai bahasa tertulis, atau sesuatu yang harus dan perlu ditulis sebagai bahan atau data kajiannya. Pada akhirnya, berbagai gerakan tubuh, sebagai bahan yang kemudian dikaji, perlu dideskripsikan atau ditulis. Akan tetapi, hal itu tidak menutup kemungkinan bahwa tindakan tubuh dapat menjadi data langsung dalam memahami atau mengkaji berbagai peristiwa. Kini, berbagai kejadian atau peristiwa cukup banyak terekam secara langsung, sehingga rekaman tersebut dapat dijadikan bahan atau objek material kajian kebahasaan.

    Saya sering tidak puas dengan jawaban saya ketika ditanya tentang berbagai hal mengenai kebahasaan. Itulah sebabnya, saya berpikir untuk menjawabnya secara tertulis, dengan harapan, saya bisa menjawabnya secara lebih bertanggung jawab. Dalam kesempatan ini, saya akan menjelaskan beberapa hal. Pertama, apa itu bahasa dan berbagai implikasi terkait dengan cara berbahasa. Kedua, masalah prasangka dan bias berbahasa. Ketiga, masalah mengapa banyak cara berbahasa memperlihatkan kesalahan, terutama kesalahan teknis. Keempat, masalah berbahasa sebagai masalah etika (moral), dan kesalahan sosial lainya.

    Kelima, masalah kesalahan berbahasa bukan saja meliputi kesalahan etik dan/atau moral, tetapi merupakan tindakan kejahatan berbahasa. Seperti telah disinggung sebelumnya, kasus masalah bahasa sudah sering masuk ke ranah hukum, baik itu kasus perbuatan tidak menyenangkan, pembohongan, penghinaan, pelecehan, penistaan,  pencemaran nama baik, fitnah, hasutan, adu domba, makar, maupun tindakan berbahasa lainnya yang dinilai melanggar hukum dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

    Keenam, masalah bagaimana menempatkan bahasa sebagai berwacana dan masalah perbedaan penafsiran. Berbahasa sebagai berwacana merupakan tindakan berbahasa yang ditempatkan sebagai tindakan bermotif dan bertujuan. Dalam posisi bermotif dan bertujuan itu, tindakan berbahasa dikontestasikan dengan berbagai tindakan berbahasa lainnya. Seperti munculnya masalah perbedaan penafsiran dalam rangka menjelaskan mengapa terjadi perbedaan penafsiran. Bagaimana berbagai perbedaan penafsiran tersebut dapat diuji untuk mengetahui mana penafsiran yang paling mendekati kesepakatan untuk dianggap benar.

    Kajian dalam buku ini tidak membahas KUHP, misalnya yang terkait dengan UU ITE, atau UU tentang berita bohong, penghinaan, pencemaran nama baik, atau makar, dan lain-lain. Sebenarnya, walaupun bahasa hukum memiliki kaidah tersendiri, bahasa undang-undang juga merupakan hasil dari suatu peristiwa berbahasa. Kajian di sini lebih berfokus pada penggunaan bahasa sebagai peristiwa dan tindakan berbahasa dalam keseharian. Sementara itu, KUHP dan UU lainnya, bukan wacana melainkan menjadi ketetapan hukum. Memang, apapun itu terkait dengan UU, perlu selalu dicermati dan dikritisi agar UU menjadi lebih baik dan benar.

    Untuk menjelaskan persoalan di atas, sesuai kebutuhan untuk menjawab beberapa persoalan yang relevan, saya akan menggunakan konsep-konsep linguistik forensik secara umum. Linguistik forensik, merupakan sub-disiplin dari linguistik terapan dan para pioner yang mengaplikasikannya ke ranah hukum, terutama dalam ranah pengadilan. Seperti halnya Cunningham, Levi, Green dan Kaplan (1994:1568) mengutarakan:

    … adalah benar bahwa linguistik atau ilmu bahasa dapat dibuat menjadi pertimbangan dalam pencarian dan analisis pada tataran ketakterbatasan varietas dari ujaran kebahasaan. Metode-metode dalam eksplorasi yang dilakukan oleh para ahli bahasa hingga membuat progres saintifik pada beberapa dekade dapat menentukan proses pencarian dan analisis pada isu-isu tekstual yang kompleks dan kasus-kasus yang susah dipahami.

    Untuk melengkapi penjelasan lebih lanjut, saya menggunakan teori-teori semiotik, hermeneutik, dan kewacanaan. Namun, payung pendekatan utama yang saya pakai adalah pendekatan struktural dan pascastruktural. Kedua pendekatan tersebut sekaligus saya pakai karena saling melengkapi.  Asumsi pendekatan struktural adalah terdapatnya kuasa struktur yang membentuk dan menentukan subjek berbahasa (lihat Boye dan Engberg-Pedersen, 2020: 128–129). Sementara itu, pendekatan pascastruktural berasumsi bahwa wacana, dalam posisi struktural subjek (seorang manusia), ikut membentuk dan mengkonstitusi subjek berbahasa (lihat Pavel, 1989: 90). Beberapa ilmu bantu lain, sebagai rangkaian dari ilmu-ilmu sosial-humaniora, digunakan untuk melengkapi diskusi, seperti beberapa literatur  sejarah, antropologi, psikologi, sosiologi, politik. Buku-buku bantu itu terutama ketika menempatkan bahasa sebagai objek materialnya.

    Data-data yang akan dibicarakan berupa data yang hanya sebagai contoh, ada data primer yang saya dapatkan (tidak saya sebutkan sumbernya karena beberapa alasan), dan terdapat beberapa data yang sifatnya umum. Sebagai misal, uraian membahas implikasi bias berbahasa, maka data yang dipakai adalah data yang sudah beredar di kalangan masyarakat. Sebagian data diambil di media sosial, dan mohon izinnya, tidak disebutkan sumbernya, karena data di media sosial itu juga seperti “milik umum”.

    Sebagai sistematika, sesuai dengan urutan masalah, masalah bahasa, berbahasa, dan bias berbahasa dijelaskan dalam bab 2 dan bab 3. Masalah kesalahan teknis dan nonteknis berbahasa pada bab 4. Berbahasa yang mengandung kesalahan  dan ketika bagaimana cara berbahasa, dengan kandungan tertentu, dengan ekspresi tertentu, bisa masuk ke dalam ranah apa yang disebutkan sebagai kejahatan berbahasa dalam bab 5 dan bab 6. Sementara itu, bab 7 menjelaskan perihal berbahasa sebagai berwacana dan masalah-masalah penafsiran tentang kewacanaan tersebut.

    Dalam kesempatan ini, perkenankan saya melampirkan tulisan tahun 2013 yang berjudul “Mengkatai Kata-Kata”, yakni tentang bahaya berbahasa jika kita tidak hati-hati dan waspada dalam menggunakan kata-kata. Walaupun sebagai lampiran, tulisan itu diletakkan di bab 8. Dalam tulisan tersebut, secara eksplisit saya bertanya, “Begitu berbahayakah kata-kata? Begitu melukaikah kata-kata? Kenapa orang bisa berbunuhan karena kata-kata?”

  • Berbagai tipe karakteristik peranakan Tionghoa yang akhirnya menetap dan beranak-pinak di Indonesia itu mempengaruhi pula ideologi yang secara implisit tergambar dalam karya sastra yang mereka tulis. Selain  pergulatan hidup yang keras sebagai perantau di masa pendudukan  Belanda, mereka juga mendapatkan diskriminasi, persaingan dan gesekan antaretnis, antarbangsa, dan persaingan sesama diaspora Tionghoa sendiri. Problem dalam masyarakat yang heterogen  dan isu identitas  yang hibrida ini sangat kental terefleksikan dalam karya-karya mereka.

    Buku ini menampilkan berbagai perspektif yang menceritakan dinamika masyarakat Tionghoa dan pribumi pada masa puncak kejayaan kesusastraan peranakan Tionghoa di Hindia Belanda. Sedikitnya ada 13 tulisan  dalam buku ini yang menganalisis dinamika masyarakat Tionghoa, bumiputera, dan pemerintah kolonial Belanda sebelum kemerdekaan Indonesia dalam karya sastra.

  • Pandangan Wellek dan Warren yang dalam studi sastra cenderung ditempatkan sebagai pendekatan objektif (Abrams, 1999) yang menempatkan sastra sebagai entitas yang otonom memiliki pengaruh yang kuat dalam studi sastra di Indonesia. Kuatnya pengaruh pendekatan ini tampaknya berkait erat dengan kenyataan bahwa studi kesastraan, khususnya di tingkat sarjana, menyatu dengan studi bahasa. Penyatuan itu terjadi karena studi sastra bertolak dari bahan dasar yang sama dengan studi bahasa, yaitu bunyi.

    Studi-studi yang menyatukan bahasa dan sastra masih terus berlangsung hingga kini, misalnya tampak dalam berbagai artikel yang dimuat di jurnal bahasa dan sastra, baik jurnal nasional maupun jurnal internasional. Jurnal nasional yang bisa disebut antara lain adalah  Adabiyyāt (diterbitkan oleh Fakultas Adab dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Yogyakarta), Litera (diterbitkan oleh Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Yogyakarta), juga jurnal-jurnal yang diterbitkan oleh Balai Bahasa di berbagai provinsi di Indonesia. Meskipun nama jurnalnya bahasa dan sastra (kadang tergabung juga dengan pengajarannya), harus diakui juga bahwa tidak semua artikel di jurnal-jurnal itu menempatkan bahasa dan sastra secara integratif, ada juga yang kompilatif. Jurnal internasional yang membahas bahasa dan sastra misalnya adalah Language and Literature: International Journal of Stylistics diterbitkan oleh SAGE Publications Ltd, Papers on Language and Literature diterbitkan oleh Southern Illinois University Press.

    Studi sastra yang merupakan bentuk pengembangan dari apa yang oleh Wellek dan Warren disebut pendekatan ekstrinsik, juga berkembang pesat. Di Indonesia, pendekatan ekstrinsik mula-mula dikenalkan oleh Sapardi Djoko Damono lewat buku Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas (1978), kemudian diikuti oleh Faruk dengan terbitnya buku Sosiologi Sastra: Dari Strukturalisme Genetik sampai Postmodernisme (1994). Bertolak dari pendekatan tersebut, berkembang pendekatan-pendekatan ekstrinsik lainnya, baik yang tercakup dalam pendekatan sosiologi sastra, pendekatan psikologi sastra, pendekatan sastra feminis, pendekatan poststrukturalisme, pendekatan postkolonialisme, maupun pendekatan kebijakan sastra.

    Tulisan-tulisan yang terkumpul dalam buku ini berusaha mendekati karya sastra dengan berbagai perspektif yang semuanya dalam kategori pendekatan ekstrinsik. Dengan menggunakan pendekatan poskolonial, diintegrasikan dengan teori gastronomi, Bunga Tyas Ningrum mengamati fenomena kopi dalam hubungannya dengan sejarah kolonialisme yang tercatat dalam Babad Kopi Parahyangan. Fenomena kopi yang dinikmati sekarang ini, khususnya di Parahyangan, daerah pertama yang disebari biji kopi oleh pemerintah kolonial, tidak dapat dilepaskan dari sistem tanam paksa dan preanger stelsel yang menopangnya yang mengakibatkan penindasan dan penderitaan kaum pribumi di masa lalu. Gambaran itu diperkuat dengan penghadiran latar kolonial sangat terlihat di dalam novel ini seperti Batavia, Butenzorg, Mister Cornelis, dsb.

  • Pada tingkat yang paling dasar, yaitu tingkat dunia pengalaman dan penghayatan, manusia bersentuhan dengan dunia, lingkungan alamiah dan kultural-manusiawinya secara langsung melalui kontak indrawi. Hubungan antarmanusia, misalnya, bersifat tatap muka. Begitu juga persentuhan antara manusia dengan alam. Pada masa berburu, manusia tinggal di hutan, bersentuhan langsung dengan binatang buruannya, mempertaruhkan keselamatan fisik dan nyawanya. Konsep romantik tentang cinta adalah semacam kerinduan akan kelangsungan itu, yaitu yang biasa dikenal sebagai “cinta pada pandangan pertama” yang di dalamnya tidak ada mediasi apa pun sebagai syaratnya, baik mediasi status sosial, kelas, ras, nasionalitas, geografis, usia, bahkan gender, ataupun apa yang disebut orang Jawa sebagai “bibit, bebet, bobot”.

    Namun, manusia cenderung juga merekam, menyimpan, dan mentransmisikan pengalaman langsung itu untuk pegangan dalam mengarungi dunia pengalaman berikutnya, baik bagi dirinya sendiri maupun generasi yang lebih kemudian, sehingga mereka dapat “belajar dari pengalaman”, tidak belajar sambil atau sesudah mengalami sendiri secara langsung. Untuk mengetahui bahwa ular itu beracun dan bisa mematikan, misalnya, manusia tidak perlu harus mengalami gigitan ular itu terlebih dahulu, melainkan cukup mempelajari dan mengetahuinya dari pengalaman manusia-manusia yang ada sebelumnya. Masyarakat, dengan keluasan apa pun, pada dasarnya terbentuk dari rekaman dan penyebaran terhadap akumulasi dari ruang ke ruang, waktu ke waktu, pengalaman yang demikian.

    Peter Berger dan Thomas Luckman, dalam buku mereka yang berjudul The Social Construction of Reality, memahami masyarakat secara fenomenologis dengan menggabungkan teori Weber dan Durkheim. Sesuai dengan filsafat fenomenologi, mereka beranggapan bahwa realitas, termasuk yang sosial, merupakan objek yang intensional. Atas dasar pengertian itu, mereka memulai pemahamannya dari sebuah pandangan mengenai kodrat manusia sebagai makhluk yang menjadi, bukan makhluk yang sudah atau langsung jadi begitu dilahirkan. Karena makhluk yang menjadi, manusia membentuk dirinya sendiri dan lingkungan yang sesuai dengan diri mereka atau sebaliknya. Dari interaksi dengan sesamanya dan dengan lingkungan alamiahnya, manusia melakukan tipifikasi terhadap diri dan lingkungannya untuk dijadikan pedoman dalam interaksi berikutnya, menjadikan endapan pengalaman subjektif dan bersituasi itu sebagai sesuatu yang berada di luar dan melampaui diri mereka, suatu tindakan eksternalisasi sehingga dipahami sebagai sesuatu yang objektif, yang berada di luar diri manusia, sehingga tidak bisa diubah oleh kehendak subjektif. Endapan pengalaman yang sudah dieksternalisasikan itu kemudian secara dialektik diinternalisasikan kembali kepada diri sehingga realitas yang semula sudah objektif menjadi realitas yang juga subjektif.

  • Ada ruang alternatif bagi subjek sebagai wilayah pemenuhan atas rasa kekurangan (lack) manusia. Begitu juga dalam sastra dan seni, pengarang atau seniman mengarahkan kita pada kenikmatan spiritual untuk memenuhi segala kekurangan (kasat mata) yang kita rasakan sebagai manusia. Perihal ini kita dapat menelisik lebih jauh dalam artikel kelima mengenai kenikmatan spiritualitas dalam pakeliran padat lakon Dewa Ruci Ki Mantep Soedarsono.

    Saya pernah menyinggung persoalan politik spiritualitas dalam tulisan saya di salah satu koran lokal di Yogyakarta, bahwa pada tataran subjek/per-orangan, spiritualitas menjadi ruang alternatif (cadangan) yang dapat dipakai ataupun tidak. Hal ini tentu bergantung pada tuntutan lingkungan sosial terdekat yang dialami sehari-hari. Spiritualitas dapat menjadi kontestasi persahabatan dan persaudaraan suatu komunitas, baik sebagai ajang persaingan internal, baik untuk tujuan-tujuan tertentu (negatif/positif).

    Merujuk perspektif Lacanian bahwa subjek pada dasarnya adalah subjek terbelah, serba kekurangan, dan tidak utuh. Tanpa sadar subjek terus mereproduksi fantasi-fantasi untuk memenuhi hasrat, untuk mencapai kesatuan eksistensial. Usaha pencarian ‘diri’ ini seringkali dipenuhi atau diaktualisasikan salah satunya dengan laku spiritual. Dalam Jawa ada upaya penyatuan diri subjek dengan ‘Yang Riil’ untuk menuju pada kesempurnaan atau kemanunggalan. Gagasan itu termanifestasikan dalam tradisi masyarakat Jawa sehingga mereka punya konsep laku spiritual yang disebut Manunggaling Kawula Gusti. Laku spiritual manusia Jawa tentu sebagai laku memenuhi keselarasan dan keharmonian hidup.

    Dunia manusia adalah dunia yang dikonstruksi atau dibentuk oleh aktivitasnya sendiri. Artinya, ia harus membentuk dunianya sendiri dalam hubungannya dengan dunia. Yang dibentuk adalah kebudayaannya. Tujuannya memberikan struktur-struktur kokoh yang sebelumnya tidak dimiliki secara biologis. Sebagai bentukan manusia, struktur-struktur memiliki kemungkinan berubah karena sifatnya yang tidak stabil (Berger, 1990: 6-8). Karena sifatnya yang tidak stabil, pandangan-pandangan mahasiswa dalam buku ini cukup representatif merespons kenyataan-kenyataan sosial dalam karya sastra beragam.

    Mengapa saya katakan ‘asimetri’? Hal penting asimetri adalah sifatnya yang tersebar luas di berbagai tingkat dan lapisan, memungkinkan perubahan terjadi berkali-kali. Begitu dengan sastra hal yang terlihat di permukaan teks (main text) belum tentu secara tersirat mengatakan hal yang sama. Bentuk teks sastra bukanlah sekadar hiasan melainkan sebagai perwujudan ideologis yang kuat (Jameson, 1971). Maka upaya pembacaan totalitas dibutuhkan untuk mengetahui yang tersembunyi dari struktur bawah teks. Kesadaran historis membantu mengungkap makna-makna yang termanifestasikan dalam karya sastra. Sejarah adalah struktur dasar memang menjadi sangat penting.

  • Desa Sapit merupakan salah satu desa tertua yang terletak di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Desa ini kaya akan sejarah, budaya, dan sumber daya alam yang melimpah. Salah satu sumber daya alam yang menjadi komoditas utama di Desa Sapit adalah kopi dan beragam sayur-sayuran. Salah satu keunikan kegiatan pertanan di desa ini adalah bahwa mayoritas warga penggerak kegiatan pertanian adalah para pemuda berumur 18 hingga 28 tahun. Para pemuda ini bersatu membentuk sebuah kelompok Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang dinamakan Sapit Farm Mandiri yang didirikan pada tahun 2017. Saat ini, UMKM tersebut akan membuka kedai kopi perdana mereka. Namun, mereka masih sering menemukan kendala dalam kegiatan pengembangan produk kopi ini. Aliran listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) seringkali tidak stabil dan padam tanpa pemberitahuan. Hal tersebut membuat kegiatan pengembangan produk terhambat. Sementara itu, Desa Sapit memiliki intensitas sinar matahari yang tinggi dan ketinggian yang cocok untuk implementasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya. Maka dari itu, kami merencanakan untuk melakukan kegiatan pelatihan implementasi teknologi tepat guna dan ramah lingkungan “Gerobak Surya” sebagai sarana kegiatan ekonomi kelompok UMKM Desa Sapit. Gerobak Surya yang diimplementasikan di Desa Sapit ini terbuat dari galvalum. Selain lebih kuat, tipe Gerobak Surya ini juga terlihat lebih modern. Dalam jangka waktu 3 bulan, dengan penggunaan teknologi pencipta sumber energi alternatif seperti Gerobak Surya ini, pendapatan UMKM Sapit Farm Mandiri diharapkan dapat meningkat sebanyak 25% dari pendapatan sebelumnya.

  • T. S. Eliot terutama dikenal sebagai pemuka penyair modernis yang dianugerahi Hadiah Nobel Sastra tahun 1948. Selain itu, dia juga esais yang jejaknya selama enam puluh tahun (1905-1965) dibuktikan melalui delapan jilid tebal antologi. Esai-esai yang dia tulis memiliki cakupan tema sangat luas dari mulai sastra, budaya, agama, sampai pendidikan. Melalui esai-esai sastranyalah dia dikenal sebagai salah satu patron aliran Kritisisme Baru dalam kritik sastra.
    Antologi ini memuat enam esai terpenting yang dia tulis tentang hal-hal mendasar dalam kritik sastra, termasuk esai legendarisnya “Tradisi dan Bakat Individu”. Berbeda dengan esai-esai kritik sastranya yang mengupas karya sastrawan tertentu, esai-esai seperti yang dimuat dalam antologi ini lebih memiliki sifat universal yang memungkinkan mereka untuk tetap kontemporer bahkan saat dibaca puluhan tahun kemudian.


Showing all 8 results

logo-gambang-footer

Jika Anda Merasa Kesusahan dalam Berbelanja Buku dari Website Kami Silakan Order Melalui Nomor WhatsApp Berikut : 0856-4303-9249

Top