BIOKULTURAL

Rp 65.000

0 out of 5

Terdapat kekuatan besar yang mengatur dan beroperasi dalam kebudayaan global, termasuk kebudayaan kita di dalamnya. Kekuatan tersebut, dalam salah satu versinya disebut biopower, suatu kekuasaan (dan kekuatan), yakni “organ hidup” dalam tubuh kebudayaan yang melahirkan berbagai pemikiran, tindakan, bahkan hingga ke hal-hal perasaan. Berbagai ideologi yang bersaing, dan terutama yang dominan, merupakan efek lanjutan biopower. Terbentuklah suatu kebudayaan yang asimetris, hierarkis, dan eksploitatif.

 

Dalam situasi tersebut, kita perlu mendorong dan memperkuat biokultural, energi hidup yang selayaknya dijadikan substansi utama tubuh kebudayaan kita. Suatu energi positif yang hidup dalam pribadi kita masing-masing. Energi rasa senang, suka, sayang, gembira, dan cinta, yang diharapkan dapat menjadi pesaing berhadapan dengan kekuatan lanjutan dan implikasi biopower. Dalam semangat tersebutlah berbagai esai yang terkumpul dalam buku ini saya tulis dan persembahkan.

Category: . Tag: .

Product Description

Dari sebagian besar esai dalam buku ini, terdapat benang merah yang menyatukannya, yakni perspektif Marxis dan/atau Posmarxis dalam memaknai segala peristiwa, mulai dari politik, ekonomi, sosial, hingga persoalan-persoalan hukum. Hal ini disengaja, sekaligus pilihan, bagaimana menjelaskan kebudayaan dan negara bekerja. Kehidupan kita diatur oleh suatu sistem kekuasaan yang melanggengkan dirinya untuk mengendalikan aspek-aspek kehidupan manusia sebagai subjek/masyarakat–tidak hanya politik.

            Terdapat biopower yang membuat negara dan/atau kebudayaan bekerja. Dalam hal ini, pemerintah yang menjalankan negara bisa mengusung rezim tertentu untuk mempertahankan kekuasaannya atas potensi-potensi kekuatan–baik sumber ekonomi hingga retorika massa–melalui berbagai sarana seperti hukum, aparatus, pengadilan, penjara, rumah sakit, dan lain sebagainya. Namun, dalam proses tersebut, negara memiliki kesempatan untuk dikecualikan dari hukum untuk mempertahankan dirinya.

Di sinilah negara (melalui aparat) melakukan tindakan pendisiplinan dan pengendalian masyarakat yang dinilai mengancam dirinya, baik dengan memberlakukan hukum-hukum tertentu yang mengatur masyarakat dari berbagai sektor kehidupan, hingga mengecualikan dirinya sendiri (melakukan tindakan yang sebenarnya dilanggar) dari hukum. Dalam prosesnya, pemerintah seolah menjadi empire yang dengan agenda kapitalisme, membatasi masyarakat pada identitas-identitasnya yang bersifat imanen.

            Kita disibukkan dengan kerja untuk mendapatkan uang, atau bahasa halusnya mencari nafkah. Mereka yang tidak bekerja dianggap sebagai pengangguran dan sebisa mungkin ditekan jumlahnya. Sementara itu, mereka yang bekerja berjuang untuk menanggung kehidupannya dengan berbagai tekanan; kompetisi antarpekerja, ancaman orang-orang yang dapat mengambil alih pekerjaannya dengan biaya yang lebih murah, tuntutan untuk awas terhadap perkembangan teknologi dan riset terkini, hingga ancaman di masa depan.

Manusia mengedepankan akal dan pikirannya untuk berlogika, melakukan penghitungan terus menerus terhadap aktivitas yang dijalani ataupun kondisi ekonomi mikro dan makro, guna bertahan hidup di era modern. Dalam bingkai politik, pola pikir demikian dimanfaatkan sedemikian rupa oleh pihak-pihak tertentu untuk meloloskan jalan mereka menuju tujuannya, baik itu sumber daya produksi, uang, ketenaran, dan lain sebagainya. Politik mengesahkan pihak-pihak pemain utama untuk melakukan berbagai cara yang dimungkinkan untuk mendapat keuntungan, meski tak jarang berdampak buruk bagi kehidupan masyarakat.

            Salah satu imbas yang kita rasakan sekarang adalah perubahan mendasar pada kehidupan sosial manusia. Sebagai misal, kita diseragamkan menjadi diri yang dapat dikalkulasi melalui uang dan angka-angka. Nilai manusia kita dilihat dari seberapa besar kita mampu menghasilkan uang/berproduksi atau potensi kita di masa mendatang yang dapat melakukan kegiatan produksi. Dengan kata lain, menitikberatkan bentuk kehidupan manusia pada bios atau speaking being yang terlibat aktif dalam urusan kemasyarakatan (bios politikos), lambat laun mengeliminasi kemungkinan manusia menjadi pribadi (konsep bahwa setiap manusia adalah individu yang berbeda atau singular, konsep ini digunakan dalam bentuk terikat dengan plural).

Dalam upaya manusia untuk berebut menjadi sukses tersebut, ia dilekati identitas yang menjauhkannya dari pribadinya. Perbedaan manusia dikentalkan sehingga membentuk sekat-sekat, baik berdasarkan suku, kelas, gender, maupun agama. Sekat-sekat tersebut, yang sebelumnya kita pahami bisa dileburkan dengan semangat Indonesia, saling overlap satu sama lain dalam wacana yang diproduksi oleh penguasa dengan berbagai tujuan, terutama menggiring opini publik. Berbagai wacana dikontestasikan sebagai komoditas hingga membuat manusia lupa bahwa dirinya adalah makhluk berbudaya.

Semangat kita untuk menjaga kesatuan dalam perbedaan perlahan-lahan luntur, seperti gotong royong, saling menghargai, dan rasa untuk berbagi. Inilah yang kian lama menjelma menjadi kasus dan peristiwa di Indonesia sehingga layak untuk ditelaah lebih lanjut. Identifikasi masalah-masalah yang ada dapat memberikan pandangan bagi kita untuk menemukan solusinya. Guna mencapai solusi tersebut, diperlukan tinjauan atas berbagai sudut pandang.

            Jika selama ini kita memiliki kegagapan berlebih (dan kurang beralasan) terhadap Marx dan pemikirannya, kumpulan esai ini mencoba mengelaborasi terutama pemikiran-pemikiran setelahnya (Posmarxis). Sesuai dengan pepatah yang mengatakan bahwa modern problem require modern solution, maka perlu dipikirkan ide pemikir-pemikir Posmarxis yang berusaha membangun kesetaraan subjek, menolak hirarki, dan membangun liberasi dengan kebebasan dari intimidasi untuk mencapai tujuan.

Di samping itu, gagasa pemikir Posmarxis untuk mengembalikan subjek pada pribadinya yang berbeda satu sama lain kemudian diaplikasikan untuk memandang permasalahan yang terjadi di Indonesia. Sebagai negara dengan semboyan bhinneka tunggal ika, kita seharusnya bertujuan untuk merangkul semua perbedaan dalam persatuan, yakni semangat Indonesia. Hal yang perlu dihindari adalah penyamaan subjek (baik individu, suku, ras, dan lain sebagainya) yang meleburkan pribadi-pribadinya sebab hanya akan menghilangkan keunikan atau karakter ke-Indonesia-an.

            Terbukanya kesempatan manusia untuk kembali pada singularnya salah satunya akan menimbulkan kuatnya tenggang rasa dan kreativitas. Diakuinya pribadi manusia yang berbeda satu sama lain juga akan mendorong perubahan dalam pola produksi ekonomi dan politik. Kita akan mampu menghasilkan masyarakat baru (yang melakukan produksi imateriel berupa kerja-kerja kreatif). Masyarakat ini nantinya dapat mengolaborasikan perasaan yang universal, seperti rasa kasih sayang, rasa persaudaraan, rasa saling berbagi, rasa saling memahami, dan seterusnya.

Dengan demikian, daripada berusaha keras dan mati-matian dalam mencapai kemakmuran bersama seperti yang diusung kapitalisme, kita perlu mengarahkan semangat kita kepada kemaslahatan bersama dalam proses tersebut, seperti mengembalikan (atau memperbarui) perspektif kebudayaan, menolak politik identitas, dan bersama-sama melakukan kerja-kerja kreatif demi masa sekarang dan masa depan.

Additional Information

cetakan

Maret, 2020

halaman

xii + 242

ISBN

978-602-6776-97-6

Judul

BIOKULTURAL

penulis

Aprinus Salam

Reviews

There are no reviews yet!

Be the first to write a review

*

Delivery and Returns Content description.
logo-gambang-footer
Top