Shop

Showing 13–24 of 48 results


  • Puisi-puisi dalam kumpulan ini ditulis dengan penuh kekhusyukan dan kesiagaan. Bagaimana upaya penyair memilih tema, menentukan rancang bangun serta mengolah kata-kata sebagai bahan baku puisinya, dengan jelas telah menunjukkan adanya kekhusyukan dan kesiagaan itu. Dengan demikian frasa-frasanya yang terkesan sederhana menjadi terasa kaya, berwarna dan bermakna ganda. (Acep Zamzam Noor)

  • Buku kumpulan cerita Muhammad Qhadafi.

  • Di saat seperti sekarang ini dimana isu tentang rasisme dan intoleransi merebak di tingkat nasional maupun global, maka diperlukan suatu usaha nyata untuk menanggulanginya. Beberapa cara dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan, salah satunya adalah melalui pendekatan kebudayaan. Seiring dengan itu, terbitnya hasil penelitian “Kearifan Lokal Jawa dalam Wedhatama” karya Dr. Esti Ismawati, MPd. dan Dr. Warsito, MPd, jelas mempunyai relevansi yang kuat untuk mengatasi berbagai permasalahan bangsa Indonesia termasuk isu-isu tersebut di atas.

    KRT Darajadi Gondodiprojo , kerabat Mangkunegara IV, Pengageng Sasono Gondo Puri Surakarta.

  • Serat Wulang Reh karya Paku Buwana IV digubah dalam bentuk puisi Jawa, tepatnya  tembang macapat berisi 13 pupuh, merupakan masterpiece kebudayaan Jawa yang ditulis tahun 1768-1820 yang berisi nilai-nilai pendidikan yang berasal dari ajaran agama Islam yang meliputi tasawuf, akhlak, sosial dan politik dengan ajaran moral antara lain ririh, rereh, ati-ati, deduga, prayoga, watara dan reringan, menjauhi sikap adigang adigung adiguna.  Ada pun isi ringkas Wulang Reh sesuai dengan bait-baitnya:

    1. Piwulang caranipun tiyang milih guru
    2. Piwulang caranipun tiyang milih sesrawungan
    3. Piwulang sampun ngantow sanget-sanget kapiyandel nggadahi wewatakan adigang, adigung, adiguna.
    4. Piwulang bab tatakrama kanthi lelambaran prabot: deduga, prayoga, watara lan reringa; bedanipun awon lan sae, lan caranipun neniteni wewatekaning manungsa.
    5. Piwulang bab dunungin sembah lelima: bapa biyung, maratua, sedulur tuwo, guru, Gusti.
    6. Piwulang bab cara tiyang suwita ing ratu / negari
    7. Piwulang bab ngendaleni ubaling hawa nepsu
    8. Piwulang bab luhur lan raosing bebuden
    9. Piwulang bab pangrengkuhing sederek & cara maos serat waosan
    10. Piwulang bab dununging panarimah
    11. Piwulang bab warna-warni: agami, pakareman, tepa salira, raharjaning nigari
    12. Tepa tuladha polaning lelampahan, wasiyat leluhur
    13. Piweling & pamujining sang pujangga.
  • “Aku tahu kau suka hal-hal gila dan irasional, seperti ayahmu dahulu. Ingatlah, bahwa setiap tanda selalu membawa isyarat. Setiap isyarat membawa kebenaran yang akan tenggelam,”
    Cerpen Lawalata – Ferina Meliasanti

    Berpangkal dari warna hidup manusia. Dilema dan lema yang berpusaran pada cerita akan mengantarkan pada sesuatu yang dekat dan mungkin terabaikan. Sisi-sisi lain manusia dielaborasi lalu dihadirkan dalam beragam bentuk persepsi. Mulai dari tubuh sebagai identitas keyakinan pada cerpen “Sunat”, hingga pertanyaan-pertanyaan tentang esensi sebuah relasi pada cerpen “Manusia Terakhir”. Semua disajikan dalam dimensi bernama keluarga. Keluarga yang tidak hanya memperlihatkan hubungan darah emosional. Lebih daripada itu, keluarga yang menghadirkan ekspresi cinta dan kebencian dalam bentuk pengalaman dan amatan. Keluarga yang kemudian dibaca dan dilafalkan sebagai: Keluarga Owig.

  • Suatu malam, Rozi Kembara menelepon. Di antara sekian banyak kabar yang disampaikannya, saya tak bisa berhenti memikirkan bahwa seorang kawan kami, yang dulu belajar menulis bersama kami, telah jadi semacam jihadis di Pakistan karena kecewa terhadap puisi. Mungkin ia mencari ketenangan jiwa, kedalaman, pencerahan… saya tidak tahu. Saya bahkan tidak yakin manusia punya jiwa.

    Apa-apa yang dicari dan ditemukannya, atau tidak ditemukannya, agaknya berbeda dari Rozi dan saya. Tetapi saya pun pernah merasa harus mencabut perkara dengan puisi.

    Selepas menerbitkan Misa Arwah lima tahun lalu, saya tak mau menulis dengan cara yang sama, tetapi alangkah sukar melepaskan diri. Alih-alih menemukan suara dan gaya bicara yang lain, saya hanya tergagap-gagap. Semua yang saya ketik terasa palsu dan menyedihkan.

    Kemudian saya menemukan buku-buku Nicanor Parra. Jika puisi sepatutnya berlapis, mendalam, mencerahkan, serta sanggup memindahkan para pembaca ke labirin khayali yang megah dan berbelit-belit, Parra menolak. Dia menyentak kita dengan keterus-terangan, klise, humor sepele. Puisi-puisinya menerbitkan senyum orang kebanyakan, bukan sekadar bahan ngocok para kritikus.

    “Puisi telah jadi surga si dungu yang khidmat selama setengah abad, sampai aku datang dan mendirikan roller coaster-ku,” katanya. “Naiklah, kalau kau mau. Bukan salahku kalau kau turun dengan hidung dan mulut berdarah.”

    Pada waktu yang sama, saya juga menemukan kembali William Carlos Williams, yang dulu saya baca sekilas-sekilas saja. Dalam pengantar Spring and All, Williams bercerita bahwa seorang kritikus menyebut karya-karyanya antipuisi, bukan puisi, sebab dia mengabaikan rima dan ritme. Williams tak sepakat. Baginya, puisi pada umumnya justru menghalangi persepsi pembaca terhadap kenyataan dengan berbagai ilusi. Dia kepengin memulangkan pembaca ke sini, saat ini.

    Parra dan Williams punya kegelisahan serupa, memilih pendekatan yang berbeda, dan keduanya mengubah cara banyak orang memikirkan serta menulis puisi.

    Buku ini tak sepatutnya dibaca sebagai upaya meneruskan inisiatif mereka. Saya hanya berusaha menolong diri sendiri, bukan puisi, apalagi bahasa Indonesia, dari kebuntuan yang menyengsarakan.

    Kepada para pembaca yang berharap saya selamanya menulis seperti dalam Misa Arwah, saya mohon maaf. Janganlah menusuk saya kalau kita bertemu. Apa boleh buat, hal paling menggembirakan bagi saya sebagai penulis adalah kesempatan baru untuk bermain-main.

  • Mizraim diarak ke alun-alun. Pengadilan terbuka, seperti yang sering terjadi di desa itu, bukanlah tempat untuk membuktikan bahwa seseorang tidak bersalah melainkan sebuah usaha untuk mendesak seseorang mengaku. Di tiang gantung Mizraim berteriak-teriak bahwa ia tak bersalah; bahwa penduduk desa tak tahu berterimakasih. Ia menyebutkan jasa-jasanya di medan perang, menyebut nama teman-temannya yang mati, mengutuk betapa anak muda zaman sekarang tak menghargai jasa pahlawan yang membuat mereka bisa hidup tanpa ancaman. Mizraim baru diam saat tali menyentuh kulit lehernya. Ia menelan ludah. “Seperti dugaanku, kalian bersekongkol untuk membunuhku. Tapi, kenapa baru sekarang?”
    Orang yang Ingin Mati sebagai Pahlawan
    Ia mulai membuka kios setelah putus asa mencari kerja selama satu tahun pasca lulus SMA. Kemarau pencari kerja yang tekun, sebenarnya, selain itu ia rajin sembahyang dan selalu bangun saat mendengar adzan subuh. Sesungguhnya ia layak menuntut keadilan pada Tuhan atau memprotes ibunda tercinta mengapa ia dilahirkan ke dunia. Tetapi ia tidak melakukannya. Ia bukan orang yang mau berdebat dengan nasib. Kedua orangtuanya lalu menyarankan agar ia menikah saja, mereka percaya pernikahan akan membuka pintu rezeki. Meski Kemarau tak menolak ide itu, toh ia tetap belum menikah hingga detik ini. Bukan karena tak ada perempuan yang mau. Soal asmara, ia punya keyakinan sendiri.
    Jam Sibuk

     

  • Puisi-puisi di Kitab Air Pasang ini mayoritas ditulis kurun 1996-2006. Ada beberapa yang ditulis setelah 2007, saat Agus Hernawan melanjutkan studi di Amerika Serikat. Setelah 2010, Agus Hernawan lebih banyak menulis artikel untuk opini Harian Kompas yang tidak berkaitan dengan puisi dan sastra. Puisi-puisi awal dan belakangan tidak ikut hadir. Selain faktor dokumentasi yang buruk, juga alasan subyektif, bahwa Agus Hernawan menulis puisi.

  • Kumpulan puisi ini membawa kita ke dalam refleksi mengenai hubungan antar manusia, waktu, dan peristiwa. Di antara waktu yang bergegas dan waktu yang berjalan lambat, kadang manusia terasing dalam suasana gamang dan linglung seperti terlukiskan dalam sajak pendek yang menyentuh, “Pagi di Kantor Pos”: Mengantre// Tapi tak ada lagi / Surat kukirim.
    (Joko Pinurbo – penyair)

    Bagi setiap penyair, puisi sudah ada dalam hatinya sebelum terlahir. Ratna Ayu Budhiarti menyimpan seluruh kandungan magma dalam arus bawah sadar, dan kumpulan puisi ini bagai refleksi atas setiap letup peristiwa yang dialaminya. Ia perempuan yang mewakilkan citra dirinya dalam ketegaran, introspeksi, pelbagai pertanyaan tentang hidup, dan penyerahan yang indah sebagai puisi.
    (Kurnia Effendi – penulis prosa dan puisi)

    Lembut, puitis, dan bermakna. Inilah kesan utama setelah membaca sajak-sajak Ratna Ayu Budhiarti dalam buku ini. Kelembutan yang merepresentasikan dunia perempuan yang diungkapkannya. Kepuitisan yang menandakan kepiawaiannya dalam menyusun kata-kata secara indah dengan metafor-metafor yang unik dan segar. Dan, kebermaknaan yang mengisyaratkan kedalaman makna dan pesan yang disampaikannya.
    (Ahmadun Yosi Herfanda – penyair dan pemimpin redaksi portal sastra Litera)

  • Buku ini memberikan bekal bagi pribadi-pribadi yang menginginkan pemahaman akan perwujudan nilai-nilai budi pekerti luhur dalam kehidupan sehari-hari. Ungkapan-ungkapan yang disajikan dalam buku ini dipilih, diolah, dan diselaraskan dengan kehidupan masa kini agar mudah dipahami khalayak bangsa Indonesia yang berbahasa ibu bahasa daerah dan berbahasa nasional bahasa Indonesia. Oleh karena itu buku ini ditulis dalam bahasa Indonesia dengan tidak meninggalkan ruh bahasa Jawa yang menjadi bahan pembentuk ungkapan-ungkapan dimaksud.

    Ungkapan dalam bahasa Jawa adalah salah satu sarana untuk mengajarkan dan melestarikan nilai-nilai moral dalam masyarakat Jawa. Ungkapan-ungkapan tsb sering bersifat simbolik dan mengandung makna filosofi yang tinggi tetapi tidak semua orang Jawa (terutama generasi muda) sanggup memaknainya. Oleh karena itu diperlukan penafsiran sebagaimana makna yang diidealkan oleh para pendahulu kita.

    Buku ini disusun untuk menjadi jembatan antara generasi tua dan generasi muda Jawa dalam rangka menghidupkan nilai-nilai luhur budaya Jawa khususnya nilai-nilai budi pekerti. Budi pekerti hanya bisa diturunkan melalui pelatihan dan pembiasaan, keteladanan dan srawung yang lugas. Penerapan budi pekerti menurut Ki Hajar Dewantara berada pada tataran diri pribadi, keluarga, kehidupan bersama (bebrayan), sesama manusia, dan pada tataran bangsa. Nilai-nilai budi pekerti (Jawa) itu sendiri banyak terdapat dalam ungkapan bahasa Jawa, oleh karena itu ungkapan bahasa Jawa perlu dihidupkan terus sepanjang masa.

    Menghidupkan nilai-nilai budi pekerti Jawa melalui penghayatan dan pemahaman makna ungkapan Jawa sangat penting karena etnik Jawa yang merupakan etnik terbesar di Indonesia kini menghadapi kendala yang serius. Kendala tersebut antara lain terputusnya tradisi pemakaian bahasa Jawa sehari-hari di kalangan generasi muda Jawa (terutama yang hidup di kota) khususnya dalam hal memahami ungkapan bahasa Jawa.


Showing 13–24 of 48 results

logo-gambang-footer

Jika Anda Merasa Kesusahan dalam Berbelanja Buku dari Website Kami Silakan Order Melalui Nomor WhatsApp Berikut : 0856-4303-9249

Top