Shop

Showing 25–36 of 48 results


  • CATATAN PENGANTAR

    Hingga berusia sekitar 50 tahun, tidak lebih dari 10 puisi yang pernah kubuat. Itu pun karena permintaan beberapa teman, bahwa puisi itu akan dilagukan (dimusikalisasi). Memang, dari beberapa puisi tersebut, ada dua puisi yang dilagukan. Aku merasa membuat puisi itu sulitnya minta ampun.

    Dalam perjalanan hidupku, aku bergulat dengan sastra, mengajar dan menulis. Cukup banyak tulisanku, terutama untuk tulisan yang bersifat akademis, dan lebih dari 330 esai opini yang telah diterbitkan di sejumlah media massa.

    Dalam perjalanan karierku menulis itu, aku juga menulis sejumlah cerpen, dan naskah drama. Cerpenku pernah dimuat di banyak media massa, dan diterbitkan dalam sebuah kumpulan antologi Keboji (2009), yang diterbitkan oleh Fakultas Ilmu Budaya UGM.

    Sekali lagi, aku merasa aku tak mampu menulis puisi. Padahal, hampir setiap hari aku bercengkrama dengan prosa dan puisi.

    Pada suatu malam, di awal tahun 2016, tiba-tiba aku ingin menulis puisi. Ada semacam getaran halus yang meminta aku menulis puisi. Dengan berbagai keraguan dan kerinduan, aku memenuhi panggilan tadi. Jadilah puisi, yang aku sebut sebagai para mantra. Ini memang soal pilihan, jadi ketika aku menulis puisi-puisi ini, aku seperti menulis mantra.

    Tentu aku berterimakasih kepada Tuhan (Tuhan ampunilah dengan dan bersama puisi mantraku). Aku berterimakasih kepada anakku Ainina Zahra dan istriku Pristi Salam, yang ketika aku menulis puisi mantra ini, mereka membiarkan aku berlagak sok jadi penyair, bahkan sedikit sok menjadi filsuf.

    Terimakasihku kepada para teman di Pusat Studi Kebudayaan UGM, dan terimakasih kepada para teman klangenanku dalam bersastra dan blusukan ke berbagai tempat.

    Terimakasih kepada siapa saja yang berkenan membaca puisi mantraku. Semoga bisa jadi mantra dalam arti yang sesungguhnya.

    Yogyakarta, 29 Februari 2016

    Aprinus Salam

  • Buku kumpulan puisi Nissa Rengganis

  • Sajak-sajak dalam antologi puisi Matahari Sebutir Pasir ini bisa saya katakan sebagai sajak-sajak yang terselamatkan. Sejak menulis puisi di bangku sekolah menengah, saya tidak pintar mendokumentasikan karya sendiri—bahkan mungkin kesadaran pentingnya menyimpan sebuah karya tidak ada dalam benak saya kala itu. Hal itu dikarenakan saya terlibat dalam gerakan pelajar dan berlanjut menjadi seorang aktivis, pada masa yang menuntut atau menyita waktu saya berlebihan, juga pikiran, tenaga dan jiwa saya sendiri, sehingga intensi saya terhadap puisi menurun akibat seringnya turun ke jalan dan merapat dalam kumpulan para aktivis, seniman dan budayawan pada masa transisi politik di negeri ini.

     

    Meski proses kreatifitas saya tersenda-sendat oleh idealisme politik-aktivisme yang saya hayati sebagai kewajiban anak bangsa, pada saat yang sama saya ikut menjadi pemimpin redaksi Senthir, jurnal kebudayaan untuk pelajar pada masa itu, serta meluangkan waktu mengirimkan tulisan, baik puisi, cerpen dan esai ke media massa dan majalah sastra. Sekarang, yang terlacak dari proses kepenyairan saya di masa pelajar tersebut dapat dijumpai pada sejumlah buku antologi seperti Horison Kakilangit (2001), Bengkel Sastra (1998), Pelajar mengenang Chairil (1998). Selebihnya telah lenyap, tidak terlacak lagi.

     

    Bagi saya sekarang, kepenyairan harus sungguh-sungguh diperjuangkan dan tidak bisa dianaktirikan. Saya tersadarkan oleh pernyataan Saini K.M, “Kepenyairan tidak terwujud berdasarkan keingintahuan saja, kepenyairan juga bukan karena menguasai dengan baik teknik menulis puisi. Kepenyairan lebih berdasarkan pada Panggilan!” Saya tidak memungkiri, proses kepenyairan di masa pelajar masih sebatas keinginan dan tujuan-tujuan sederhana. Meski begitu, pergulatan saya di ranah perpolitikan juga tidak luput dari pernyataan Chairil Anwar yang berkata, “Tiap seniman harus seorang perintis jalan, tidak segan memasuki hutan rimba penuh binatang buas, mengarungi lautan lebar tak bertepi, seniman ialah tanda hidup yang melepas bebas!”

     

    Saya yang melibatkan diri dalam politik, turun ke jalan, tanpa sadar telah menafikan akan pentingnya sebuah sajak berhadapan dengan kekuasaan. Saya juga memaklumi, masa itu adalah masa pencarian, di mana saya masih memandang segala kemungkinan dan ketepatan dengan sebelah mata. Sajak-sajak dalam antologi ini, yang saya tulis dari tahun 1996-2010, merekam peristiwa-peristiwa Orde Baru, tumbangnya dan masa transisi yang berliku, baik yang saya terlibat langsung atau pun tidak. Di samping rekaman peristiwa itu, terdapat tema terkait persoalan-persoalan cinta, transformasi desa-kota, spiritualitas, dan lain sebagainya.

     

    Bisa dikatakan, saya adalah seniman yang bangkrut atas keteledoran saya. Saya banyak kehilangan tulisan-tulisan saya mengingat saya senang berkeliaran kesana-kemari, bertemu kawan yang kamarnya saya pinjam untuk tidur atau berkarya. Selama kepenyairan, saya juga mengalami goncangan hebat yang membuat saya patah dan surut semangat atas hilangnya tiga kumpulan sajak saya, yang dipinjam kawan perempuan. Bagi saya karya itu sangat penting dan berharga, semoga yang termaksud dapat mengetahui hal ini dan bisa secepatnya mencari dan mengembalikan untuk memulihkan harapan dan mimpi-mimpi saya.

     

    Sajak-sajak dalam kumpulan sajak ini saya temukan dalam simpanan kawan saya, Andi Magadhon, yang tertinggal di rumahnya. Saya sangat berterima kasih kepadanya serta pihak-pihak lain yang tidak bisa saya sebutkan. Harapan saya, semoga kumpulan sajak ini bermanfaat dan semakin memperkaya dunia sastra di tanah air Indonesia.

  • PROLOG

    Ketika kupijakkan kaki di gerbang sekolah ini untuk pertama kalinya semenjak lima tahun silam, seseorang menepuk pundakku dari belakang.

     “Jonat!” Mudah saja aku mengenalinya. Dia masih konsisten pasang tampang tanpa ekspresi. “Hei! Kupikir kamu nggak bakalan datang reuni. Dengar-dengar, kamu kuliah di luar negeri?”

    “Begitulah. Aku datang sebab aku punya utang denganmu. Saat kemari, aku berharap kau belum bunuh diri. Dan harapanku terkabul.”

     “Terimakasih soal harapanmu itu. Tapi maaf, aku ngerasa belum pernah pinjami kamu uang.”

    “Ingatkah kau, ketika malam itu kau berdiri di pinggir jalan seperti orang gila yang memukuli wajah sendiri? Ingatkah kau, kalau semenjak malam itu kau jadi begitu susah diajak omong, jadi pendiam, penyendiri, serupa orang putus asa? Ingatkah kau, kalau malam itu catatan harianmu tertinggal di tasku?”

    Aku diam sejenak. Memori buruk itu menghantuiku kembali. Lalu kujawab dengan terbata-bata, “Oh, ya ya ya! Catatan harian. Itu yang kamu maksud utang?”

    “Persis. Dan sekarang tulisannya telah luntur, tak terbaca.”

    “Santai, Jon. Lupakan saja. Sekarang ayo kita masuk, cari kawan-kawan lainnya.” Aku berusaha mengalihkannya dari bahasan soal masa lalu suram.

    Belum sempat kami melangkah masuk, Jonat lebih dulu mengeluarkan sebuah buku dari tasnya. “Ini, kukembalikan padamu. Anggap utangku lunas.” Ia sodorkan kepadaku seraya menjelaskan, “Aku ketik ulang catatan harianmu. Beberapa kuubah sesuai selera estetisku. Ada yang kuhapus, ada yang kutambahkan. Karena kau lipat setiap awal bulan Agustus, maka pada sampul depannya kutulis ‘Melipat Agustus’.”

    Aku telah bersusah payah melupakan diriku yang lampau. Sedang kini, segalanya kembali ke genggamanku. Tanganku menggigil menerima buku catatan harian itu.

  • Aku lahir bukan dari tanah
    Tapi paham bahwa manusia sebermula tanah
    Lahirku dari kegembiraan yang sakral
    Menunggu bulan, memelihara kesucian

    Kelahiranku adalah awal pengorbanan
    Perjuangan merenda usia sampai renta
    Memupuk kesadaran demi kesadaran sebagai kodrat
    Manusia hidup dalam kegelisahan

    Tujuan akhirnya mencari jalan pulang
    menyusuri liku-liku kehidupan, peradaban yang mencekam
    meniti cukang menuju tanah lapang
    berdesakan menuju pintu yang sempit untuk dimasuki.

    Demikianlah pada akhirnya
    Kelahiran bukan hanya untuk dirayakan.

  • SEPANJANG jalan, ia mencatat sebuah kalimat. Kemudian memungut diksi, mencium aroma kematian dan menjadikannya bait-bait ingatan. Itulah hakikat seorang pejalan yang digambarkan Yopi Setia Umbara dalam kumpulan puisi Mengukur Jalan, Mengulur Waktu (2015). Bisa dipastikan keseluruhan puisinya bertaut antara diri (aku), perjalanan, dan ingatan tentang perjumpaan.

    Untung saja, Yopi memaknai itu semua dengan mata seorang penyair. Ia bergerak dari ruang material hingga ke ruang batin paling intim. Seperti sebuah renungan ikhwal perjalanan mencari diri. Menariknya, seorang penyair ketika merumuskan, memaknai dan mengingat waktu akan berbeda dengan seorang fisikawan dan pebisnis. Misalnya, dalam teori relativitas ala Eintens bahwa “duduk di tungku api lebih lama dari duduk di dekat seorang perempuan cantik”. Seorang pebisnis (entreprener) akan merumuskan “waktu adalah uang”. Apakah Yopi mirip pemain sepakbola (Indonesia) yang melulu mengulur waktu ketika berada dalam sebuah pertandingan? Selengkapnya

  • Naguib Mahfouz, sastrawan Mesir peraih hadiah nobel, adalah manusia kafe. Ia banyak menulis cerita pendek, bahkan novel legendaris sepanjang masa (salah satunya adalah novel Lorong Midaq), dari obrolan serta pengamatannya di sebuah kafe. Ia selalu duduk di sana, menikmati secangkir kopi, sambil melihat dan mendengarkan orang-orang bicara. Ia mengajak ngobrol, serta merekam dan mencatat tokoh-tokoh “cerita” yang akan dituliskannya dalam karyakaryanya.

    Di Indonesia, kita mengenal sastrawan Kuntowijoyo,Budi Darma, dan penyair Iman Budhi Santoso. Kuntowijoyo menulis novel Pasar, berdasarkan rekaman pengamatannya di pasar-pasar  tradisional Jawa (khususnya Yogyakarta)—dan ia menulis miniatur Indonesia lewat orang-orang yang ada di pasar: para pedagang, para pembeli, mandor pasar, serta orang-orang kecil yang menggantungkan nafkhnya di sana. Kemudian Budi Darma, menulis Orang  Orang Boomington, berdasarkan pengamatannya yang jeli terhadap orang-orang  yang hidup dalam sebuah apartemen yang berisi ratusan kamar di kota Bloomington. Lalu bagaimanakah dengan penyair Iman Budhi Santoso? Penyair ini, hanya untuk menulis sebuah puisi dengan judul Janda Penjual Sayur Imogiri-Yogya, ia harus rela pergi ke jalan Imogiri pada jam 3 pagi selama hampir satu bulan, untuk mengamati para pedagang perempuan yang bersepeda dari Imogiri (dengan beban keronjot muatan sayur), menuju ke pasar Beringharjo Yogyakarta.

    Menulis karya sastra (terutama prosa), adalah upaya mencatat dan mengabadikan setiap peristiwa lewat beragam karakter manusia yang menjadi tokoh-tokohnya. Maka sebagian besar para penulis, adalah sekaligus juga pengamat, peneliti, dan para pencatat yang jeli. Ia melihat, mendengar, mencari-cari, dan sekaligus “mencoba memahami” apa yang diserapnya dari hasil pengamatannya. Hasil pengamatan inilah, yang kemudian menjadi bahan dasar yang  bisa dikembangkan menjadi sebuah karya. Hampir semua penulis besar, selalu terlibat dengan realitas empiris yang dihadapinya. Ia tidak cukup memenuhi dirinya hanya dengan bacaan—hanya dengan referensi. Bahkan beberapa penulis besar, dikenal sebagai petualang yang sengaja mendatangi berbagai belahan dunia lain untuk lebih mendekatkan dirinya pada realitas. Kita mengenal petualang-petualang besar sepanjang zaman seperti Ernest Hemingway, Charles Dickens, Mark Twain, Emile Zola, dan lain-lain.

    “Setiap orang adalah sebuah novel”, begitulah ungkapan sangat populer yang menggambarkan bahwa setiap orang memiliki latar belakang kisah berbeda-beda, yang jika didalami  bisa ditulis menjadi sebuah novel. Tugas dari seorang sastrawan hanyalah membuka mata, membuka telinga, dan membuka kepekaan dirinya untuk melihat hal-hal yang luput dari pandangan orang lain. Peristiwa unik, kejadian tak lazim, karakter-karakter menarik dan menyimpang dari keumuman, bisa memantik sebuah ide besar yang mungkin akan melahirkan karya besar. ***

    Tien Rostini, adalah seorang guru. Setiap hari ia menyatu dengan beragam karakter murid-muridnya, yang memiliki latar belakang berbeda-beda. Tugasnya sebagai guru, menganugerahkan ia kemampuan untuk merangkul manusia (menyapa, mengakrabkan diri, membimbing dan mengarahkan).  Tentu saja, tugas istimewa harian semacam ini,  akan semakin menajamkan seluruh perangkat inderanya untuk memandang perbedaan karakter tokoh—jika kelak ia menulis karya sastra.

    Faktanya, selain guru, Tien Rostini juga seorang penulis. Ia telah menghasilkan  banyak karya, terutama cerita pendek dan novel—dan di antaranya telah mendapatkan beberapa penghargaan. Tentu saja, gabungan antara naluri seorang guru sekaligus penulis, akan menghasilkan sesuatu yang berbeda jika dilihat dari karya-karya yang ditulisnya  Ia menulis dengan latar didaktik, mengedepankan empati, serta berupaya memunculkan makna positif sebagai hasil akhir dari perenungannya. Ia adalah guru di depan siswa, dan “pemetik cahaya” di depan tulisan-tulisannya. Tidak banyak penulis yang mendapatkan keistimewaan bergaul sepanjang hari dengan ratusan karakter manusia, seperti profesi seorang guru. Tien Rostini tampaknya tahu betul kelebihannya, sehingga ketika ia melebarkan dunianya pada lingkungan yang lebih luas (kota sebagai miniatur sebuah negara), ia pun tetap membidik manusia sebagai objek utama. Tien kemudian menulis “orang-orang berjalan” dengan bingkai angkot (sebuah moda transportasi perkotaan) yang menjadi latar tempat bertemunya orangorang asing dalam satu kesatuan ikatan: menuju tujuan pulang, atau pergi.

    Hidup pada dasarnya adalah tujuan pulang dan pergi. Di antara dua ambang kesadaran antara pulang dan pergi inilah, Tien Rostini menempatkan posisinya sebagai penengah. Ia mencatat persoalan keseharian yang tergambar lewat karakter-karakter manusia, kemudian merangkumnya menjadi serpihan cermin-cermin kecil tempat setiap pembaca bisa berkaca. Berkaca pada kisah-kisah pendek yang dituliskan, untuk mengambil sedikit pantulan cahaya yang dipancarkan melaluinya. Pilihan angkot sebagai benang merah yang mempersatukan banyak tema di dalamnya, tentu adalah sebuah pilihan unik yang mungkin tidak pernah terbayangkan  oleh penulis-penulis lain—bahwa dari sebuah angkot, bisa tergambar beragam makna kehidupan. Di sinilah istimewanya Tien Rostini sebagai seorang penulis, ia tiba-tiba memilih sebuah dunia yang tidak terbayangkan oleh orang biasa: dunia angkot. Angkot sebagai miniatur masyarakat sebuah kota—lebih jauh, negara. Di dalam “dunia angkot” inilah, Tien Rostini berbicara tentang Indonesia.

    Ada sopir sebagai penentu nasib, dan ada penumpang sebagai pemilik tujuan sementara yang  bebas untuk memilih, tetapi tetap terikat dalam sebuah kepatuhan. Dua relasi ini, kemudian diisi oleh beragam peristiwa yang ditafsirkan lewat percakapan antara supir dan penumpang, dan antara penumpang satu dengan penumpang lainnya. Masing-masing percakapan memancarkan tema yang dipilih, berdasarkan pilihan karakter unik serta kaitan peristiwa menuju pada sebuah kesimpulan yang dikehendaki. Struktur alurnya selalu tetap: para penumpang menaiki sebuah angkot, kemudian terjadi  komunikasi di antara sesama penghuni dunia angkot. Hal yang membedakan adalah silang komunikasi di antara mereka, dengan petikan karakter dan peristiwa yang menjadi pemicunya. Kita lihat contoh pada bagian pembuka buku ini, tulisan dengan judul Bicara Besar. Seorang sopir, dengan pongahnya menceriterakan tentang kepemilikan tiga angkotnya yang menurutnya, bisa mencukupi kebutuhan keseharian. Ia hendak menunjukkan kepada para penumpang, bahwa meskipun ia hanya supir angkot, tapi ia juga adalah  majikan. Bahkan dengan nada setengah merendahkan, ia hendak mengatakan bahwa dirinya adalah orang yang paling kaya di antara para penumpang karena memiliki 3 mobil.  “Sebenarnya bagiku membeli mobil itu gampang. Penghasilanku boleh dibandingkan dengan gaji ibu-ibu yang PNS ini. Lebih lumayan saya, karena punya usaha lain.” Pembicaraan sopir ini, tentu saja didengar (dan memang harus didengar) oleh seluruh penumpang. Termasuk, juga didengar oleh salah satu penumpang perempuan yang minta diantarkan pada sebuah alamat. Penumpang perempuan yang turun di depan rumahnya—rumah yang megah dengan garasi terbuka, dan sebuah mobil mahal terparkir. Tokoh aku (tokoh yang  menjadi pencerita dalam buku ini) mengatakan pada sopir, “Itu mobil suaminya. Mobil dia lagi diservis, makanya dia naik angkot.” Sebuah tamparan manis yang membuat pembaca tersenyum puas,  ketika membaca kalimat, “Itu mobil suaminya. Mobil dia lagi diservis, makanya dia naik angkot.” Ada ironi, ada kesegaran, ada unsur humor yang menyelinap, sekaligus menampar. Penulis (lewat corong tokoh utama, yakni tokoh aku), tentu tidak harus secara kejam mengatakan langsung bahwa “kamu tidak boleh sombong pada penumpang, karena faktanya dia lebih kaya darimu”, akan tetapi cukup menutup obrolan dengan senyuman manis.

    Kemampuan mengemas ironi, hanya dimiliki oleh penulis cerdas. Dalam buku ini, tebaran adegan-adegan  ironi cukup  banyak bisa ditemukan. Kita lihat pada tulisan lain dengan judul Kekuasaan Sang Sopir, yang mengisahkan bagaimana perlakuan sopir ugal-ugalan yang sangat suka berkata kasar kepada penumpang. Ia bahkan berani mengomel dan membentak. Seorang penumpang perempuan, yang pada saat itu melamun sehingga melewati gang yang seharusnya ia berhenti, dibentak oleh sopir dengan kalimat: “Ibu, jangan seenaknya, kalau mau turun jangan memberi tahu mendadak. Untuk menghentikan mobil bukan seperti ibu berjalan, bisa langsung berhenti!” Tidak cukup dengan adegan itu (yang membuat pembacanya mengelus dada), ketika seorang penumpang lain—digambarkan oleh penulis, penumpang itu perempuan paruh baya yang membawa banyak belanjaan—meminta diantar sampai depan rumah, Sang Sopir berkata: “Inilah, para penumpang cerewet. Penumpang berlagak pemilik mobil, seenaknya menyuruh-nyuruh sopir. Beli mobil dulu, Yuk, kalau mau mengatur seenak diri!” Lalu bagaimanakah Tien Rostini bersikap, melalui tokoh aku, ketika melihat pemandangan semacam ini? Si Ibu paruh baya berani membayar ongkos tambahan 15 ribu, karena ia tersinggung. Sementara tokoh aku, memilih turun sebelum  sampai ke tempat biasanya berhenti, dan menyetop angkot lain sambil berkata (di dalam hati):  Aku berharap hanya satu sopir yang berperilaku seperti itu. Siapa dan bagaimana pun penumpang berhak dihormati dan dilayani dengan baik. Banyak hal di “dunia angkot” bersama liku-liku para sopirnya yang tidak kita ketahui. Ada ketengilan, kerakusan, kesombongan, tapi sekaligus juga kemuliaan. Membaca bagaimana sopir terpaksa membawa anaknya (usia balita) saat bertugas karena istrinya juga harus bekerja, membuat kita menjadi iba. Menyimak seorang sopir yang dengan cekatan membantu penumpang, mengantarkan dengan gembira setiap penumpangnya hingga ke depan pintu (meskipun harus melewati gang sempit berliku),  menggratiskan ongkos bagi seorang anak sekolah lantaran “kasihan, sekolahnya jauh, dan orangtuanya tidak mampu”—adalah contohcontoh ahlak-ahlak yang membuat pembacanya trenyuh.

    Ada sopir yang ternyata adalah seorang PNS—harus nyambi menjadi sopir lantaran gajinya tidak cukup. Ada sopir yang ngantukan sehingga para penumpang dengan riang gembira menghiburnya, dan menyuruhnya minum kopi di sebuah warung agar semuanya selamat sampai tujuan. Perayaan kesedihan, kejengkelan, kegembiraan, dan keharuan, yang tergambar dari relasi antara sopir dan penumpang, turut memperkaya kepekaan dan kemanusiaan kita. Di titik itulah, fungsi sastra menemukan perannya. Joni Ariadinata, Redaktur Majalah Sastra Horison

  • Sejumlah sajak Nissa yang menarasikan berbagai kejahatan dan kekejaman manusia terhadap manusia lain  telah mempertajam pertanyaan: Apa sih arti puisi? Apa sih yang bisa diperbuat puisi ketika keindahan hanya menjadi selubung kesakitan?

     

    Puisi memang tidak bisa memecahkan–apa lagi menyelesaikan–persoalan-persoalan praktis kehidupan dan memang bukan terutama untuk itulah puisi ditulis. Sebaiknya puisi menyederhanakan dirinya. Cukuplah puisi menghadirkan dirinya sebagai ruang singgah dan istirah untuk “diam dan merasakan keramahan pada tangan yang menjabat dan mata merindu”, untuk menikmati “keheningan detik waktu”.  Puisi masih bisa menjadi tempat pulang untuk menyalakan kembali sunyi, untuk menghidupkan kembali imajinasi kanak-kanak, untuk menata dan mendamaikan kembali hati dan kepala, untuk menguatkan kembali daya kontemplasi, agar tetap waras dan tak kehabisan daya cipta di tengah situasi hidup yang diliputi kekacauan, ketidakpastian, dan kefanaan.

     

    (Joko Pinurbo)

  • Parabel Carventes dan Don Quixote merupakan kumpulan cerpen karya Jorge Luis Borges yang diterjemahkan oleh Lutfi Mardiansyah.

    Dipilih dan diterjemahkan dari Collected Fictions of Jorge Luis Borges (Penguin Books, London: 1999) dan The Book of Imaginary Beings (Penguin Books, London: 1974).

    Berisi beberapa cerpen: “Zahir”, ” Pencarian Averroës”, “Aleph”, “Kitab Pasir”, “Yang Lain”, “Simurgh”, “Bahamut”, “Burak”, ” Haniel, Kafziel, Azriel, dan Aniel”, ” Uroboros”, ” Legenda”, dan sembilan cerpen lainnya.

    Silakan unduh terjemahan cerpen “Zahir”.

  • Buku ini dibuka dengan pemahaman umum secara historis, praktis, dan kritis mengenai pascakolonialisme, Dari pemahaman tersebut, buku berpendar untuk menggagas beberapa teori pascakolonialisme seperti Orientalisme, Identitas, Subalternitas, Politik Spasial, Realisme Magis, dan Sastra Perjalanan.

    Orientalisme, dalam pandangan Edward Said, dapat dilihat secara ringkas sebagai suatu cara pandangan Barat terhadap timur sehingga wacana di dalamnya mengandung kekuasaan kolonial atas bangsa Timur, pandangan tersebut melihat, membayangkan, menekankan, membesar-besarkan dan mendistorsi perbedaan antara masyarakat serta budaya Timur (terutama bangsa Arab) dengan bangsa Eropa Barat. Sementara itu, Bhabha meyakini kekuasaan kolonial tersebut pasti akan berdampak pada identitas bangsa dari masyarakat Dunia Ketiga. Namun, sebagai seorang dekonstruksionis, Bhabha menunjukkan bahwa krisis tersebut dapat menjadi alat resistensi yang menghancurkan dominasi kekuasaan kultural dalam identitas bangsa Dunia Ketiga tersebut. Akan tetapi, Dunia Ketiga sendiri sangat identik dengan orang-orang Subaltern, sehingga Gayatri C. Spivak, menjelaskan adanya proses politis yang justru memanfaatkan orang-orang tertindas sebagai alat untuk melanggengkan suatu kekuasaan.

    Selain masalah-masalah tersebut, teori pascakolonial juga merambat pada dimensi ruang, di mana ada kajian ruang yang dikembangkan oleh Sara Upstone, Realisme Magis oleh Wendy B. Faris, dan juga Sastra Perjalanan oleh Carl Thompson. Ketiganya merupakan perkembangan dari teori kritis pascakolonialisme. Tentu saja, semuanya ditulis di dalam buku ini, baik ulasan teoretis dan contoh penerapannya dalam karya sastra. Inilah yang menjadi kekuatan buku ini. Buku ini adalah suatu pendulum yang cukup lengkap dan sangat membantu dalam perluasan pemahaman kajian pascakolonialisme.

  • Tema-tema identitas yang muncul merupakan bagian dari problem yang disebutkan di atas. Kontestasi antargender, etnis, dan agama, yang semua merupakan ekspresi kebebasan yang terbuka setelah Orde Baru, telah menjadi masalah di kemudian hari, terutama konflik horisontal di kalangan masyarakat, yang kemudian disebut dengan istilah “populisme”. Masalah ini tentu bersumber bukan dari nilai-nilai budaya identitas tadi semata, tetapi terutama berkaitan dengan masalah ekonomi dan politik. Di sinilah sastra perlu hadir untuk merenung dan bertanya tentang akar masalah dari fenomena ini, tentang perlunya semangat keadilan dan kemanusiaan yang berangkat dari diagnosa terhadap model ekonomi dan politik yang berbeda. Jika sastra berpaling muka dari problem-problem tersebut—dengan melahirkan karya-karya yang tidak kritis— mungkin tak mengubah posisi sastra di hadapan publik, namun secara substansial sastra bukan lagi jalan keluar dari masalah melainkan justru menjadi bagian dari masalah tersebut.

    Tak ada pilihan lain bagi kita selain kembali menjadi kritis di tengah keterasingan dan eksploitasi ekonomi yang bekerja secara virtual serta banjir informasi yang tidak baik. Dalam kerangka tersebut, mayoritas/minoritas dari kita bukan lagi dipandang Jawa/Cina, laki-laki/perempuan, Islam/Kristen, tapi kaum miskin yang tidak sadar dirinya miskin yang harus menjalani hidup dengan menggunakan hal-hal yang bukan miliknya: kontrakan, kafe, motor, kulkas, bahkan pengetahuan, bahasa, dan ideologi. Semua kita peroleh secara kredit; betapa pun nyaman, semua barang itu adalah pinjaman yang belum kita lunasi.

    Di tengah kondisi itulah puisi-puisi Irwan Segara yang terkumpul dalam antologi Perjalanan Menuju Mars (Gambang, 2018) hadir sebagai karya yang menyegarkan dan layak disambut dengan baik. Tentu belum sehebat Pablo Neruda dan Nizar Qabbani (meski tebakan saya Irwan dipengaruhi oleh keduanya), tapi cukup mewakili semangat kritis terhadap kondisi zamannya yang dikemas dalam ungkapan yang jelas dan langsung serta dengan sentuhan liris yang indah. Penalaran yang logis dengan penggambaran yang realis amat dibutuhkan untuk memasuki kenyataan, dan gaya lirisnya dapat membantu pembaca untuk bertahan merenungkan keadaan yang sering tidak manusiawi.

    (Muhammad Aswar, Penyair)

  • Percayalah, di balik laku spiritual yang mesti ditempuhnya, di balik napas puisinya yang selalu menyiratkan pemahamannya akan kosmologi Hindu-Bali, Mira hanyalah manusia biasa. Perempuan kurus dan cerewet ini bagi saya adalah perempuan konyol, lengkap dengan kisah hidup konyolnya. Salah satu pesan Mira kepada pembaca adalah: bacalah Pinara Pitu sambil bakar dupa dan jangan pernah membaca Pinara Pitu tanpa ditemani secangkir kopi. Konyol, bukan? Sekonyol dia yang sedang asyik-asyiknya belajar menenggak kopi, sekonyong-konyong bila kopi adalah hal paling memabukkan di bumi selain puisi.
    (Komang Ira Puspitaningsih dalam Epilog Pinara Pitu)


Showing 25–36 of 48 results

logo-gambang-footer

Jika Anda Merasa Kesusahan dalam Berbelanja Buku dari Website Kami Silakan Order Melalui Nomor WhatsApp Berikut : 0856-4303-9249

Top