Shop

Showing 37–48 of 49 results


  • Percayalah, di balik laku spiritual yang mesti ditempuhnya, di balik napas puisinya yang selalu menyiratkan pemahamannya akan kosmologi Hindu-Bali, Mira hanyalah manusia biasa. Perempuan kurus dan cerewet ini bagi saya adalah perempuan konyol, lengkap dengan kisah hidup konyolnya. Salah satu pesan Mira kepada pembaca adalah: bacalah Pinara Pitu sambil bakar dupa dan jangan pernah membaca Pinara Pitu tanpa ditemani secangkir kopi. Konyol, bukan? Sekonyol dia yang sedang asyik-asyiknya belajar menenggak kopi, sekonyong-konyong bila kopi adalah hal paling memabukkan di bumi selain puisi.
    (Komang Ira Puspitaningsih dalam Epilog Pinara Pitu)

  • Boleh dikata, “Rahasia Dapur Bahagia”, kumpulan puisi dengan tiga segmen. Segmen Rahasia, ensiklopedi deskriptif historik. Segmen Dapur, ensiklopedi deskriptif kulinerik. Segmen Bahagia, ensiklopedi deskriptif konklutif kisah-kisah, logistik dalam teks tradisi, dan rasa bahagia karena ketersediaan sarana bahagia. Alam dan tanaman, alam dan satwa, alam dan manusia. Suatu sambungan kesadaran reportatif, historik, dan logistik yang menjadi satu paket rahasia-rahasia pusat kebahagiaan. Ada pada pucuk lidah. Bisa pengecap cicipan, citarasa kunyahan, ataupun silat perkataan. Betapa licinnya pucuk lidah.

  • Sudah aku bilang, ketika pertama kali membaca puisimu, aku sudah jatuh hati. Aku terkejut dan begitu cemburu kau bisa membuat puisi seperti itu, ketika kau masih begitu muda. Tapi di balik itu, aku merasa kamu menyimpan luka dan getir. Apa yang menyebabkan kamu seolah kecewa. Aku ingin membaca puisi-puisimu yang lain, tidak hanya yang di sini. Teruslah menulis puisi, terutama dunia kehidupan dari teologi dan kosmologi wayang yang dengan pahit dan indah kamu pahami. Aku cuma berharap kamu kuat dan konsisten dalam merawat, dan sekaligus, menyembuhkan luka. Luka kita, luka dunia. -Aprinus Salam, dosen FIB UGM Yogyakarta.

  • Ditulis oleh 19 penulis perempuan Indonesia: Ade Novi, Ani Rostiani, Cucu Unisah, Desi Oktoriana, Dian Hartati, Dian Rachma, Dian Rennuati, Esti Ismawati, Fini Marjan, Heni Hendrayani, Nella S. Wulan, Nina Raymala, Nuning Damayanti, Rieka Ningrum Prasetyo, Riska Mutiara, Rini Garini Darsodo, Sri Sunarti, Tati Y. Adiwinata, Windhihati Kurnia.

    Pernahkah suatu waktu kita memasuki ruang sunyi, berbicara dengan diri sendiri tentang banyak hal yang kita temui dalam hidup?
    Satu dua peristiwa mungkin mengendap di batin kita. Bukan semata pengalaman diri, bisa juga sebab empati kita pada sesuatu atau pada seseorang yang kita temui dalam keseharian kita, atau boleh jadi kita tersentuh untuk memasuki ruang renung, kembali ke balik diri untuk lebih mengetahui sejatinya diri.

    Sesuatu yang mengusik batin itu, kami tuliskan dan kami persembahkan untuk anda semua di dalam “RENUNG.”

  • Sedikit Pembuka

    Sinta Ridwan

     

    Untuk Senja Hatiku: Kutunggu kau/ di rumah mungil itu// Aku akan siapkan kayu untuk perapian nanti malam// Dan secangkir bintang/ untuk kita berdua// Dari Embun Pagimu – Ujungberung II, 26 Mei 2009

    Setiap malam tiba, hal pertama yang aku cari adalah keberadaan bintang-bintang. Kami seolah saling menyapa: Bagaimana kabarmu hari ini? Indah? Ya, aku dan bintang seperti memiliki keterikatan yang dalam. Selain bintang, sahabatku yang lain adalah senja, Manglayang, awan putih, langit biru, pelangi, hujan, mentari, angin, naskah kuna, tanah, laut, camar, elang, dan naga. Aku juga punya seorang kekasih, Embun Pagi namanya. Namun, sebenarnya hanya satu pelindung hati dan semangat jiwa, bintang itulah.

    Lalu mengapa harus secangkir? Bukan seember, segelas, semangkuk, atau selangit. Alasannya, karena hidup ini sebentar. Seperti ukuran cangkir kecil yang dalam dan melengkung. Waktu ini sempit. Ibaratnya, duniaku hanya sebesar cangkir. Dan mimpi-mimpi yang ada dalam hidupku seperti sedang memenuhi cangkir dengan bintang-bintang penuh warna. Sedih, suka, senang, bahagia, masa lalu, masa kini, dan amarah. Sengaja aku beri warna-warna pada si hidup agar menambah cita rasa bintang dalam cangkirku.

    Ya, secangkir bintang. Dua kata inilah yang mewakili perasaanku dalam judul naskah yang berisikan kumpulan tulisan pendek dan ringan selama perjalanan empat tahun dari 2006 hingga 2009. Dan ini adalah naskah pertamaku. Anakku sendiri, yang lahir dari seluruh tubuhku, berbaur dengan apa yang ada di dekatku.

    Inspirasi untuk menulis “katakanlah” puisi, selalu datang tanpa terdeteksi sebelumnya. Ketika muncul, aku hanya sanggup mempersilakan mereka masuk ke dalam ruang imajinasiku. Entah, menarik atau tidak bagi orang lain. Setidaknya aku bersikap jujur untuk mengungkapkan apa yang aku lihat, apa yang aku dengar, apa yang aku rasa, apa yang aku sentuh, apa yang aku pikir, dan apa yang aku mimpikan pada saat itu juga. Langsung kutuang ke dalam cangkir. Entah berasa pahit, manis, luka, atau ceria.

    Kuyakini, jika imajinasi, mimpi, khayalan, dan ambisi merupakan anugerah yang dimiliki setiap makhluk hidup. Bila dikolaborasi suasana hati akan menjadi lebih berwarna. Hidup semakin lebih hidup.

    Coretan tulisan ini berasal dari apa saja yang aku rasa dan merupakan hal-hal sederhana di kehidupanku sehari-hari. Aku sedang belajar dan mencoba menuangkan isi tentang hal-ihwal di hadapan juga di belakang, mulai dari mata lalu ke otak, ke hati kemudian membentuk kata-kata. Bagiku, si pengidap ill communication stadium tinggi, menulis adalah bentuk ekspresi dari pelampiasan kata-kata yang tertahan, tak terucap, terpendam, lama mengendap, lalu menggunung dalam tubuh.

    Melalui tulisan yang sedikit malu-malu kucing ini, aku mengakui bahwa anak-anakku yang didokumentasikan dalam secangkir bintang dianggap sebagai bentuk puisi sederhana, yang akhirnya mampu kutuang semuanya. Dan aku merasa plong. Lega rasanya.

    Teramat bahagia, ketika melihat ada makhluk-makhluk hidup lainnya mau menyisakan waktu membaca coretan ini. Bagiku, itu adalah bentuk dari perhatian yang tak dapat dibalas dengan apapun. Mungkin, hanya bisa memberikan senyuman paling manis yang dimiliki dan bisikan terima kasih atas semua yang telah membantu dan menemani selama proses pembuatan dan kelahirannya anak kecil ini.

    Kepada semua yang sudah pernah main ke duniaku, membaca tulisan-tulisannya, menggenggam secangkir bintang, menyeruput dan turut menambah rasa warna-warni bintang dalam cangkir ini, kuucapkan: Hatur nuhun pisan.

     

    Ujungberung II, 23 April 2009

  • Buku proses kreatif menulis puisi disusun oleh Hasta Indriyana.

  • Esti memotret hidup dengan bahasa dan ia memakaikan gambarnya lewat katanya—bukan lewat warnanya. Tapi toh titik itu kembali lagi: lewat kata kita menghidupi warna yang diambil Esti dari dalam, katanya, tengahnya hidup dan itulah Mijil yang lagi menurunkan dirinya, dari tembang kesunyian hidup manusia, manusia siapa saja dan manusia mana saja, kita beroleh kabar agak terang bahwa, kata Esti, tengahnya dunia adalah laku atau diri atau, apa saja hendak kita isikan, dunia nasihat yang keluar dari gaibnya dunia Mijil juga. Esti mengatakan potretnya ini lewat nada dari warna gambar hidupnya dan keluarlah sesuatu pernyataan normatif atas hidup yang berlaku untuk siapa saja, tapi sukar itu. Esti: tengahnya laku//terhormat dan bermartabat. Tapi lihatlah “sampai juga gairah asmaradhana” di sana. sampai dan tiba ke “hingga senja megatruh”. (Hudan Hidayat – Sastrawan)

    Kembalinya penyair ke akar tradisi sebagai pilihan pantas dihargai, sebab realitas menunjukkan bahwa akar tradisi memberikan tumpuan yang kuat bagi tumbuhkembangnya karya sastra monumental. Bagi kita yang hidup di dalam tata nilai Timur, sastra yang unggul adalah sastra yang berjalin-berkelindan pada Realitas Hakiki yang metafisis sifatnya. Karya sastra yang dihasilkan oleh tata nilai Timur ini menunjukkan karya yang memiliki keharmonisan di dalam dan sarat makna. Penyair pada akhirnya harus tanggap pada apa yang disebut oleh Romo Dick hartoko sebagai ”Tanda-tanda Zaman”. Perubahan memerlukan penyesuaian. Penyesuaian memerlukan pemahaman. Pemahaman memerlukan kerja keras. Kerja keras akan menghasilkan karya berkualitas. Penyair yang gemilang adalah mereka yang mau bekerja keras saat orang-orang lain tidur, berani mengambil risiko ketika yang lain mundur. Demikianlah, lanskap suasana yang tertangkap saat Esti Ismawati menyanyi megetruh di saat senja. (Dimas Arika Mihardja – Direktur Eksekutif Bengkel Puisi Swadaya Mandiri)

  • Buku ini memuat fragmen-fragmen teoretik “perjalanan hidup subjek” ketika subjek mulai memasuki (struktur) kehidupan hingga berbagai upaya pencarian subjek terhadap dirinya. Sebagai fragmen, setiap tulisan berdiri secara sendiri-sendiri, tetapi menjadi rangkaian dari keseluruhan isi buku. Secara umum, buku ini mengapresiasi berbagai teori dan pendekatan, tetapi terutama sosiologi struktural, postruktural, dan posmarxis. Buku yang dikemas secara esai ini lebih dalam rangka mencari dan membuka masalah daripada menjawab masalah.

  • SULUK PENGANTAR

    Aku merasa sudah memasuki umur cukup tua. Entah kapan aku akan meninggalkan dunia ini. Tentu aku berharap usiaku panjang. Panjang usia dan dalam keadaan sehat sejahtera. Tentu aku juga berharap dosa-dosaku, dosa-dosa kita diampuni.

    Dalam kecemasan entah kapan kita kembali pada-Nya, aku merasa tidak ada persiapan yang cukup. Aku sadar, nanti kalau meninggal aku tidak membawa apa-apa. Untuk itulah, aku berpikir aku perlu meninggalkan sesuatu, yang kelak bisa aku bawa. Salah satu pilihan itu adalah dengan menulis puisi.

    Berbeda ketika aku menulis Mantra Bumi (2016). Waktu itu, aku bisa menulis dengan cepat, dan tidak berpikir panjang, karena kuniati menulis mantra atau doa. Munulis puisi dalam Suluk Bagimu Negeri, aku harus bekerja keras.

    Berdasarkan pengalamanku kali ini, tidak ada pekerjaan lain yang lebih melelahkan daripada membuat puisi. Tidak ada pekerjaan lain yang lebih menuntut konsentrasi tinggi daripada membuat puisi.

    Biasanya, setelah aku berhasil membuat dua atau tiga puisi, aku tertidur kelelahan, dengan perasaan tidak puas. Dalam tidur yang penuh kecemasan, terbersit pertanyaan apakah aku dibangunkan dan bisa membuat puisi lagi.

    Begitulah, segalanya harus kita lewati menuju hari-hari yang kita tak tahu ke mana arah hidup berjalan. Dalam kesempatan ini, tidak ada kata-kata yang lebih pantas untuk mengatakan terimakasih. Terimakasih kepada Tuhan, serta shawalat dan salam kepada junjungan Kanjeng Muhammad.

    Terimakasih kepada buah hatiku, kecintaanku, Ainina Zahra, kepada istriku yang indah, Pristi Salam. Terimakasih kepada sahabat-sahabat di Pusat Studi Kebudayaan UGM, kepada seniman dan sastrawan Yogyakarta, dan kepada para mahasiswaku yang hebat-hebat. Juga kepada sahabat-sahabat yang telah menemani diskusi-diskusi yang panjang di malam-malam yang larut.

    Hormat saya kepada Anda semua.

    Aprinus Salam

  • T. S. Eliot terutama dikenal sebagai pemuka penyair modernis yang dianugerahi Hadiah Nobel Sastra tahun 1948. Selain itu, dia juga esais yang jejaknya selama enam puluh tahun (1905-1965) dibuktikan melalui delapan jilid tebal antologi. Esai-esai yang dia tulis memiliki cakupan tema sangat luas dari mulai sastra, budaya, agama, sampai pendidikan. Melalui esai-esai sastranyalah dia dikenal sebagai salah satu patron aliran Kritisisme Baru dalam kritik sastra.
    Antologi ini memuat enam esai terpenting yang dia tulis tentang hal-hal mendasar dalam kritik sastra, termasuk esai legendarisnya “Tradisi dan Bakat Individu”. Berbeda dengan esai-esai kritik sastranya yang mengupas karya sastrawan tertentu, esai-esai seperti yang dimuat dalam antologi ini lebih memiliki sifat universal yang memungkinkan mereka untuk tetap kontemporer bahkan saat dibaca puluhan tahun kemudian.

  • Buku kumpulan puisi Kedung Darma Romansha.


Showing 37–48 of 49 results

logo-gambang-footer

Jika Anda Merasa Kesusahan dalam Berbelanja Buku dari Website Kami Silakan Order Melalui Nomor WhatsApp Berikut : 0856-4303-9249

Top