Product Types

Product Types

Easily display WooCommerce shortcodes

LATEST PRODUCTS

  • Mengapa saya memberikan judul Bahasa Inggris itu mudah, dikarenakan dua hal penting. Pertama, kita sebagai orang Indonesia dalam kurikulum pendidikan nasional kita sudah cukup dalam mempelajari bahasa Inggris, sejak tingkat pendidikan dasar hingga jenjang universitas. Kedua, Materi bahasa Inggris tidak mengalami perubahan yang signifian dalam waktu yang cepat. Materi bahasa Inggris masih mengenai, pengucapan, tenses, grammar. Masalah utama di Indonesia adalah bagaimana kita bisa berbicara bahasa Inggris. Kami menjawab dengan tiga hal tentang pertanyaan tersebut.

    Pertama, mulai berlatih pengucapan, sebab pengucapan bahasa Inggris berbeda dengan pengucapan bahasa Indonesia. Artinya perbedaan pengucapan akan berdampak pada perbedaan arti dalam bahasa Inggris. Hal lain adalah disaat kita melatih pengucapaan disaat itu pula kita mulai merubah kebiasaan kita dalam bahasa Inggris dari passive menjadi active.

    Kedua, mulai berlatih penyusunan kalimat. Penyusunan kalimat dalam bahasa Inggris bernama tenses. Hal yang utama dari tenses adalah perubahan kata kerja. Buku ini mengulas ada lima tenses dan hal tersebut adalah tenses dasar bagi seseorang yang ingin berbicara bahasa Inggris.

    Ketiga, Jadikan kebiasaaan. Apakah artinya? Kami ingin mengatakan dengan sederhana, selain buku ini dibaca dan mengerjakan latihan, hal yang juga penting adalah mulailah berbicara bahasa Inggris. Setiap hal yang mengenai bahasa Inggris mulai dipelajari lebih serius. Di zaman yang serba canggih belajar bukan hal yang sulit dan membosankan. Melalui menonton youtube yang berbahasa Inggris seperti news, film, dan lagu. Kita sudah mulai membiasakan bahasa Inggris dalam kehidupan kita. Maka, tidak ada alasan untuk mengatakan bahasa Inggris itu sulit, selama kita belum mencoba melangkah untuk berbicara bahasa Inggris. Selamat mencoba, pasti berhasil.

  • Serat Wulang Reh karya Paku Buwana IV digubah dalam bentuk puisi Jawa, tepatnya  tembang macapat berisi 13 pupuh, merupakan masterpiece kebudayaan Jawa yang ditulis tahun 1768-1820 yang berisi nilai-nilai pendidikan yang berasal dari ajaran agama Islam yang meliputi tasawuf, akhlak, sosial dan politik dengan ajaran moral antara lain ririh, rereh, ati-ati, deduga, prayoga, watara dan reringan, menjauhi sikap adigang adigung adiguna.  Ada pun isi ringkas Wulang Reh sesuai dengan bait-baitnya:

    1. Piwulang caranipun tiyang milih guru
    2. Piwulang caranipun tiyang milih sesrawungan
    3. Piwulang sampun ngantow sanget-sanget kapiyandel nggadahi wewatakan adigang, adigung, adiguna.
    4. Piwulang bab tatakrama kanthi lelambaran prabot: deduga, prayoga, watara lan reringa; bedanipun awon lan sae, lan caranipun neniteni wewatekaning manungsa.
    5. Piwulang bab dunungin sembah lelima: bapa biyung, maratua, sedulur tuwo, guru, Gusti.
    6. Piwulang bab cara tiyang suwita ing ratu / negari
    7. Piwulang bab ngendaleni ubaling hawa nepsu
    8. Piwulang bab luhur lan raosing bebuden
    9. Piwulang bab pangrengkuhing sederek & cara maos serat waosan
    10. Piwulang bab dununging panarimah
    11. Piwulang bab warna-warni: agami, pakareman, tepa salira, raharjaning nigari
    12. Tepa tuladha polaning lelampahan, wasiyat leluhur
    13. Piweling & pamujining sang pujangga.
  • Serat Wedhatama was written by Sri Mangkunegara IV in early 1881 a few months before he died. There was no definitive clue when the book began to be written. However, by following the flow of events that colored his life, he apparently wrote Wedhatama when he felt that his death was approaching. He suffered a mild stroke which resulted in impaired eye and left hand. He had ordered his son, KPH Gondosewoyo, who was taking a technical school in Delft, to order a marble stone and steel frame that would later become his mausoleum. In addition he also began to order to build the cemetery Girilayu.

    The burial places of the Mangkunegaran kings were to be built on the grounds that the Mengadeg funeral complex was full. The cemetery is the tomb of Mangkunegara I to the tomb of Mangkunegara III in addition to other Mangkunegaran relatives, one of which was Raden Ayu Semi the first empress of Mangkunegara IV.

    Wedhatama is different from the previous works that were not specifically mentioned for whom those were intended. It was different from Serat Paliatmo which was clearly intended for his sons. Another example is Serat Tripama as a guide for the warriors. Wedhatama is the great words of praise for all humans. In it contained teachings about how to process the feeling, creation, and intention of a human being. It also gives a lesson on how a human relationship with other humans should be regulated. In Wedhatama Sri Mangkunegara IV no longer sorted life in several fragments as in Serat Paliatmo. In it he divided life into fragments or parts such as: family life, homeland, environment, and so on. In contrast, in Wedhatama Mangkunegara IV saw life as a totality.

     

    RM Darajadi Gondodiprojo

  • Buku ini memuat fragmen-fragmen teoretik “perjalanan hidup subjek” ketika subjek mulai memasuki (struktur) kehidupan hingga berbagai upaya pencarian subjek terhadap dirinya. Sebagai fragmen, setiap tulisan berdiri secara sendiri-sendiri, tetapi menjadi rangkaian dari keseluruhan isi buku. Secara umum, buku ini mengapresiasi berbagai teori dan pendekatan, tetapi terutama sosiologi struktural, postruktural, dan posmarxis. Buku yang dikemas secara esai ini lebih dalam rangka mencari dan membuka masalah daripada menjawab masalah.

Featured

  • Buku ini memuat fragmen-fragmen teoretik “perjalanan hidup subjek” ketika subjek mulai memasuki (struktur) kehidupan hingga berbagai upaya pencarian subjek terhadap dirinya. Sebagai fragmen, setiap tulisan berdiri secara sendiri-sendiri, tetapi menjadi rangkaian dari keseluruhan isi buku. Secara umum, buku ini mengapresiasi berbagai teori dan pendekatan, tetapi terutama sosiologi struktural, postruktural, dan posmarxis. Buku yang dikemas secara esai ini lebih dalam rangka mencari dan membuka masalah daripada menjawab masalah.

  • Suatu malam, Rozi Kembara menelepon. Di antara sekian banyak kabar yang disampaikannya, saya tak bisa berhenti memikirkan bahwa seorang kawan kami, yang dulu belajar menulis bersama kami, telah jadi semacam jihadis di Pakistan karena kecewa terhadap puisi. Mungkin ia mencari ketenangan jiwa, kedalaman, pencerahan… saya tidak tahu. Saya bahkan tidak yakin manusia punya jiwa.

    Apa-apa yang dicari dan ditemukannya, atau tidak ditemukannya, agaknya berbeda dari Rozi dan saya. Tetapi saya pun pernah merasa harus mencabut perkara dengan puisi.

    Selepas menerbitkan Misa Arwah lima tahun lalu, saya tak mau menulis dengan cara yang sama, tetapi alangkah sukar melepaskan diri. Alih-alih menemukan suara dan gaya bicara yang lain, saya hanya tergagap-gagap. Semua yang saya ketik terasa palsu dan menyedihkan.

    Kemudian saya menemukan buku-buku Nicanor Parra. Jika puisi sepatutnya berlapis, mendalam, mencerahkan, serta sanggup memindahkan para pembaca ke labirin khayali yang megah dan berbelit-belit, Parra menolak. Dia menyentak kita dengan keterus-terangan, klise, humor sepele. Puisi-puisinya menerbitkan senyum orang kebanyakan, bukan sekadar bahan ngocok para kritikus.

    “Puisi telah jadi surga si dungu yang khidmat selama setengah abad, sampai aku datang dan mendirikan roller coaster-ku,” katanya. “Naiklah, kalau kau mau. Bukan salahku kalau kau turun dengan hidung dan mulut berdarah.”

    Pada waktu yang sama, saya juga menemukan kembali William Carlos Williams, yang dulu saya baca sekilas-sekilas saja. Dalam pengantar Spring and All, Williams bercerita bahwa seorang kritikus menyebut karya-karyanya antipuisi, bukan puisi, sebab dia mengabaikan rima dan ritme. Williams tak sepakat. Baginya, puisi pada umumnya justru menghalangi persepsi pembaca terhadap kenyataan dengan berbagai ilusi. Dia kepengin memulangkan pembaca ke sini, saat ini.

    Parra dan Williams punya kegelisahan serupa, memilih pendekatan yang berbeda, dan keduanya mengubah cara banyak orang memikirkan serta menulis puisi.

    Buku ini tak sepatutnya dibaca sebagai upaya meneruskan inisiatif mereka. Saya hanya berusaha menolong diri sendiri, bukan puisi, apalagi bahasa Indonesia, dari kebuntuan yang menyengsarakan.

    Kepada para pembaca yang berharap saya selamanya menulis seperti dalam Misa Arwah, saya mohon maaf. Janganlah menusuk saya kalau kita bertemu. Apa boleh buat, hal paling menggembirakan bagi saya sebagai penulis adalah kesempatan baru untuk bermain-main.

  • T. S. Eliot terutama dikenal sebagai pemuka penyair modernis yang dianugerahi Hadiah Nobel Sastra tahun 1948. Selain itu, dia juga esais yang jejaknya selama enam puluh tahun (1905-1965) dibuktikan melalui delapan jilid tebal antologi. Esai-esai yang dia tulis memiliki cakupan tema sangat luas dari mulai sastra, budaya, agama, sampai pendidikan. Melalui esai-esai sastranyalah dia dikenal sebagai salah satu patron aliran Kritisisme Baru dalam kritik sastra.
    Antologi ini memuat enam esai terpenting yang dia tulis tentang hal-hal mendasar dalam kritik sastra, termasuk esai legendarisnya “Tradisi dan Bakat Individu”. Berbeda dengan esai-esai kritik sastranya yang mengupas karya sastrawan tertentu, esai-esai seperti yang dimuat dalam antologi ini lebih memiliki sifat universal yang memungkinkan mereka untuk tetap kontemporer bahkan saat dibaca puluhan tahun kemudian.

  • Naskah nomor 31, “Bualan Warto Kemplung, Cerita Bersambung Mustofa Abdul Wahab”, adalah Pemenang Pertama. Karya kritik sastra ini menyoroti strategi dan bentuk naratif novel Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu karya Mahfud Ikhwan (2017), dengan fokus sudut pandang penceritaan oleh dua narator. Pengulas menunjukkan bahwa peristiwa pembacaan adalah upaya untuk memasuki suatu narasi sekaligus proses untuk memahami bagaimana “realitas” terbentuk dalam narasi, baik narasi versi narator pertama maupun yang kedua. Masing-masing versi saling berkelindan sehingga pembaca digiring agar tidak lagi mempersoalkan “realitas” mana yang lebih mungkin untuk dipercayai. Analisis naratologisnya tidak hanya mengungkapkan kepiawaian dan kebaruan estetik dari karya yang dikritik, melainkan juga membuatnya berhasil mengungkapkan posisi pasca-kolonial dan pasca-modern karya tersebut sebagai karya yang melawan lupa, menjadi penulisan sejarah alternatif dari sejarah resmi, dan sekaligus sebuah karya yang sadar-diri atau metafiksi.

    Kekuatannya yang lain adalah kemampuan karya kritik ini menerapkan berbagai teori yang menjadi dasar perspektifnya dengan sangat cermat tanpa membuat teksnya mengalami penindasan. Karya kritik ini memperlakukan teori secara terbuka dan membiarkannya membangun hubungan dialektik dengan teks sehingga ia berhasil mengungkap kebaruan karya yang diteliti dan sekaligus menemukan kontribusi karya terhadap kerangka teori yang ada. Kemampuan kritik ini dalam menempatkan Dawuk dalam konteks sejarah sastra Indonesia dan bahkan dunia adalah kekuatan lainnya yang patut digarisbawahi. Hal itu tidak hanya menunjukkan bahwa sang penulis mempunyai wawasan sejarah sastra yang memadai, melainkan juga memperlihatkan kemampuannya menggunakan wawasan tersebut dengan tepat.[]

     

    Faruk, Nirwan Dewanto, Wicaksono Adi

    Pertanggungjawaban Dewan Juri Sayembara Kritik Sastra Dewan Kesenian Jakarta 2019

    (Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 4 Desember 2019)

Top Rated

  • Mutia Sukma, lahir di Yogyakarta, 12 Mei 1988. Lulus di Jurusan Sastra Indonesia UNY. Pendidikan terakhirnya ditempuh di Pascasarjana Ilmu Sastra, UGM. Menulis puisi dan esai sastra yang di publikasikan di beberapa koran, majalah dan antologi bersama. Mendapat sejumlah kejuaraan juga penghargaan di bidang pembacaan puisi, penulisan puisi, serta pendidikan.

  • Mizraim diarak ke alun-alun. Pengadilan terbuka, seperti yang sering terjadi di desa itu, bukanlah tempat untuk membuktikan bahwa seseorang tidak bersalah melainkan sebuah usaha untuk mendesak seseorang mengaku. Di tiang gantung Mizraim berteriak-teriak bahwa ia tak bersalah; bahwa penduduk desa tak tahu berterimakasih. Ia menyebutkan jasa-jasanya di medan perang, menyebut nama teman-temannya yang mati, mengutuk betapa anak muda zaman sekarang tak menghargai jasa pahlawan yang membuat mereka bisa hidup tanpa ancaman. Mizraim baru diam saat tali menyentuh kulit lehernya. Ia menelan ludah. “Seperti dugaanku, kalian bersekongkol untuk membunuhku. Tapi, kenapa baru sekarang?”
    Orang yang Ingin Mati sebagai Pahlawan
    Ia mulai membuka kios setelah putus asa mencari kerja selama satu tahun pasca lulus SMA. Kemarau pencari kerja yang tekun, sebenarnya, selain itu ia rajin sembahyang dan selalu bangun saat mendengar adzan subuh. Sesungguhnya ia layak menuntut keadilan pada Tuhan atau memprotes ibunda tercinta mengapa ia dilahirkan ke dunia. Tetapi ia tidak melakukannya. Ia bukan orang yang mau berdebat dengan nasib. Kedua orangtuanya lalu menyarankan agar ia menikah saja, mereka percaya pernikahan akan membuka pintu rezeki. Meski Kemarau tak menolak ide itu, toh ia tetap belum menikah hingga detik ini. Bukan karena tak ada perempuan yang mau. Soal asmara, ia punya keyakinan sendiri.
    Jam Sibuk

     

  • Ada seni menulis, ada seni membaca. Adalah seni membaca yang menentukan makna tulisan. Menghadapi cerita-cerita Ayu Weda, saya menerima cerita-ceritanya sebagai cerita berdasarkan pengalaman, penghayatan, dan pengamatan seorang perempuan Indonesia dalam perjuangan eksistensialnya—yakni mengada dengan cara menyatakannya.

    Cerita-cerita ini menunjukkan bagaimana subjek keluar-masuk dunia objektif yang diungkapnya, antara dingin dan emosional, terharu dan bingung, kritis dan lebur silih berganti, dalam pergulatan untuk mendapatkan kejernihan dan pencerahan di dunia yang amburadul. Selengkapnya

     

Best Sellers

  • SEPANJANG jalan, ia mencatat sebuah kalimat. Kemudian memungut diksi, mencium aroma kematian dan menjadikannya bait-bait ingatan. Itulah hakikat seorang pejalan yang digambarkan Yopi Setia Umbara dalam kumpulan puisi Mengukur Jalan, Mengulur Waktu (2015). Bisa dipastikan keseluruhan puisinya bertaut antara diri (aku), perjalanan, dan ingatan tentang perjumpaan.

    Untung saja, Yopi memaknai itu semua dengan mata seorang penyair. Ia bergerak dari ruang material hingga ke ruang batin paling intim. Seperti sebuah renungan ikhwal perjalanan mencari diri. Menariknya, seorang penyair ketika merumuskan, memaknai dan mengingat waktu akan berbeda dengan seorang fisikawan dan pebisnis. Misalnya, dalam teori relativitas ala Eintens bahwa “duduk di tungku api lebih lama dari duduk di dekat seorang perempuan cantik”. Seorang pebisnis (entreprener) akan merumuskan “waktu adalah uang”. Apakah Yopi mirip pemain sepakbola (Indonesia) yang melulu mengulur waktu ketika berada dalam sebuah pertandingan? Selengkapnya

  • Mizraim diarak ke alun-alun. Pengadilan terbuka, seperti yang sering terjadi di desa itu, bukanlah tempat untuk membuktikan bahwa seseorang tidak bersalah melainkan sebuah usaha untuk mendesak seseorang mengaku. Di tiang gantung Mizraim berteriak-teriak bahwa ia tak bersalah; bahwa penduduk desa tak tahu berterimakasih. Ia menyebutkan jasa-jasanya di medan perang, menyebut nama teman-temannya yang mati, mengutuk betapa anak muda zaman sekarang tak menghargai jasa pahlawan yang membuat mereka bisa hidup tanpa ancaman. Mizraim baru diam saat tali menyentuh kulit lehernya. Ia menelan ludah. “Seperti dugaanku, kalian bersekongkol untuk membunuhku. Tapi, kenapa baru sekarang?”
    Orang yang Ingin Mati sebagai Pahlawan
    Ia mulai membuka kios setelah putus asa mencari kerja selama satu tahun pasca lulus SMA. Kemarau pencari kerja yang tekun, sebenarnya, selain itu ia rajin sembahyang dan selalu bangun saat mendengar adzan subuh. Sesungguhnya ia layak menuntut keadilan pada Tuhan atau memprotes ibunda tercinta mengapa ia dilahirkan ke dunia. Tetapi ia tidak melakukannya. Ia bukan orang yang mau berdebat dengan nasib. Kedua orangtuanya lalu menyarankan agar ia menikah saja, mereka percaya pernikahan akan membuka pintu rezeki. Meski Kemarau tak menolak ide itu, toh ia tetap belum menikah hingga detik ini. Bukan karena tak ada perempuan yang mau. Soal asmara, ia punya keyakinan sendiri.
    Jam Sibuk

     

  • Buku proses kreatif menulis puisi disusun oleh Hasta Indriyana.

  • Buku kumpulan puisi Kedung Darma Romansha.

On Sale

  • Pendidikan karakter menjadi trending topik dalam pemerintah sekarang karena disadari bahwa membangun karakter tidak mungkin dilepaskan dari maju mundurnya sebuah bangsa dan menjadi amanat para faunding fathers kita untuk diwujudkan. Pendidikan karakter dalam kurikulum sekolah tidak dibelajarkan secara mandiri sebagai mata pelajaran tetapi dimasukkan ke dalam seluruh mata pelajaran yang sudah ada, dalam hal ini Pelajaran Sastra Indonesia. Pemilihan bahan ajar sastra berbasis karakter dalam buku ini sudah melalui desain yang panjang, dimulai dari studi pendahuluan yang bertujuan melihat kemampuan siswa, dilanjutkan need analysis, dan workshop yang diselenggarakan di SMKN II Klaten pada tanggal 19 Mei 2015. Diharapkan buku sastra Indonesia berbasis karakter yang disusun ini dapat dioperasionalkan secara mudah dan menyenangkan. Seluruh bahan ajar yang dipilih di dalam buku ini disesuaikan dengan karakter yang akan dibelajarkan. Pada bagian akhir buku ini juga disertakan lampiran bahan ajar alternatif untuk sastra Indonesia SMA, SMK, MA.

  • Buku ini merupakan kumpulan geguritan (puisi berbahasa Jawa) yang ditulis antara lain oleh: Prof. Dr. Agus Nuryatin, M.Hum. (Univ. Negeri Semarang), Prof. Dr. H. Bani Sudardi, M. Hum. (Univ. Sebelas Maret Surakarta), Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd. (Univ. Negeri Malang), Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum. (Univ. Negeri Jember), Prof. Dr. Suminto A. Sayuti (Univ. Negeri Yogyakarta), Prof. Dr. Suwardi Endraswara, M.Hum. (Univ. Negeri Yogyakarta), Drs. Pardi Suratno, M.Hum. (Kepala Balai Bahasa Yogyakarta), Budhi Setyawan (Depkeu RI), dan beberapa penggurit lainnya. Buku ini dikuratori oleh Dr. Esti Ismawati, M.Pd.

    Sale!
  • Mizraim diarak ke alun-alun. Pengadilan terbuka, seperti yang sering terjadi di desa itu, bukanlah tempat untuk membuktikan bahwa seseorang tidak bersalah melainkan sebuah usaha untuk mendesak seseorang mengaku. Di tiang gantung Mizraim berteriak-teriak bahwa ia tak bersalah; bahwa penduduk desa tak tahu berterimakasih. Ia menyebutkan jasa-jasanya di medan perang, menyebut nama teman-temannya yang mati, mengutuk betapa anak muda zaman sekarang tak menghargai jasa pahlawan yang membuat mereka bisa hidup tanpa ancaman. Mizraim baru diam saat tali menyentuh kulit lehernya. Ia menelan ludah. “Seperti dugaanku, kalian bersekongkol untuk membunuhku. Tapi, kenapa baru sekarang?”
    Orang yang Ingin Mati sebagai Pahlawan
    Ia mulai membuka kios setelah putus asa mencari kerja selama satu tahun pasca lulus SMA. Kemarau pencari kerja yang tekun, sebenarnya, selain itu ia rajin sembahyang dan selalu bangun saat mendengar adzan subuh. Sesungguhnya ia layak menuntut keadilan pada Tuhan atau memprotes ibunda tercinta mengapa ia dilahirkan ke dunia. Tetapi ia tidak melakukannya. Ia bukan orang yang mau berdebat dengan nasib. Kedua orangtuanya lalu menyarankan agar ia menikah saja, mereka percaya pernikahan akan membuka pintu rezeki. Meski Kemarau tak menolak ide itu, toh ia tetap belum menikah hingga detik ini. Bukan karena tak ada perempuan yang mau. Soal asmara, ia punya keyakinan sendiri.
    Jam Sibuk

     

  • Sajak-sajak dalam antologi puisi Matahari Sebutir Pasir ini bisa saya katakan sebagai sajak-sajak yang terselamatkan. Sejak menulis puisi di bangku sekolah menengah, saya tidak pintar mendokumentasikan karya sendiri—bahkan mungkin kesadaran pentingnya menyimpan sebuah karya tidak ada dalam benak saya kala itu. Hal itu dikarenakan saya terlibat dalam gerakan pelajar dan berlanjut menjadi seorang aktivis, pada masa yang menuntut atau menyita waktu saya berlebihan, juga pikiran, tenaga dan jiwa saya sendiri, sehingga intensi saya terhadap puisi menurun akibat seringnya turun ke jalan dan merapat dalam kumpulan para aktivis, seniman dan budayawan pada masa transisi politik di negeri ini.

     

    Meski proses kreatifitas saya tersenda-sendat oleh idealisme politik-aktivisme yang saya hayati sebagai kewajiban anak bangsa, pada saat yang sama saya ikut menjadi pemimpin redaksi Senthir, jurnal kebudayaan untuk pelajar pada masa itu, serta meluangkan waktu mengirimkan tulisan, baik puisi, cerpen dan esai ke media massa dan majalah sastra. Sekarang, yang terlacak dari proses kepenyairan saya di masa pelajar tersebut dapat dijumpai pada sejumlah buku antologi seperti Horison Kakilangit (2001), Bengkel Sastra (1998), Pelajar mengenang Chairil (1998). Selebihnya telah lenyap, tidak terlacak lagi.

     

    Bagi saya sekarang, kepenyairan harus sungguh-sungguh diperjuangkan dan tidak bisa dianaktirikan. Saya tersadarkan oleh pernyataan Saini K.M, “Kepenyairan tidak terwujud berdasarkan keingintahuan saja, kepenyairan juga bukan karena menguasai dengan baik teknik menulis puisi. Kepenyairan lebih berdasarkan pada Panggilan!” Saya tidak memungkiri, proses kepenyairan di masa pelajar masih sebatas keinginan dan tujuan-tujuan sederhana. Meski begitu, pergulatan saya di ranah perpolitikan juga tidak luput dari pernyataan Chairil Anwar yang berkata, “Tiap seniman harus seorang perintis jalan, tidak segan memasuki hutan rimba penuh binatang buas, mengarungi lautan lebar tak bertepi, seniman ialah tanda hidup yang melepas bebas!”

     

    Saya yang melibatkan diri dalam politik, turun ke jalan, tanpa sadar telah menafikan akan pentingnya sebuah sajak berhadapan dengan kekuasaan. Saya juga memaklumi, masa itu adalah masa pencarian, di mana saya masih memandang segala kemungkinan dan ketepatan dengan sebelah mata. Sajak-sajak dalam antologi ini, yang saya tulis dari tahun 1996-2010, merekam peristiwa-peristiwa Orde Baru, tumbangnya dan masa transisi yang berliku, baik yang saya terlibat langsung atau pun tidak. Di samping rekaman peristiwa itu, terdapat tema terkait persoalan-persoalan cinta, transformasi desa-kota, spiritualitas, dan lain sebagainya.

     

    Bisa dikatakan, saya adalah seniman yang bangkrut atas keteledoran saya. Saya banyak kehilangan tulisan-tulisan saya mengingat saya senang berkeliaran kesana-kemari, bertemu kawan yang kamarnya saya pinjam untuk tidur atau berkarya. Selama kepenyairan, saya juga mengalami goncangan hebat yang membuat saya patah dan surut semangat atas hilangnya tiga kumpulan sajak saya, yang dipinjam kawan perempuan. Bagi saya karya itu sangat penting dan berharga, semoga yang termaksud dapat mengetahui hal ini dan bisa secepatnya mencari dan mengembalikan untuk memulihkan harapan dan mimpi-mimpi saya.

     

    Sajak-sajak dalam kumpulan sajak ini saya temukan dalam simpanan kawan saya, Andi Magadhon, yang tertinggal di rumahnya. Saya sangat berterima kasih kepadanya serta pihak-pihak lain yang tidak bisa saya sebutkan. Harapan saya, semoga kumpulan sajak ini bermanfaat dan semakin memperkaya dunia sastra di tanah air Indonesia.

logo-gambang-footer

Jika Anda Merasa Kesusahan dalam Berbelanja Buku dari Website Kami Silakan Order Melalui Nomor WhatsApp Berikut : 0856-4303-9249

Top