Product Types

Product Types

Easily display WooCommerce shortcodes

LATEST PRODUCTS

  • Percakapan dalam Rahim merupakan kumpulan cerita pendek yang mencakup berbagai tema dan genre. Ini adalah sebuah percobaan dan eksplorasi pengarang mengenai eksistensi manusia di dunia. Cerita-cerita dalam buku ini menyinggung sejumlah permasalahan penting, alam batin manusia dan mitos yang jarang diangkat dalam cerita-cerita hari ini.

    Sebagai penulis yang baru muncul ke permukaan, Irwan Segara banyak mengeksplorasi sisi batin manusia, mempertanyakan, dan menafsir ulang peristiwa-peristiwa yang dialami para tokoh dalam karyanya, yang merupakan cerminan dari alam batin kita semua.

  • Saut Situmorang lahir 29 Juni 1966 di kota kecil Tebing Tinggi, Sumatera Utara, tapi dibesarkan sebagai “anak kolong” di Kota Medan. Setelah hidup merantau sebagai imigran di Selandia Baru selama 11 tahun, di mana dia juga melakukan pendidikan S1 (Sastra Inggris, Victoria University of Wellington) dan S2 (Sastra Indonesia, University of Auckland)-nya sambil mengajar Bahasa dan Sastra Indonesia di kedua almamaternya itu, sekarang menetap di Jogjakarta sebagai penulis full-time. Buku Perahu Mabuk edisi baru ini merangkum puisi-puisinya yang pernah ditulis sejak tahun 1997 hingga tahun 2013.

  • Iliad yang ditulis Homer lebih dari 2800 tahun yang lalu adalah karya besar sastra dunia yang tak habis-habisnya dibicarakan.
    Nama-nama, peristiwa, serta berbagai benda dalam kisah ini kini banyak mewarnai istilah dalam dunia ilmu pengetahuan, mitos, dan legenda yang membentuk peradaban dunia.

    Kini, karya besar yang menghadapkan dua tokoh legendaris Achilles (Yunani) dan Hector (Trojan) ini hadir secara lengkap dalam Bahasa Indonesia.

    Sale!
  • Suites adalah korpus berisi puisi-puisi pendek yang dikerjakan Federico García Lorca dalam rentang 1920-1923, dan baru diterbitkan 60 tahun kemudian, 47 tahun setelah kematiannya. Suites berisi sekuens-sekuens puitik, serangkaian fragmen lirik yang dikelompokkan secara bebas ke dalam tema tunggal, melalui analogi, dengan apa yang telah dikerjakan oleh para komponis musik favoritnya. Sejumlah puisi dalam Suites cenderung menunjukkan narasi yang rusak atau diinterupsi dengan aku-lirik sebagai protagonis sementara, sedangkan puisi-puisi lain begitu dekat dengan bentuk ideal haiku, terutama puisi-puisi pendek yang menangkap momen-momen pengalaman tanpa kehadiran aku-lirik menyela di antara penyair dan pembacanya.

Featured

  • Perjalanan hidup seseorang secara relatif tidak ada yang sama. Dikatakan relatif dikarenakan terdapat berbagai lapis dan sifat, jenis,
    ataupun bentuk pengalaman yang dipersepsi (diinterenalisasi) secara partikular. Persoalan tersebut dapat dilihat dalam pemetaan struktur dan strukturisasi yang dialami seseorang. Untuk itu, tulisan ini akan memilih salah satu pensubjekan, yakni bagaimana seseorang mengalami persubjekan menjadi warga negara. Itu pun terbatas dalam melihat kondisi dan situasi di negara Indonesia.

    Tentu, sebagaimana diketahui, cukup banyak lapis-lapis ruang struktural (dalam ruangnya masing-masing), yang dialami seseorang. Bahkan berbagai lapis ruang tersebut dapat diidentifiasi dalam berbagai cara dan sudut pandang. Jika lapis tersebut bersifat “administrasi” maka kita mengenalnya sebagai lapis keluarga (rumah), kampung, desa (atau kelurahan, kecamatan, kebupaten/kota, propinsi, dan nasional/negara. Karakter setiap ruang juga berbeda, walaupun mungkin di tataran nasional terdapat sejumlah kesamaan.

  • Paling tidak, selalu terdapat ruang bebas sebagai panggung alternatif dalam diri kita untuk terus menerus, memberi dan membuka peluang mencari dan memperbanyak panggung-panggung alternatif yang dimungkinkan oleh rasa dan gairah yang mampu terus bergembira, gairah dan rasa yang tidak terganggu untuk terus besenang-senang, baik sebagai cara mengelola kekuatan strukural, maupun sebagai cara hidup itu sendiri.

  • Pada awalnya, penjelaskan “teori ruang antara” lebih dimaksudkan sebagai kekuatan bahwa seseorang berdiri dalam dua posisi. Seorang penyair akan lebih mendapatkan “penghargaan” jika dia juga seorang buruh. Paling tidak ada dua modal (dalam pengertian Bourdieu) berbeda yang dibawanya ketika ia baik menjadi penyair maupun menjadi buruh. Seorang pejabat akan jauh lebih berharga jika dia juga seorang seniman.

    Itu artinya, ruang antara tetap harus dipertahankan posisinya sebagai ruang pembatas itu sendiri. Ruang antara bukan bukan untuk dikuasai atau diduduki sehingga akan menciptakan banyak ruang antara dan semakin mengaburkan identitas, posisi-posisi, atau pun berbagai kategori entitas lainnya. Jika yang terjadi semakin beragamnya ruang antara, maka hal itu sekaligus akan mengaburkan penghargaan terhadap kateori-ketegori entitas.

  • Munculnya karya baru sebuah e-book tentang Kartini dari Monash University yang berjudul Kartini The Complete Writings 1898-1904 Edited and Translated by Joost Cote (terbit pertama tahun 201 4 dan dishare ke publik dalam bentuk pdf buku tahun 2021 ) rupanya telah memantik nasionalisme Saudara Dr. Esti Ismawati, MPd dkk untuk kembali membaca, memahami, dan menelaah pemikiran RA Kartini yang memang sangat diperlukan bagi bangsa Indonesia yang secara kodrat menjadi tempat lahirnya Kartini.

     

    Mengenang atau memperingati hari Kartini pada tanggal 21 April setiap tahunnya selayaknya bukan hanya menitikberatkan pada aspek lahiriah formal dengan berkonde, melainkan juga merenungkan secara jernih pikiran-pikiran apa sesungguhnya yang dibawa Kartimi dalam kehidupan singkatnya. Selama ini Kartini hanya dikenal dan dikenang sebagai pahlawan emansipasi Wanita di Indonesia. Soal apa persisnya pikiran-pikiran itu dan bagaimana Kartini merumuskannya belum pernah benar-benar diungkap kecuali untuk mereka yang berinisiatif mencari tahu sendiri. Semoga apa yang ditulis oleh Dr. Esti Ismawati, MPd dari Universitas Widya Dharma Klaten dan kawan-kawan dosen dari UGM, UNS, UNAIR, UNDIP, UIN Walisongo Semarang, Univ. Dian Nuswantoro Semarang, UMP Purwokerto, Universitas Tidar Magelang, UNSRI Palembang, IAIN Surakarta, Lembaga Budaya dan Adat Keraton Surakarta, UPS Tegal, STKIP PGRI Jombang, dan Guru SD di Bandung ini merupakan tulisan yang dapat dikatakan sebagai bentuk rekonstruksi dan hakikat perjuangan Kartini.

     

    Saya menyambut baik hadirnya buku KARTINI DALAM BERBAGAI PERSPEKTIF yang ditulis para dosen di tengah pandemic covid 1 9 yang hingga kini belum merada. Semangat mereka perlu mendapatkan apresiasi dari khalayak dengan membaca buku ini. Saya berpendapat bahwa buku ini merupakan “Sebuah buku yang sangat penting bagi sejarah perempuan Indonesia yang gigih mewujudkan emansipasi khususnya dalam bidang Pendidikan” yang layak untuk dibaca.

     

    Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian
    Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

     

    Prof. Ocky Karna Radjasa, MSc, PhD

Top Rated

  • PROLOG

    Ketika kupijakkan kaki di gerbang sekolah ini untuk pertama kalinya semenjak lima tahun silam, seseorang menepuk pundakku dari belakang.

     “Jonat!” Mudah saja aku mengenalinya. Dia masih konsisten pasang tampang tanpa ekspresi. “Hei! Kupikir kamu nggak bakalan datang reuni. Dengar-dengar, kamu kuliah di luar negeri?”

    “Begitulah. Aku datang sebab aku punya utang denganmu. Saat kemari, aku berharap kau belum bunuh diri. Dan harapanku terkabul.”

     “Terimakasih soal harapanmu itu. Tapi maaf, aku ngerasa belum pernah pinjami kamu uang.”

    “Ingatkah kau, ketika malam itu kau berdiri di pinggir jalan seperti orang gila yang memukuli wajah sendiri? Ingatkah kau, kalau semenjak malam itu kau jadi begitu susah diajak omong, jadi pendiam, penyendiri, serupa orang putus asa? Ingatkah kau, kalau malam itu catatan harianmu tertinggal di tasku?”

    Aku diam sejenak. Memori buruk itu menghantuiku kembali. Lalu kujawab dengan terbata-bata, “Oh, ya ya ya! Catatan harian. Itu yang kamu maksud utang?”

    “Persis. Dan sekarang tulisannya telah luntur, tak terbaca.”

    “Santai, Jon. Lupakan saja. Sekarang ayo kita masuk, cari kawan-kawan lainnya.” Aku berusaha mengalihkannya dari bahasan soal masa lalu suram.

    Belum sempat kami melangkah masuk, Jonat lebih dulu mengeluarkan sebuah buku dari tasnya. “Ini, kukembalikan padamu. Anggap utangku lunas.” Ia sodorkan kepadaku seraya menjelaskan, “Aku ketik ulang catatan harianmu. Beberapa kuubah sesuai selera estetisku. Ada yang kuhapus, ada yang kutambahkan. Karena kau lipat setiap awal bulan Agustus, maka pada sampul depannya kutulis ‘Melipat Agustus’.”

    Aku telah bersusah payah melupakan diriku yang lampau. Sedang kini, segalanya kembali ke genggamanku. Tanganku menggigil menerima buku catatan harian itu.

  • Suites adalah korpus berisi puisi-puisi pendek yang dikerjakan Federico García Lorca dalam rentang 1920-1923, dan baru diterbitkan 60 tahun kemudian, 47 tahun setelah kematiannya. Suites berisi sekuens-sekuens puitik, serangkaian fragmen lirik yang dikelompokkan secara bebas ke dalam tema tunggal, melalui analogi, dengan apa yang telah dikerjakan oleh para komponis musik favoritnya. Sejumlah puisi dalam Suites cenderung menunjukkan narasi yang rusak atau diinterupsi dengan aku-lirik sebagai protagonis sementara, sedangkan puisi-puisi lain begitu dekat dengan bentuk ideal haiku, terutama puisi-puisi pendek yang menangkap momen-momen pengalaman tanpa kehadiran aku-lirik menyela di antara penyair dan pembacanya.

  • Sejumlah sajak Nissa yang menarasikan berbagai kejahatan dan kekejaman manusia terhadap manusia lain  telah mempertajam pertanyaan: Apa sih arti puisi? Apa sih yang bisa diperbuat puisi ketika keindahan hanya menjadi selubung kesakitan?

     

    Puisi memang tidak bisa memecahkan–apa lagi menyelesaikan–persoalan-persoalan praktis kehidupan dan memang bukan terutama untuk itulah puisi ditulis. Sebaiknya puisi menyederhanakan dirinya. Cukuplah puisi menghadirkan dirinya sebagai ruang singgah dan istirah untuk “diam dan merasakan keramahan pada tangan yang menjabat dan mata merindu”, untuk menikmati “keheningan detik waktu”.  Puisi masih bisa menjadi tempat pulang untuk menyalakan kembali sunyi, untuk menghidupkan kembali imajinasi kanak-kanak, untuk menata dan mendamaikan kembali hati dan kepala, untuk menguatkan kembali daya kontemplasi, agar tetap waras dan tak kehabisan daya cipta di tengah situasi hidup yang diliputi kekacauan, ketidakpastian, dan kefanaan.

     

    (Joko Pinurbo)

Best Sellers

  • SEPANJANG jalan, ia mencatat sebuah kalimat. Kemudian memungut diksi, mencium aroma kematian dan menjadikannya bait-bait ingatan. Itulah hakikat seorang pejalan yang digambarkan Yopi Setia Umbara dalam kumpulan puisi Mengukur Jalan, Mengulur Waktu (2015). Bisa dipastikan keseluruhan puisinya bertaut antara diri (aku), perjalanan, dan ingatan tentang perjumpaan.

    Untung saja, Yopi memaknai itu semua dengan mata seorang penyair. Ia bergerak dari ruang material hingga ke ruang batin paling intim. Seperti sebuah renungan ikhwal perjalanan mencari diri. Menariknya, seorang penyair ketika merumuskan, memaknai dan mengingat waktu akan berbeda dengan seorang fisikawan dan pebisnis. Misalnya, dalam teori relativitas ala Eintens bahwa “duduk di tungku api lebih lama dari duduk di dekat seorang perempuan cantik”. Seorang pebisnis (entreprener) akan merumuskan “waktu adalah uang”. Apakah Yopi mirip pemain sepakbola (Indonesia) yang melulu mengulur waktu ketika berada dalam sebuah pertandingan? Selengkapnya

  • Buku proses kreatif menulis puisi disusun oleh Hasta Indriyana.

  • Mizraim diarak ke alun-alun. Pengadilan terbuka, seperti yang sering terjadi di desa itu, bukanlah tempat untuk membuktikan bahwa seseorang tidak bersalah melainkan sebuah usaha untuk mendesak seseorang mengaku. Di tiang gantung Mizraim berteriak-teriak bahwa ia tak bersalah; bahwa penduduk desa tak tahu berterimakasih. Ia menyebutkan jasa-jasanya di medan perang, menyebut nama teman-temannya yang mati, mengutuk betapa anak muda zaman sekarang tak menghargai jasa pahlawan yang membuat mereka bisa hidup tanpa ancaman. Mizraim baru diam saat tali menyentuh kulit lehernya. Ia menelan ludah. “Seperti dugaanku, kalian bersekongkol untuk membunuhku. Tapi, kenapa baru sekarang?”
    Orang yang Ingin Mati sebagai Pahlawan
    Ia mulai membuka kios setelah putus asa mencari kerja selama satu tahun pasca lulus SMA. Kemarau pencari kerja yang tekun, sebenarnya, selain itu ia rajin sembahyang dan selalu bangun saat mendengar adzan subuh. Sesungguhnya ia layak menuntut keadilan pada Tuhan atau memprotes ibunda tercinta mengapa ia dilahirkan ke dunia. Tetapi ia tidak melakukannya. Ia bukan orang yang mau berdebat dengan nasib. Kedua orangtuanya lalu menyarankan agar ia menikah saja, mereka percaya pernikahan akan membuka pintu rezeki. Meski Kemarau tak menolak ide itu, toh ia tetap belum menikah hingga detik ini. Bukan karena tak ada perempuan yang mau. Soal asmara, ia punya keyakinan sendiri.
    Jam Sibuk

     

On Sale

  • Pendidikan karakter menjadi trending topik dalam pemerintah sekarang karena disadari bahwa membangun karakter tidak mungkin dilepaskan dari maju mundurnya sebuah bangsa dan menjadi amanat para faunding fathers kita untuk diwujudkan. Pendidikan karakter dalam kurikulum sekolah tidak dibelajarkan secara mandiri sebagai mata pelajaran tetapi dimasukkan ke dalam seluruh mata pelajaran yang sudah ada, dalam hal ini Pelajaran Sastra Indonesia. Pemilihan bahan ajar sastra berbasis karakter dalam buku ini sudah melalui desain yang panjang, dimulai dari studi pendahuluan yang bertujuan melihat kemampuan siswa, dilanjutkan need analysis, dan workshop yang diselenggarakan di SMKN II Klaten pada tanggal 19 Mei 2015. Diharapkan buku sastra Indonesia berbasis karakter yang disusun ini dapat dioperasionalkan secara mudah dan menyenangkan. Seluruh bahan ajar yang dipilih di dalam buku ini disesuaikan dengan karakter yang akan dibelajarkan. Pada bagian akhir buku ini juga disertakan lampiran bahan ajar alternatif untuk sastra Indonesia SMA, SMK, MA.

  • Iliad yang ditulis Homer lebih dari 2800 tahun yang lalu adalah karya besar sastra dunia yang tak habis-habisnya dibicarakan.
    Nama-nama, peristiwa, serta berbagai benda dalam kisah ini kini banyak mewarnai istilah dalam dunia ilmu pengetahuan, mitos, dan legenda yang membentuk peradaban dunia.

    Kini, karya besar yang menghadapkan dua tokoh legendaris Achilles (Yunani) dan Hector (Trojan) ini hadir secara lengkap dalam Bahasa Indonesia.

    Sale!
  • Buku ini merupakan kumpulan geguritan (puisi berbahasa Jawa) yang ditulis antara lain oleh: Prof. Dr. Agus Nuryatin, M.Hum. (Univ. Negeri Semarang), Prof. Dr. H. Bani Sudardi, M. Hum. (Univ. Sebelas Maret Surakarta), Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd. (Univ. Negeri Malang), Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum. (Univ. Negeri Jember), Prof. Dr. Suminto A. Sayuti (Univ. Negeri Yogyakarta), Prof. Dr. Suwardi Endraswara, M.Hum. (Univ. Negeri Yogyakarta), Drs. Pardi Suratno, M.Hum. (Kepala Balai Bahasa Yogyakarta), Budhi Setyawan (Depkeu RI), dan beberapa penggurit lainnya. Buku ini dikuratori oleh Dr. Esti Ismawati, M.Pd.

    Sale!
  • Mizraim diarak ke alun-alun. Pengadilan terbuka, seperti yang sering terjadi di desa itu, bukanlah tempat untuk membuktikan bahwa seseorang tidak bersalah melainkan sebuah usaha untuk mendesak seseorang mengaku. Di tiang gantung Mizraim berteriak-teriak bahwa ia tak bersalah; bahwa penduduk desa tak tahu berterimakasih. Ia menyebutkan jasa-jasanya di medan perang, menyebut nama teman-temannya yang mati, mengutuk betapa anak muda zaman sekarang tak menghargai jasa pahlawan yang membuat mereka bisa hidup tanpa ancaman. Mizraim baru diam saat tali menyentuh kulit lehernya. Ia menelan ludah. “Seperti dugaanku, kalian bersekongkol untuk membunuhku. Tapi, kenapa baru sekarang?”
    Orang yang Ingin Mati sebagai Pahlawan
    Ia mulai membuka kios setelah putus asa mencari kerja selama satu tahun pasca lulus SMA. Kemarau pencari kerja yang tekun, sebenarnya, selain itu ia rajin sembahyang dan selalu bangun saat mendengar adzan subuh. Sesungguhnya ia layak menuntut keadilan pada Tuhan atau memprotes ibunda tercinta mengapa ia dilahirkan ke dunia. Tetapi ia tidak melakukannya. Ia bukan orang yang mau berdebat dengan nasib. Kedua orangtuanya lalu menyarankan agar ia menikah saja, mereka percaya pernikahan akan membuka pintu rezeki. Meski Kemarau tak menolak ide itu, toh ia tetap belum menikah hingga detik ini. Bukan karena tak ada perempuan yang mau. Soal asmara, ia punya keyakinan sendiri.
    Jam Sibuk

     

logo-gambang-footer

Jika Anda Merasa Kesusahan dalam Berbelanja Buku dari Website Kami Silakan Order Melalui Nomor WhatsApp Berikut : 0856-4303-9249

Top