Product Types

Product Types

Easily display WooCommerce shortcodes

LATEST PRODUCTS

  • Melalui Dekonstruksi yang menentang oposisi biner, Derrida sebenarnya ingin mengungkapkan bahwa kedua hal yang dianggap berlawanan sebenarnya setara. Kesetaraan tersebut berlaku bagi segala sesuatu yang ada dalam kehidupan manusia. Hal-hal yang menjadi tinggi dan rendah karena kriteria-kriteria tertentu hanyalah hasil interaksi antar ideologi yang diciptakan melalui bahasa. Sebagai misal, suatu makna dari sebuah tanda bisa berubah dari A ke B, C, D, E, dan seterusnya.  Artinya, makna dari sesuatu tersebut dapat berubah-ubah karena hadirnya penanda-penanda yang menggusur makna sebelumnya. Pada akhirnya, suatu hal tidak memiliki pusat dan tidak menjadi yang lebih tinggi atau rendah. Atas dasar tersebut, beberapa pemikiran mengenai penolakan terhadap hierarki dan oposisi biner muncul dalam beberapa bidang, seperti teori pascakolonialisme, feminisme, pascamodernisme, dan teori-teori lainnya yang kemudian disebut sebagai teori-teori ‘Setelah Dekonstruksi’.

    Pembobolan hierarki dalam aspek pascakolonial hadir sebagai tentangan terhadap pemikiran yang menganggap bahwa Barat lebih unggul daripada Timur. Orang-orang Barat dianggap lebih berpendidikan daripada orang-orang Timur. Dalam buku yang berjudul Orientalisme yang ditulis oleh Edward W. Said (1979), dijelaskan bahwa Barat menciptakan wacana untuk menjelaskan tentang orang-orang Timur. Barat dalam konteks ini termasuk orang Eropa, Amerika, dan orang-orang kulit putih, sedangkan orang-orang Timur adalah orang Afrika, Asia, atau orang-orang kulit berwarna. Dengan metode penulisan yang serius, para orientalis membangun konsistensi dalam steriotifikasi terhadap orang Timur. Para Orientalis seperti Renan, Sacy, dan Lane memiliki Mise en Scene yang kemudian dipakai oleh orientalis-orientalis setelahnya (Said, 1979: 197). Dengan kepentingan-kepentingan yang dimiliki, orang-orang Barat merasa mampu mendefinisikan Timur walaupun hal itu tidak sepenuhnya sesuai dengan apa yang terjadi. Hal semacam inilah yang kemudian memunculkan hierarki paten yang kemudian steriotipenya melekat pada orang Barat dan bahkan pada orang Timur dalam mendefinisikan dirinya sendiri.

    Selain hierarki pada tataran bangsa dan negara, hal yang paling sering dan masih terjadi hingga saat ini adalah hierarki antara laki-laki dan perempuan. Hal tersebut merupakan persoalan yang tidak kalah pentingnya, terutama jika membahas tentang kesetaraan yang diperbincangkan dalam teori Feminisme. Bagi pemikir Feminisme, semua orang memiliki hak atas pekerjaan, kekuasaan, dan hak suara tanpa batasan gender (Wolf, 1997: 188). Hak-hak tersebut secara spesifik mencoba menyuarakan pada hak perempuan yang selama ini dianggap sebagai seseorang yang lebih rendah daripada laki-laki. Selanjutnya, dalam konsep Subaltern yang dikembangkan oleh Gayatri C. Spivak menjelaskan bahwa perempuan bahkan dibungkam karena mereka disebut sebagai kelompok bawahan dan seseorang tanpa identitas (Spivak, 2005). Mereka (perempuan) merupakan kelompok terpinggirkan dan tereksploitasi.

    Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi komputerisasi, teori yang masuk dalam ranah ‘after deconstruction’ salah satunya adalah teori Pascamodernisme—sebagai respon ketidakpercayaan terhadap metanaratif, Dalam masyarakat dan budaya kontemporer, grand narrative atau narasi besar telah kehilangan kredibilitasnya terlepas dari apakah narasi tersebut merupakan narasi spekulatif atau narasi emansipasi (Lyotard, 1979: 37). Dengan demikian, tidak ada narsi besar atau kecil yang dihasilkan oleh kesepakatan legitimasi, di mana hal tersebut hanya diberikan pada orang-orang tertentu. Selain itu, Baudrillard dalam bukunya yang berjudul Simulacra and Simulation melihat bahwa masyarakat telah hidup di dunia yang semakin banyak informasi dan berkurangnya makna (Baudrillard, 1994: 79). Dalam artian, informasi yang tersebar semakin banyak membuat maknanya meledak dan tercecer, sehingga tidak ada makna yang tetap dan tidak ada makna yang benar dan salah.

  • Buku ini merangkum perjalanan kepenyairan Rekki sejak awal terjun di dunia sastra hingga sekarang. Judul buku ini, Sajak Cinta Untuk Hidup dan Mati, memberikan gambaran perhatian penyair yang tertuang dalam puisi-puisinya. Kata “cinta”, “hidup” dan “mati” tersebut satu tarikan nafas, seolah menebalkan garis besar pandangan hidup penyair. Sikap ini mirip, meski tak sama, dengan spirit penyair Subagio Sastrowardoyo, yang konsisten menulis puisi-puisi cinta (dalam makna luas) penuh perenungan (falsafah) akan makna hidup dan mati. Rekki Zakika menunjukkan gejala ini mulai dari karya-karya puisi awal kepenyairannya hingga sekarang.

     

    Agus Manaji

  • Adapun fenomena yang terungkap dalam sastra populer memberikan banyak informasi tentang tren gaya hidup populer pada zamannya, gaya hidup remaja metropolitan yang dipenuhi dengan hedonisme, pandangan pengarang terhadap gender; semangat zaman yang penuh dengan budaya instan dan kekinian, ideologi agama yang lunak dan gaul, serta refleksi respons dan gudang pengalaman penulis terhadap budaya populer remaja di Indonesia, termasuk di dalamnya sastra populer Islam.

    Salah satu yang menjadi daya tarik sastra populer Islam adalah tema-tema kehidupan sehari-hari yang dianggap sebagai tuntunan praktis keislaman (ready to use Islam) dalam mengarungi kehidupan. Narasi tersebut disuguhkan dengan paragraf-paragraf pendek, bahasa sederhana yang tidak menggurui, seperti bisikan halus seorang teman yang bersahabat, dan dilengkapi dengan ilustrasi yang menggugah. Novel islami yang banyak diminati tersebut, di antaranya, adalah Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, dan Bumi Cinta karya Habiburrahman El Shirazy; Surga yang Tak Dirindukan dan Sehidup Sesurga denganmu karya Asma Nadia; 99 Cahaya di Langit Eropa dan Bulan Terbelah di Langit Amerika karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra; Negeri 5 Menara karya A. Fuadi; serta beberapa karya Tere Liye, seperti, salah satunya, Hafalan Shalat Delisa. Karya-karya tersebut terus diproduksi dan dikonsumsi secara masif, bahkan diangkat menjadi film sehingga menarik jutaan penonton dan sekaligus meraup untung yang tidak sedikit. Karya-karya itulah yang di antaranya disajikan dalam buku ini sebagai hasil telaah dan pembacaan penulis.

  • Ada kalanya, saya menulis satu kata ibarat memancing, tak tahu ikan apa yang akan menyambar umpan. Bisa juga ibarat menimba ke dalam “sumur diri” tanpa tahu apa dan berapa banyak yang dapat saya timba dengan “timba kata” itu.

    Para pembaca budiman. Saya percaya sebagai pembaca dan penikmat puisi, tidak butuh pengantar panjang lebar untuk mengetuk pintu dan masuk ke rumah puisi. Terima kasih telah bersedia membaca puisi-puisi dalam buku ini. Semoga bermanfaat.

Featured

  • Pada tingkat yang paling dasar, yaitu tingkat dunia pengalaman dan penghayatan, manusia bersentuhan dengan dunia, lingkungan alamiah dan kultural-manusiawinya secara langsung melalui kontak indrawi. Hubungan antarmanusia, misalnya, bersifat tatap muka. Begitu juga persentuhan antara manusia dengan alam. Pada masa berburu, manusia tinggal di hutan, bersentuhan langsung dengan binatang buruannya, mempertaruhkan keselamatan fisik dan nyawanya. Konsep romantik tentang cinta adalah semacam kerinduan akan kelangsungan itu, yaitu yang biasa dikenal sebagai “cinta pada pandangan pertama” yang di dalamnya tidak ada mediasi apa pun sebagai syaratnya, baik mediasi status sosial, kelas, ras, nasionalitas, geografis, usia, bahkan gender, ataupun apa yang disebut orang Jawa sebagai “bibit, bebet, bobot”.

    Namun, manusia cenderung juga merekam, menyimpan, dan mentransmisikan pengalaman langsung itu untuk pegangan dalam mengarungi dunia pengalaman berikutnya, baik bagi dirinya sendiri maupun generasi yang lebih kemudian, sehingga mereka dapat “belajar dari pengalaman”, tidak belajar sambil atau sesudah mengalami sendiri secara langsung. Untuk mengetahui bahwa ular itu beracun dan bisa mematikan, misalnya, manusia tidak perlu harus mengalami gigitan ular itu terlebih dahulu, melainkan cukup mempelajari dan mengetahuinya dari pengalaman manusia-manusia yang ada sebelumnya. Masyarakat, dengan keluasan apa pun, pada dasarnya terbentuk dari rekaman dan penyebaran terhadap akumulasi dari ruang ke ruang, waktu ke waktu, pengalaman yang demikian.

    Peter Berger dan Thomas Luckman, dalam buku mereka yang berjudul The Social Construction of Reality, memahami masyarakat secara fenomenologis dengan menggabungkan teori Weber dan Durkheim. Sesuai dengan filsafat fenomenologi, mereka beranggapan bahwa realitas, termasuk yang sosial, merupakan objek yang intensional. Atas dasar pengertian itu, mereka memulai pemahamannya dari sebuah pandangan mengenai kodrat manusia sebagai makhluk yang menjadi, bukan makhluk yang sudah atau langsung jadi begitu dilahirkan. Karena makhluk yang menjadi, manusia membentuk dirinya sendiri dan lingkungan yang sesuai dengan diri mereka atau sebaliknya. Dari interaksi dengan sesamanya dan dengan lingkungan alamiahnya, manusia melakukan tipifikasi terhadap diri dan lingkungannya untuk dijadikan pedoman dalam interaksi berikutnya, menjadikan endapan pengalaman subjektif dan bersituasi itu sebagai sesuatu yang berada di luar dan melampaui diri mereka, suatu tindakan eksternalisasi sehingga dipahami sebagai sesuatu yang objektif, yang berada di luar diri manusia, sehingga tidak bisa diubah oleh kehendak subjektif. Endapan pengalaman yang sudah dieksternalisasikan itu kemudian secara dialektik diinternalisasikan kembali kepada diri sehingga realitas yang semula sudah objektif menjadi realitas yang juga subjektif.

  • Ada ruang alternatif bagi subjek sebagai wilayah pemenuhan atas rasa kekurangan (lack) manusia. Begitu juga dalam sastra dan seni, pengarang atau seniman mengarahkan kita pada kenikmatan spiritual untuk memenuhi segala kekurangan (kasat mata) yang kita rasakan sebagai manusia. Perihal ini kita dapat menelisik lebih jauh dalam artikel kelima mengenai kenikmatan spiritualitas dalam pakeliran padat lakon Dewa Ruci Ki Mantep Soedarsono.

    Saya pernah menyinggung persoalan politik spiritualitas dalam tulisan saya di salah satu koran lokal di Yogyakarta, bahwa pada tataran subjek/per-orangan, spiritualitas menjadi ruang alternatif (cadangan) yang dapat dipakai ataupun tidak. Hal ini tentu bergantung pada tuntutan lingkungan sosial terdekat yang dialami sehari-hari. Spiritualitas dapat menjadi kontestasi persahabatan dan persaudaraan suatu komunitas, baik sebagai ajang persaingan internal, baik untuk tujuan-tujuan tertentu (negatif/positif).

    Merujuk perspektif Lacanian bahwa subjek pada dasarnya adalah subjek terbelah, serba kekurangan, dan tidak utuh. Tanpa sadar subjek terus mereproduksi fantasi-fantasi untuk memenuhi hasrat, untuk mencapai kesatuan eksistensial. Usaha pencarian ‘diri’ ini seringkali dipenuhi atau diaktualisasikan salah satunya dengan laku spiritual. Dalam Jawa ada upaya penyatuan diri subjek dengan ‘Yang Riil’ untuk menuju pada kesempurnaan atau kemanunggalan. Gagasan itu termanifestasikan dalam tradisi masyarakat Jawa sehingga mereka punya konsep laku spiritual yang disebut Manunggaling Kawula Gusti. Laku spiritual manusia Jawa tentu sebagai laku memenuhi keselarasan dan keharmonian hidup.

    Dunia manusia adalah dunia yang dikonstruksi atau dibentuk oleh aktivitasnya sendiri. Artinya, ia harus membentuk dunianya sendiri dalam hubungannya dengan dunia. Yang dibentuk adalah kebudayaannya. Tujuannya memberikan struktur-struktur kokoh yang sebelumnya tidak dimiliki secara biologis. Sebagai bentukan manusia, struktur-struktur memiliki kemungkinan berubah karena sifatnya yang tidak stabil (Berger, 1990: 6-8). Karena sifatnya yang tidak stabil, pandangan-pandangan mahasiswa dalam buku ini cukup representatif merespons kenyataan-kenyataan sosial dalam karya sastra beragam.

    Mengapa saya katakan ‘asimetri’? Hal penting asimetri adalah sifatnya yang tersebar luas di berbagai tingkat dan lapisan, memungkinkan perubahan terjadi berkali-kali. Begitu dengan sastra hal yang terlihat di permukaan teks (main text) belum tentu secara tersirat mengatakan hal yang sama. Bentuk teks sastra bukanlah sekadar hiasan melainkan sebagai perwujudan ideologis yang kuat (Jameson, 1971). Maka upaya pembacaan totalitas dibutuhkan untuk mengetahui yang tersembunyi dari struktur bawah teks. Kesadaran historis membantu mengungkap makna-makna yang termanifestasikan dalam karya sastra. Sejarah adalah struktur dasar memang menjadi sangat penting.

  • Iliad yang ditulis Homer lebih dari 2800 tahun yang lalu adalah karya besar sastra dunia yang tak habis-habisnya dibicarakan.
    Nama-nama, peristiwa, serta berbagai benda dalam kisah ini kini banyak mewarnai istilah dalam dunia ilmu pengetahuan, mitos, dan legenda yang membentuk peradaban dunia.

    Kini, karya besar yang menghadapkan dua tokoh legendaris Achilles (Yunani) dan Hector (Trojan) ini hadir secara lengkap dalam Bahasa Indonesia.

    Sale!
  • Suites adalah korpus berisi puisi-puisi pendek yang dikerjakan Federico García Lorca dalam rentang 1920-1923, dan baru diterbitkan 60 tahun kemudian, 47 tahun setelah kematiannya. Suites berisi sekuens-sekuens puitik, serangkaian fragmen lirik yang dikelompokkan secara bebas ke dalam tema tunggal, melalui analogi, dengan apa yang telah dikerjakan oleh para komponis musik favoritnya. Sejumlah puisi dalam Suites cenderung menunjukkan narasi yang rusak atau diinterupsi dengan aku-lirik sebagai protagonis sementara, sedangkan puisi-puisi lain begitu dekat dengan bentuk ideal haiku, terutama puisi-puisi pendek yang menangkap momen-momen pengalaman tanpa kehadiran aku-lirik menyela di antara penyair dan pembacanya.

Top Rated

  • PROLOG

    Ketika kupijakkan kaki di gerbang sekolah ini untuk pertama kalinya semenjak lima tahun silam, seseorang menepuk pundakku dari belakang.

     “Jonat!” Mudah saja aku mengenalinya. Dia masih konsisten pasang tampang tanpa ekspresi. “Hei! Kupikir kamu nggak bakalan datang reuni. Dengar-dengar, kamu kuliah di luar negeri?”

    “Begitulah. Aku datang sebab aku punya utang denganmu. Saat kemari, aku berharap kau belum bunuh diri. Dan harapanku terkabul.”

     “Terimakasih soal harapanmu itu. Tapi maaf, aku ngerasa belum pernah pinjami kamu uang.”

    “Ingatkah kau, ketika malam itu kau berdiri di pinggir jalan seperti orang gila yang memukuli wajah sendiri? Ingatkah kau, kalau semenjak malam itu kau jadi begitu susah diajak omong, jadi pendiam, penyendiri, serupa orang putus asa? Ingatkah kau, kalau malam itu catatan harianmu tertinggal di tasku?”

    Aku diam sejenak. Memori buruk itu menghantuiku kembali. Lalu kujawab dengan terbata-bata, “Oh, ya ya ya! Catatan harian. Itu yang kamu maksud utang?”

    “Persis. Dan sekarang tulisannya telah luntur, tak terbaca.”

    “Santai, Jon. Lupakan saja. Sekarang ayo kita masuk, cari kawan-kawan lainnya.” Aku berusaha mengalihkannya dari bahasan soal masa lalu suram.

    Belum sempat kami melangkah masuk, Jonat lebih dulu mengeluarkan sebuah buku dari tasnya. “Ini, kukembalikan padamu. Anggap utangku lunas.” Ia sodorkan kepadaku seraya menjelaskan, “Aku ketik ulang catatan harianmu. Beberapa kuubah sesuai selera estetisku. Ada yang kuhapus, ada yang kutambahkan. Karena kau lipat setiap awal bulan Agustus, maka pada sampul depannya kutulis ‘Melipat Agustus’.”

    Aku telah bersusah payah melupakan diriku yang lampau. Sedang kini, segalanya kembali ke genggamanku. Tanganku menggigil menerima buku catatan harian itu.

  • Suites adalah korpus berisi puisi-puisi pendek yang dikerjakan Federico García Lorca dalam rentang 1920-1923, dan baru diterbitkan 60 tahun kemudian, 47 tahun setelah kematiannya. Suites berisi sekuens-sekuens puitik, serangkaian fragmen lirik yang dikelompokkan secara bebas ke dalam tema tunggal, melalui analogi, dengan apa yang telah dikerjakan oleh para komponis musik favoritnya. Sejumlah puisi dalam Suites cenderung menunjukkan narasi yang rusak atau diinterupsi dengan aku-lirik sebagai protagonis sementara, sedangkan puisi-puisi lain begitu dekat dengan bentuk ideal haiku, terutama puisi-puisi pendek yang menangkap momen-momen pengalaman tanpa kehadiran aku-lirik menyela di antara penyair dan pembacanya.

  • Sejumlah sajak Nissa yang menarasikan berbagai kejahatan dan kekejaman manusia terhadap manusia lain  telah mempertajam pertanyaan: Apa sih arti puisi? Apa sih yang bisa diperbuat puisi ketika keindahan hanya menjadi selubung kesakitan?

     

    Puisi memang tidak bisa memecahkan–apa lagi menyelesaikan–persoalan-persoalan praktis kehidupan dan memang bukan terutama untuk itulah puisi ditulis. Sebaiknya puisi menyederhanakan dirinya. Cukuplah puisi menghadirkan dirinya sebagai ruang singgah dan istirah untuk “diam dan merasakan keramahan pada tangan yang menjabat dan mata merindu”, untuk menikmati “keheningan detik waktu”.  Puisi masih bisa menjadi tempat pulang untuk menyalakan kembali sunyi, untuk menghidupkan kembali imajinasi kanak-kanak, untuk menata dan mendamaikan kembali hati dan kepala, untuk menguatkan kembali daya kontemplasi, agar tetap waras dan tak kehabisan daya cipta di tengah situasi hidup yang diliputi kekacauan, ketidakpastian, dan kefanaan.

     

    (Joko Pinurbo)

Best Sellers

  • SEPANJANG jalan, ia mencatat sebuah kalimat. Kemudian memungut diksi, mencium aroma kematian dan menjadikannya bait-bait ingatan. Itulah hakikat seorang pejalan yang digambarkan Yopi Setia Umbara dalam kumpulan puisi Mengukur Jalan, Mengulur Waktu (2015). Bisa dipastikan keseluruhan puisinya bertaut antara diri (aku), perjalanan, dan ingatan tentang perjumpaan.

    Untung saja, Yopi memaknai itu semua dengan mata seorang penyair. Ia bergerak dari ruang material hingga ke ruang batin paling intim. Seperti sebuah renungan ikhwal perjalanan mencari diri. Menariknya, seorang penyair ketika merumuskan, memaknai dan mengingat waktu akan berbeda dengan seorang fisikawan dan pebisnis. Misalnya, dalam teori relativitas ala Eintens bahwa “duduk di tungku api lebih lama dari duduk di dekat seorang perempuan cantik”. Seorang pebisnis (entreprener) akan merumuskan “waktu adalah uang”. Apakah Yopi mirip pemain sepakbola (Indonesia) yang melulu mengulur waktu ketika berada dalam sebuah pertandingan? Selengkapnya

  • Puisi terdiri dari tubuh dan ruh. Di dalam buku ini mengulik keduanya, yaitu bagaimana mengenalinya dan menguraikan langkah-langkah menulisnya. Kelebihan buku ini adalah, pembaca mengenal berbagai jenis puisi, cara menikmati puisi/analisis, dan teknik menuliskannya.

    Buku ini terdiri dari teori apresiasi dan langkah-langkah terapan. Masing-masing penulis sertakan contoh puisi untuk mempermudah pemahaman. Ada beberapa langkah-langkah yang memamng tidak penulis sertakan langkah-langkahnya, sebab dengan contoh yang ada sudah cukup untuk mengerti ke arah cara menulis puisi yang dimaksud.

    Tidak banyak yang tahu jenis-jenis puisi dan istilah yang melingkupinya, mislanya alusi, impresi, dramatik, antropomorfisme, pararima, kolase. Di dalam buku ini juga dipaparkan juga kiat menangkap ide; menciptakan kesegaran daya ungkap; menghilangkang konjungsi; menulis kata pertama; menulis judul; merecvisi; dan lain sebagainya.

    Buku ini deperuntukkan bagi masyarakat yang ingin mengenal puis; bagi orang-orang yang ingin bisa menikmati puisi; bagi guru yang mengajarkan puisi; bagi pembina sanggar; bagi penyair yang selama ini kesulitan mengajarkan penulisan puisi; dan bagi siapa pun yang menjadi pemateri penulisan puisi.

  • Mizraim diarak ke alun-alun. Pengadilan terbuka, seperti yang sering terjadi di desa itu, bukanlah tempat untuk membuktikan bahwa seseorang tidak bersalah melainkan sebuah usaha untuk mendesak seseorang mengaku. Di tiang gantung Mizraim berteriak-teriak bahwa ia tak bersalah; bahwa penduduk desa tak tahu berterimakasih. Ia menyebutkan jasa-jasanya di medan perang, menyebut nama teman-temannya yang mati, mengutuk betapa anak muda zaman sekarang tak menghargai jasa pahlawan yang membuat mereka bisa hidup tanpa ancaman. Mizraim baru diam saat tali menyentuh kulit lehernya. Ia menelan ludah. “Seperti dugaanku, kalian bersekongkol untuk membunuhku. Tapi, kenapa baru sekarang?”
    Orang yang Ingin Mati sebagai Pahlawan
    Ia mulai membuka kios setelah putus asa mencari kerja selama satu tahun pasca lulus SMA. Kemarau pencari kerja yang tekun, sebenarnya, selain itu ia rajin sembahyang dan selalu bangun saat mendengar adzan subuh. Sesungguhnya ia layak menuntut keadilan pada Tuhan atau memprotes ibunda tercinta mengapa ia dilahirkan ke dunia. Tetapi ia tidak melakukannya. Ia bukan orang yang mau berdebat dengan nasib. Kedua orangtuanya lalu menyarankan agar ia menikah saja, mereka percaya pernikahan akan membuka pintu rezeki. Meski Kemarau tak menolak ide itu, toh ia tetap belum menikah hingga detik ini. Bukan karena tak ada perempuan yang mau. Soal asmara, ia punya keyakinan sendiri.
    Jam Sibuk

     

On Sale

  • Pendidikan karakter menjadi trending topik dalam pemerintah sekarang karena disadari bahwa membangun karakter tidak mungkin dilepaskan dari maju mundurnya sebuah bangsa dan menjadi amanat para faunding fathers kita untuk diwujudkan. Pendidikan karakter dalam kurikulum sekolah tidak dibelajarkan secara mandiri sebagai mata pelajaran tetapi dimasukkan ke dalam seluruh mata pelajaran yang sudah ada, dalam hal ini Pelajaran Sastra Indonesia. Pemilihan bahan ajar sastra berbasis karakter dalam buku ini sudah melalui desain yang panjang, dimulai dari studi pendahuluan yang bertujuan melihat kemampuan siswa, dilanjutkan need analysis, dan workshop yang diselenggarakan di SMKN II Klaten pada tanggal 19 Mei 2015. Diharapkan buku sastra Indonesia berbasis karakter yang disusun ini dapat dioperasionalkan secara mudah dan menyenangkan. Seluruh bahan ajar yang dipilih di dalam buku ini disesuaikan dengan karakter yang akan dibelajarkan. Pada bagian akhir buku ini juga disertakan lampiran bahan ajar alternatif untuk sastra Indonesia SMA, SMK, MA.

  • Iliad yang ditulis Homer lebih dari 2800 tahun yang lalu adalah karya besar sastra dunia yang tak habis-habisnya dibicarakan.
    Nama-nama, peristiwa, serta berbagai benda dalam kisah ini kini banyak mewarnai istilah dalam dunia ilmu pengetahuan, mitos, dan legenda yang membentuk peradaban dunia.

    Kini, karya besar yang menghadapkan dua tokoh legendaris Achilles (Yunani) dan Hector (Trojan) ini hadir secara lengkap dalam Bahasa Indonesia.

    Sale!
  • Buku ini merupakan kumpulan geguritan (puisi berbahasa Jawa) yang ditulis antara lain oleh: Prof. Dr. Agus Nuryatin, M.Hum. (Univ. Negeri Semarang), Prof. Dr. H. Bani Sudardi, M. Hum. (Univ. Sebelas Maret Surakarta), Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd. (Univ. Negeri Malang), Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum. (Univ. Negeri Jember), Prof. Dr. Suminto A. Sayuti (Univ. Negeri Yogyakarta), Prof. Dr. Suwardi Endraswara, M.Hum. (Univ. Negeri Yogyakarta), Drs. Pardi Suratno, M.Hum. (Kepala Balai Bahasa Yogyakarta), Budhi Setyawan (Depkeu RI), dan beberapa penggurit lainnya. Buku ini dikuratori oleh Dr. Esti Ismawati, M.Pd.

    Sale!
  • Mizraim diarak ke alun-alun. Pengadilan terbuka, seperti yang sering terjadi di desa itu, bukanlah tempat untuk membuktikan bahwa seseorang tidak bersalah melainkan sebuah usaha untuk mendesak seseorang mengaku. Di tiang gantung Mizraim berteriak-teriak bahwa ia tak bersalah; bahwa penduduk desa tak tahu berterimakasih. Ia menyebutkan jasa-jasanya di medan perang, menyebut nama teman-temannya yang mati, mengutuk betapa anak muda zaman sekarang tak menghargai jasa pahlawan yang membuat mereka bisa hidup tanpa ancaman. Mizraim baru diam saat tali menyentuh kulit lehernya. Ia menelan ludah. “Seperti dugaanku, kalian bersekongkol untuk membunuhku. Tapi, kenapa baru sekarang?”
    Orang yang Ingin Mati sebagai Pahlawan
    Ia mulai membuka kios setelah putus asa mencari kerja selama satu tahun pasca lulus SMA. Kemarau pencari kerja yang tekun, sebenarnya, selain itu ia rajin sembahyang dan selalu bangun saat mendengar adzan subuh. Sesungguhnya ia layak menuntut keadilan pada Tuhan atau memprotes ibunda tercinta mengapa ia dilahirkan ke dunia. Tetapi ia tidak melakukannya. Ia bukan orang yang mau berdebat dengan nasib. Kedua orangtuanya lalu menyarankan agar ia menikah saja, mereka percaya pernikahan akan membuka pintu rezeki. Meski Kemarau tak menolak ide itu, toh ia tetap belum menikah hingga detik ini. Bukan karena tak ada perempuan yang mau. Soal asmara, ia punya keyakinan sendiri.
    Jam Sibuk

     

logo-gambang-footer

Jika Anda Merasa Kesusahan dalam Berbelanja Buku dari Website Kami Silakan Order Melalui Nomor WhatsApp Berikut : 0856-4303-9249

Top