-
-8%
ILIAD
0Original price was: Rp 180.000.Rp 165.000Current price is: Rp 165.000.Iliad yang ditulis Homer lebih dari 2800 tahun yang lalu adalah karya besar sastra dunia yang tak habis-habisnya dibicarakan.
Nama-nama, peristiwa, serta berbagai benda dalam kisah ini kini banyak mewarnai istilah dalam dunia ilmu pengetahuan, mitos, dan legenda yang membentuk peradaban dunia.Kini, karya besar yang menghadapkan dua tokoh legendaris Achilles (Yunani) dan Hector (Trojan) ini hadir secara lengkap dalam Bahasa Indonesia.
-
-13%
ING SAWIJINING WEKTU MENGKO
0Original price was: Rp 75.000.Rp 65.000Current price is: Rp 65.000.Buku ini merupakan kumpulan geguritan (puisi berbahasa Jawa) yang ditulis antara lain oleh: Prof. Dr. Agus Nuryatin, M.Hum. (Univ. Negeri Semarang), Prof. Dr. H. Bani Sudardi, M. Hum. (Univ. Sebelas Maret Surakarta), Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd. (Univ. Negeri Malang), Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum. (Univ. Negeri Jember), Prof. Dr. Suminto A. Sayuti (Univ. Negeri Yogyakarta), Prof. Dr. Suwardi Endraswara, M.Hum. (Univ. Negeri Yogyakarta), Drs. Pardi Suratno, M.Hum. (Kepala Balai Bahasa Yogyakarta), Budhi Setyawan (Depkeu RI), dan beberapa penggurit lainnya. Buku ini dikuratori oleh Dr. Esti Ismawati, M.Pd.
-
INNER CHILD MEMBUKA MISTERI MASA KECIL
0Merapikan rumah dan bersih-bersih tidak pernah menjadi prioritas utamaku. Hal ini sering terasa seperti tugas biasa yang menyita waktu berharga buat melakukan hal-hal yang lebih mendesak atau penting. Namun, aku menyadari bahwa mengabaikan tugas yang tampaknya tidak penting ini dapat menyebabkan kekacauan dan stres yang tidak perlu. Ketika aku tidak dapat menemukan sesuatu yang penting atau aku terlambat pergi ke suatu tempat karena aku tidak dapat menemukan kunci kendaraan, aku menyadari pentingnya menjaga ketertiban dan kerapian. Seandainya saja aku mengambil langkah-langkah kecil untuk merapikan dan mengatur secara teratur dan rapi, aku dapat menghindari situasi yang luar biasa ini.
Penyembuhan sangat mirip dengan merapikan dan bersih-bersih. Ketika kita mengabaikan kesejahteraan emosional kita, hal itu akan terakumulasi menjadi monster kolosal yang menuntut perhatian kita. Tetapi jika kita mendekati penyembuhan sebagai proses yang berkelanjutan, bekerja secara konsisten untuk hal itu, maka proses itu menjadi sealami seperti proses ketika kita bernapas. Tidak lagi menimbulkan rasa takut atau stres; dan hal itu menjadi bagian dari siapa kita. Seperti merapikan rumah dan bersih-bersih, penyembuhan tidak memiliki akhir yang pasti. Hidup memiliki cara tersendiri untuk menguji ketahanan dan kekuatan kita, dan akan selalu ada pengalaman baru yang membutuhkan penyembuhan dan per-tumbuhan. Namun, kesadaran ini seharusnya tidak mematahkan semangat kita karena kita tidak akan sembuh dari luka yang sama selamanya. Kita semua memiliki kapasitas untuk mengatasi trauma tertentu dan membebaskan diri dari siklus yang menahan kita untuk berkembang.
Saat ini, kita mungkin dihadapkan pada trauma signifikan yang tampaknya tidak dapat diatasi. Mungkin trauma yang menaungi dan mencegah penyembuhan dari luka kecil yang menumpuk seiring waktu. Dengan mengatasi dan memulihkan diri dari trauma central ini, kita dapat membuka potensi penyembuhan untuk semua luka lain yang kita bawa. Ingat, penyembuhan adalah sebuah proses—yang berantakan pada saat itu. Ini seperti mengurai bola benang yang tersimpul, membutuhkan kesabaran dan tangan yang mantap serta terampil. Hanya kita yang memiliki kekuatan untuk mengurai simpul kita sendiri. Ini adalah perjalanan yang sangat pribadi yang menuntut kehadiran dan komitmen penuh kita. Akan ada saat-saat frustasi dan kemunduran, tetapi tujuan akhir membuat semuanya berharga. Kita hanya perlu terus bergerak maju.
Berapa lama waktu penyembuhan? Ini adalah pertanyaan yang banyak dari kita renungkan. Sebenarnya, tidak ada jawaban pasti. Semua itu tergantung pada berbagai faktor: kedalaman trauma, asal-usulnya, dan sudah berapa lama hal itu terjadi. Namun, faktor yang paling penting adalah kesediaan kita untuk sembuh. Lamanya proses penyembuhan sangat ditentukan oleh keterbukaan kita untuk berubah dan komitmen kita untuk mengatasi rasa sakit kita. Ingat analogi dengan merapikan? Merapikan yang baik adalah hal yang menjadi kebiasaan, hampir tidak disadari. Demikian pula, penyembuhan membutuhkan konsistensi dan kemauan untuk mengubah hidup kita. Meskipun perjalanan terkadang terasa luar biasa, penting untuk menyadari bahwa kita tidak sendirian dalam emosi yang ditimbulkan oleh trauma.
Mengalami sesuatu yang traumatis dapat membuat kita memiliki serangkaian emosi yang umum dan terisolasi. Namun, penting untuk diingat bahwa kita bukan satu-satunya yang merasakan hal ini.
Kesimpulannya, kita memiliki kemampuan bawaan untuk menjadi penyembuh diri kita sendiri. Dengan mendekati penyembuhan sebagai proses yang berkelanjutan, merangkul konsistensi, dan memupuk kemauan untuk berubah, kita dapat mengurai simpul masa lalu kita dan menciptakan masa depan yang lebih cerah.
Penyembuhan membutuhkan waktu dan kesabaran, tetapi ini adalah perjalanan yang layak untuk dilakukan. Percayalah pada kekuatan dan ketahanan batin kita saat kita menavigasi kerumitan proses penyembuhan kita. Ingat, kita tidak sendirian, dan ada dunia kasih sayang dan dukungan yang siap menemani kita di setiap langkah.
-
JAVANESE LOCAL WISDOM IN WEDHATAMA
0Rp 65.000Serat Wedhatama was written by Sri Mangkunegara IV in early 1881 a few months before he died. There was no definitive clue when the book began to be written. However, by following the flow of events that colored his life, he apparently wrote Wedhatama when he felt that his death was approaching. He suffered a mild stroke which resulted in impaired eye and left hand. He had ordered his son, KPH Gondosewoyo, who was taking a technical school in Delft, to order a marble stone and steel frame that would later become his mausoleum. In addition he also began to order to build the cemetery Girilayu.
The burial places of the Mangkunegaran kings were to be built on the grounds that the Mengadeg funeral complex was full. The cemetery is the tomb of Mangkunegara I to the tomb of Mangkunegara III in addition to other Mangkunegaran relatives, one of which was Raden Ayu Semi the first empress of Mangkunegara IV.
Wedhatama is different from the previous works that were not specifically mentioned for whom those were intended. It was different from Serat Paliatmo which was clearly intended for his sons. Another example is Serat Tripama as a guide for the warriors. Wedhatama is the great words of praise for all humans. In it contained teachings about how to process the feeling, creation, and intention of a human being. It also gives a lesson on how a human relationship with other humans should be regulated. In Wedhatama Sri Mangkunegara IV no longer sorted life in several fragments as in Serat Paliatmo. In it he divided life into fragments or parts such as: family life, homeland, environment, and so on. In contrast, in Wedhatama Mangkunegara IV saw life as a totality.
RM Darajadi Gondodiprojo
-
JEJAK LUKA PEJUANG YANG TERBUANG
0Rp 55.000Ekspresi kegelisahan dan perlawanan dalam gerakan pembebasan rakyat dari belenggu penguasa yang cenderung abaikan hak-hak rakyat, ditambah hadirnya para oprtunis yang menggadaikan moralnya demi pundi-pundi kekayaan para oportunis biasanya berkoalisi dengan para kapitalis dalam mempengaruhi penguasa agar regulasi berpihak utk mengeruk kekayaan rakyat tanpa berpikir kerusakan lingkungan dan tatanan sosial yang selama ini di pertahankan oleh sebagian rakyat yang memegang teguh nilai dan tradisi.
Antologi puisi ini adalah karya kritis dan relflektif sebagai ekspresi kritik sosial dalam kehidupan aktual yang penuh dengan intrik dan manipulasi. Mengenal dekat dengan sang penulis yang banyak aktif dalam setiap peristiwa pergerakan Rakyat. Saya meyakini sebagai sumber inspirasi karya karyanya yang penuh dengan kritik sosial dan penegakan HAM dalam setiap bait-bait puisinya, susunan kalimatnya pun penuh dengan perlawanan dalam membebaskan keterkungkungan rakyat oleh kemiskinan, keterbelakangan, kebodohan, yang dipengaruhi oleh gelapnya jalan kebenaran.
-
Kartu Pos dari Banda Neira
0Rp 40.000Puisi-puisi dalam kumpulan ini ditulis dengan penuh kekhusyukan dan kesiagaan. Bagaimana upaya penyair memilih tema, menentukan rancang bangun serta mengolah kata-kata sebagai bahan baku puisinya, dengan jelas telah menunjukkan adanya kekhusyukan dan kesiagaan itu. Dengan demikian frasa-frasanya yang terkesan sederhana menjadi terasa kaya, berwarna dan bermakna ganda. (Acep Zamzam Noor)
-
-
KEARIFAN LOKAL JAWA DALAM WEDHATAMA
0Rp 120.000Di saat seperti sekarang ini dimana isu tentang rasisme dan intoleransi merebak di tingkat nasional maupun global, maka diperlukan suatu usaha nyata untuk menanggulanginya. Beberapa cara dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan, salah satunya adalah melalui pendekatan kebudayaan. Seiring dengan itu, terbitnya hasil penelitian “Kearifan Lokal Jawa dalam Wedhatama” karya Dr. Esti Ismawati, MPd. dan Dr. Warsito, MPd, jelas mempunyai relevansi yang kuat untuk mengatasi berbagai permasalahan bangsa Indonesia termasuk isu-isu tersebut di atas.
KRT Darajadi Gondodiprojo , kerabat Mangkunegara IV, Pengageng Sasono Gondo Puri Surakarta.
-
KEARIFAN LOKAL JAWA DALAM WULANG REH
0Rp 75.000Serat Wulang Reh karya Paku Buwana IV digubah dalam bentuk puisi Jawa, tepatnya tembang macapat berisi 13 pupuh, merupakan masterpiece kebudayaan Jawa yang ditulis tahun 1768-1820 yang berisi nilai-nilai pendidikan yang berasal dari ajaran agama Islam yang meliputi tasawuf, akhlak, sosial dan politik dengan ajaran moral antara lain ririh, rereh, ati-ati, deduga, prayoga, watara dan reringan, menjauhi sikap adigang adigung adiguna. Ada pun isi ringkas Wulang Reh sesuai dengan bait-baitnya:
- Piwulang caranipun tiyang milih guru
- Piwulang caranipun tiyang milih sesrawungan
- Piwulang sampun ngantow sanget-sanget kapiyandel nggadahi wewatakan adigang, adigung, adiguna.
- Piwulang bab tatakrama kanthi lelambaran prabot: deduga, prayoga, watara lan reringa; bedanipun awon lan sae, lan caranipun neniteni wewatekaning manungsa.
- Piwulang bab dunungin sembah lelima: bapa biyung, maratua, sedulur tuwo, guru, Gusti.
- Piwulang bab cara tiyang suwita ing ratu / negari
- Piwulang bab ngendaleni ubaling hawa nepsu
- Piwulang bab luhur lan raosing bebuden
- Piwulang bab pangrengkuhing sederek & cara maos serat waosan
- Piwulang bab dununging panarimah
- Piwulang bab warna-warni: agami, pakareman, tepa salira, raharjaning nigari
- Tepa tuladha polaning lelampahan, wasiyat leluhur
- Piweling & pamujining sang pujangga.
-
Keluarga Owig
0Rp 50.000“Aku tahu kau suka hal-hal gila dan irasional, seperti ayahmu dahulu. Ingatlah, bahwa setiap tanda selalu membawa isyarat. Setiap isyarat membawa kebenaran yang akan tenggelam,”
Cerpen Lawalata – Ferina MeliasantiBerpangkal dari warna hidup manusia. Dilema dan lema yang berpusaran pada cerita akan mengantarkan pada sesuatu yang dekat dan mungkin terabaikan. Sisi-sisi lain manusia dielaborasi lalu dihadirkan dalam beragam bentuk persepsi. Mulai dari tubuh sebagai identitas keyakinan pada cerpen “Sunat”, hingga pertanyaan-pertanyaan tentang esensi sebuah relasi pada cerpen “Manusia Terakhir”. Semua disajikan dalam dimensi bernama keluarga. Keluarga yang tidak hanya memperlihatkan hubungan darah emosional. Lebih daripada itu, keluarga yang menghadirkan ekspresi cinta dan kebencian dalam bentuk pengalaman dan amatan. Keluarga yang kemudian dibaca dan dilafalkan sebagai: Keluarga Owig.
-
-
KERTAS BASAH
0Rp 33.000Suatu malam, Rozi Kembara menelepon. Di antara sekian banyak kabar yang disampaikannya, saya tak bisa berhenti memikirkan bahwa seorang kawan kami, yang dulu belajar menulis bersama kami, telah jadi semacam jihadis di Pakistan karena kecewa terhadap puisi. Mungkin ia mencari ketenangan jiwa, kedalaman, pencerahan… saya tidak tahu. Saya bahkan tidak yakin manusia punya jiwa.
Apa-apa yang dicari dan ditemukannya, atau tidak ditemukannya, agaknya berbeda dari Rozi dan saya. Tetapi saya pun pernah merasa harus mencabut perkara dengan puisi.
Selepas menerbitkan Misa Arwah lima tahun lalu, saya tak mau menulis dengan cara yang sama, tetapi alangkah sukar melepaskan diri. Alih-alih menemukan suara dan gaya bicara yang lain, saya hanya tergagap-gagap. Semua yang saya ketik terasa palsu dan menyedihkan.
Kemudian saya menemukan buku-buku Nicanor Parra. Jika puisi sepatutnya berlapis, mendalam, mencerahkan, serta sanggup memindahkan para pembaca ke labirin khayali yang megah dan berbelit-belit, Parra menolak. Dia menyentak kita dengan keterus-terangan, klise, humor sepele. Puisi-puisinya menerbitkan senyum orang kebanyakan, bukan sekadar bahan ngocok para kritikus.
“Puisi telah jadi surga si dungu yang khidmat selama setengah abad, sampai aku datang dan mendirikan roller coaster-ku,” katanya. “Naiklah, kalau kau mau. Bukan salahku kalau kau turun dengan hidung dan mulut berdarah.”
Pada waktu yang sama, saya juga menemukan kembali William Carlos Williams, yang dulu saya baca sekilas-sekilas saja. Dalam pengantar Spring and All, Williams bercerita bahwa seorang kritikus menyebut karya-karyanya antipuisi, bukan puisi, sebab dia mengabaikan rima dan ritme. Williams tak sepakat. Baginya, puisi pada umumnya justru menghalangi persepsi pembaca terhadap kenyataan dengan berbagai ilusi. Dia kepengin memulangkan pembaca ke sini, saat ini.
Parra dan Williams punya kegelisahan serupa, memilih pendekatan yang berbeda, dan keduanya mengubah cara banyak orang memikirkan serta menulis puisi.
Buku ini tak sepatutnya dibaca sebagai upaya meneruskan inisiatif mereka. Saya hanya berusaha menolong diri sendiri, bukan puisi, apalagi bahasa Indonesia, dari kebuntuan yang menyengsarakan.
Kepada para pembaca yang berharap saya selamanya menulis seperti dalam Misa Arwah, saya mohon maaf. Janganlah menusuk saya kalau kita bertemu. Apa boleh buat, hal paling menggembirakan bagi saya sebagai penulis adalah kesempatan baru untuk bermain-main.