-
Sastra dalam Berbagai Perspektif
0Rp 120.000Pandangan Wellek dan Warren yang dalam studi sastra cenderung ditempatkan sebagai pendekatan objektif (Abrams, 1999) yang menempatkan sastra sebagai entitas yang otonom memiliki pengaruh yang kuat dalam studi sastra di Indonesia. Kuatnya pengaruh pendekatan ini tampaknya berkait erat dengan kenyataan bahwa studi kesastraan, khususnya di tingkat sarjana, menyatu dengan studi bahasa. Penyatuan itu terjadi karena studi sastra bertolak dari bahan dasar yang sama dengan studi bahasa, yaitu bunyi.
Studi-studi yang menyatukan bahasa dan sastra masih terus berlangsung hingga kini, misalnya tampak dalam berbagai artikel yang dimuat di jurnal bahasa dan sastra, baik jurnal nasional maupun jurnal internasional. Jurnal nasional yang bisa disebut antara lain adalah Adabiyyāt (diterbitkan oleh Fakultas Adab dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Yogyakarta), Litera (diterbitkan oleh Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Yogyakarta), juga jurnal-jurnal yang diterbitkan oleh Balai Bahasa di berbagai provinsi di Indonesia. Meskipun nama jurnalnya bahasa dan sastra (kadang tergabung juga dengan pengajarannya), harus diakui juga bahwa tidak semua artikel di jurnal-jurnal itu menempatkan bahasa dan sastra secara integratif, ada juga yang kompilatif. Jurnal internasional yang membahas bahasa dan sastra misalnya adalah Language and Literature: International Journal of Stylistics diterbitkan oleh SAGE Publications Ltd, Papers on Language and Literature diterbitkan oleh Southern Illinois University Press.
Studi sastra yang merupakan bentuk pengembangan dari apa yang oleh Wellek dan Warren disebut pendekatan ekstrinsik, juga berkembang pesat. Di Indonesia, pendekatan ekstrinsik mula-mula dikenalkan oleh Sapardi Djoko Damono lewat buku Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas (1978), kemudian diikuti oleh Faruk dengan terbitnya buku Sosiologi Sastra: Dari Strukturalisme Genetik sampai Postmodernisme (1994). Bertolak dari pendekatan tersebut, berkembang pendekatan-pendekatan ekstrinsik lainnya, baik yang tercakup dalam pendekatan sosiologi sastra, pendekatan psikologi sastra, pendekatan sastra feminis, pendekatan poststrukturalisme, pendekatan postkolonialisme, maupun pendekatan kebijakan sastra.
Tulisan-tulisan yang terkumpul dalam buku ini berusaha mendekati karya sastra dengan berbagai perspektif yang semuanya dalam kategori pendekatan ekstrinsik. Dengan menggunakan pendekatan poskolonial, diintegrasikan dengan teori gastronomi, Bunga Tyas Ningrum mengamati fenomena kopi dalam hubungannya dengan sejarah kolonialisme yang tercatat dalam Babad Kopi Parahyangan. Fenomena kopi yang dinikmati sekarang ini, khususnya di Parahyangan, daerah pertama yang disebari biji kopi oleh pemerintah kolonial, tidak dapat dilepaskan dari sistem tanam paksa dan preanger stelsel yang menopangnya yang mengakibatkan penindasan dan penderitaan kaum pribumi di masa lalu. Gambaran itu diperkuat dengan penghadiran latar kolonial sangat terlihat di dalam novel ini seperti Batavia, Butenzorg, Mister Cornelis, dsb.
-
Sastra dalam Konstelasi Wacana
0Rp 135.000Melalui Dekonstruksi yang menentang oposisi biner, Derrida sebenarnya ingin mengungkapkan bahwa kedua hal yang dianggap berlawanan sebenarnya setara. Kesetaraan tersebut berlaku bagi segala sesuatu yang ada dalam kehidupan manusia. Hal-hal yang menjadi tinggi dan rendah karena kriteria-kriteria tertentu hanyalah hasil interaksi antar ideologi yang diciptakan melalui bahasa. Sebagai misal, suatu makna dari sebuah tanda bisa berubah dari A ke B, C, D, E, dan seterusnya. Artinya, makna dari sesuatu tersebut dapat berubah-ubah karena hadirnya penanda-penanda yang menggusur makna sebelumnya. Pada akhirnya, suatu hal tidak memiliki pusat dan tidak menjadi yang lebih tinggi atau rendah. Atas dasar tersebut, beberapa pemikiran mengenai penolakan terhadap hierarki dan oposisi biner muncul dalam beberapa bidang, seperti teori pascakolonialisme, feminisme, pascamodernisme, dan teori-teori lainnya yang kemudian disebut sebagai teori-teori ‘Setelah Dekonstruksi’.
Pembobolan hierarki dalam aspek pascakolonial hadir sebagai tentangan terhadap pemikiran yang menganggap bahwa Barat lebih unggul daripada Timur. Orang-orang Barat dianggap lebih berpendidikan daripada orang-orang Timur. Dalam buku yang berjudul Orientalisme yang ditulis oleh Edward W. Said (1979), dijelaskan bahwa Barat menciptakan wacana untuk menjelaskan tentang orang-orang Timur. Barat dalam konteks ini termasuk orang Eropa, Amerika, dan orang-orang kulit putih, sedangkan orang-orang Timur adalah orang Afrika, Asia, atau orang-orang kulit berwarna. Dengan metode penulisan yang serius, para orientalis membangun konsistensi dalam steriotifikasi terhadap orang Timur. Para Orientalis seperti Renan, Sacy, dan Lane memiliki Mise en Scene yang kemudian dipakai oleh orientalis-orientalis setelahnya (Said, 1979: 197). Dengan kepentingan-kepentingan yang dimiliki, orang-orang Barat merasa mampu mendefinisikan Timur walaupun hal itu tidak sepenuhnya sesuai dengan apa yang terjadi. Hal semacam inilah yang kemudian memunculkan hierarki paten yang kemudian steriotipenya melekat pada orang Barat dan bahkan pada orang Timur dalam mendefinisikan dirinya sendiri.
Selain hierarki pada tataran bangsa dan negara, hal yang paling sering dan masih terjadi hingga saat ini adalah hierarki antara laki-laki dan perempuan. Hal tersebut merupakan persoalan yang tidak kalah pentingnya, terutama jika membahas tentang kesetaraan yang diperbincangkan dalam teori Feminisme. Bagi pemikir Feminisme, semua orang memiliki hak atas pekerjaan, kekuasaan, dan hak suara tanpa batasan gender (Wolf, 1997: 188). Hak-hak tersebut secara spesifik mencoba menyuarakan pada hak perempuan yang selama ini dianggap sebagai seseorang yang lebih rendah daripada laki-laki. Selanjutnya, dalam konsep Subaltern yang dikembangkan oleh Gayatri C. Spivak menjelaskan bahwa perempuan bahkan dibungkam karena mereka disebut sebagai kelompok bawahan dan seseorang tanpa identitas (Spivak, 2005). Mereka (perempuan) merupakan kelompok terpinggirkan dan tereksploitasi.
Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi komputerisasi, teori yang masuk dalam ranah ‘after deconstruction’ salah satunya adalah teori Pascamodernisme—sebagai respon ketidakpercayaan terhadap metanaratif, Dalam masyarakat dan budaya kontemporer, grand narrative atau narasi besar telah kehilangan kredibilitasnya terlepas dari apakah narasi tersebut merupakan narasi spekulatif atau narasi emansipasi (Lyotard, 1979: 37). Dengan demikian, tidak ada narsi besar atau kecil yang dihasilkan oleh kesepakatan legitimasi, di mana hal tersebut hanya diberikan pada orang-orang tertentu. Selain itu, Baudrillard dalam bukunya yang berjudul Simulacra and Simulation melihat bahwa masyarakat telah hidup di dunia yang semakin banyak informasi dan berkurangnya makna (Baudrillard, 1994: 79). Dalam artian, informasi yang tersebar semakin banyak membuat maknanya meledak dan tercecer, sehingga tidak ada makna yang tetap dan tidak ada makna yang benar dan salah.
-
Sastra dalam Perspektif Poshumanisme
0Rp 140.000Poshumanisme, sebagai aliran pemikiran yang meruntuhkan batas-batas antara manusia, teknologi, dan lingkungan, semakin relevan dalam memahami perubahan dunia kontemporer. Sastra, sebagai medium ekspresi dan refleksi sosial, turut berperan dalam mencerminkan hubungan yang semakin kompleks antara manusia dan lingkungan di sekitarnya. Buku ini mencoba memotret fenomena tersebut dari berbagai sudut pandang, dengan fokus pada cara-cara baru dalam memahami keberadaan manusia dan kontribusinya terhadap alam, teknologi, dan budaya.
Tulisan-tulisan dalam buku ini menawarkan pendekatan multidisipliner, yang tidak hanya melihat sastra dari sisi estetik semata, tetapi juga menggali hubungan antara bahasa, identitas budaya, dan interaksi manusia dengan teknologi. Setiap esai memberikan wawasan kritis yang membuka ruang dialog antara filsafat, teori sastra, dan kajian budaya, sehingga diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pembaca yang ingin memperdalam pemahaman tentang dinamika antara sastra dan poshumanisme.
-
Sastra Populer Islami: Arena Produksi dan Kontestasi
0Rp 85.000Adapun fenomena yang terungkap dalam sastra populer memberikan banyak informasi tentang tren gaya hidup populer pada zamannya, gaya hidup remaja metropolitan yang dipenuhi dengan hedonisme, pandangan pengarang terhadap gender; semangat zaman yang penuh dengan budaya instan dan kekinian, ideologi agama yang lunak dan gaul, serta refleksi respons dan gudang pengalaman penulis terhadap budaya populer remaja di Indonesia, termasuk di dalamnya sastra populer Islam.
Salah satu yang menjadi daya tarik sastra populer Islam adalah tema-tema kehidupan sehari-hari yang dianggap sebagai tuntunan praktis keislaman (ready to use Islam) dalam mengarungi kehidupan. Narasi tersebut disuguhkan dengan paragraf-paragraf pendek, bahasa sederhana yang tidak menggurui, seperti bisikan halus seorang teman yang bersahabat, dan dilengkapi dengan ilustrasi yang menggugah. Novel islami yang banyak diminati tersebut, di antaranya, adalah Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, dan Bumi Cinta karya Habiburrahman El Shirazy; Surga yang Tak Dirindukan dan Sehidup Sesurga denganmu karya Asma Nadia; 99 Cahaya di Langit Eropa dan Bulan Terbelah di Langit Amerika karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra; Negeri 5 Menara karya A. Fuadi; serta beberapa karya Tere Liye, seperti, salah satunya, Hafalan Shalat Delisa. Karya-karya tersebut terus diproduksi dan dikonsumsi secara masif, bahkan diangkat menjadi film sehingga menarik jutaan penonton dan sekaligus meraup untung yang tidak sedikit. Karya-karya itulah yang di antaranya disajikan dalam buku ini sebagai hasil telaah dan pembacaan penulis.
-
SASTRA POPULER: PENDEKATAN SOSIOLOGIS
0Rp 140.000Buku ini memberikan warna dan perspektif baru dalam penelitian sastra populer di Indonesia. Sosiologi Sastra Populer dirancang dan didesain khusus bagi mahasiswa sastra, juga dapat dijadikan referensi tambahan bagi mata kuliah Sosiologi Sastra. Buku ini secara general juga layak dijadikan sumber rujukan bagi mahasiswa sastra lainnya yang meminati kajian Sastra Populer.
Dalam konteks ini istilah “Sastra Populer: Pendekatan Sosiologis” untuk memberi penekanan pada objek material (Sastra Populer) dan pendekatan teoritisnya (Sosiologi Sastra). Buku ini dimulai dengan pembahasan mengenai posisi fiksi populer di Indonesia dan memetakannya berdasarkan sejarah sastra Indonesia serta keberadaan sastra sebagai praktik. Pembahasan dilanjut dengan kajian-kajian mengenai sastra populer dari pendekatan strukturalisme, estetika, hingga mengurai konteks sosial Jawa; kemudian, Gramsci, Mosco, Escarpit, Bourdieu, pembacaan wacana, hingga posmarxis. Dengan demikian sangat diharapkan buku ini dapat membuka cakrawala mahasiswa terutama mereka yang sedang mempelajari sastra populer di Indonesia secara serius.
-
Sastra Siber: Beberapa Penjajakan atas Tekstualitasnya
0Rp 135.000Pada tingkat yang paling dasar, yaitu tingkat dunia pengalaman dan penghayatan, manusia bersentuhan dengan dunia, lingkungan alamiah dan kultural-manusiawinya secara langsung melalui kontak indrawi. Hubungan antarmanusia, misalnya, bersifat tatap muka. Begitu juga persentuhan antara manusia dengan alam. Pada masa berburu, manusia tinggal di hutan, bersentuhan langsung dengan binatang buruannya, mempertaruhkan keselamatan fisik dan nyawanya. Konsep romantik tentang cinta adalah semacam kerinduan akan kelangsungan itu, yaitu yang biasa dikenal sebagai “cinta pada pandangan pertama” yang di dalamnya tidak ada mediasi apa pun sebagai syaratnya, baik mediasi status sosial, kelas, ras, nasionalitas, geografis, usia, bahkan gender, ataupun apa yang disebut orang Jawa sebagai “bibit, bebet, bobot”.
Namun, manusia cenderung juga merekam, menyimpan, dan mentransmisikan pengalaman langsung itu untuk pegangan dalam mengarungi dunia pengalaman berikutnya, baik bagi dirinya sendiri maupun generasi yang lebih kemudian, sehingga mereka dapat “belajar dari pengalaman”, tidak belajar sambil atau sesudah mengalami sendiri secara langsung. Untuk mengetahui bahwa ular itu beracun dan bisa mematikan, misalnya, manusia tidak perlu harus mengalami gigitan ular itu terlebih dahulu, melainkan cukup mempelajari dan mengetahuinya dari pengalaman manusia-manusia yang ada sebelumnya. Masyarakat, dengan keluasan apa pun, pada dasarnya terbentuk dari rekaman dan penyebaran terhadap akumulasi dari ruang ke ruang, waktu ke waktu, pengalaman yang demikian.
Peter Berger dan Thomas Luckman, dalam buku mereka yang berjudul The Social Construction of Reality, memahami masyarakat secara fenomenologis dengan menggabungkan teori Weber dan Durkheim. Sesuai dengan filsafat fenomenologi, mereka beranggapan bahwa realitas, termasuk yang sosial, merupakan objek yang intensional. Atas dasar pengertian itu, mereka memulai pemahamannya dari sebuah pandangan mengenai kodrat manusia sebagai makhluk yang menjadi, bukan makhluk yang sudah atau langsung jadi begitu dilahirkan. Karena makhluk yang menjadi, manusia membentuk dirinya sendiri dan lingkungan yang sesuai dengan diri mereka atau sebaliknya. Dari interaksi dengan sesamanya dan dengan lingkungan alamiahnya, manusia melakukan tipifikasi terhadap diri dan lingkungannya untuk dijadikan pedoman dalam interaksi berikutnya, menjadikan endapan pengalaman subjektif dan bersituasi itu sebagai sesuatu yang berada di luar dan melampaui diri mereka, suatu tindakan eksternalisasi sehingga dipahami sebagai sesuatu yang objektif, yang berada di luar diri manusia, sehingga tidak bisa diubah oleh kehendak subjektif. Endapan pengalaman yang sudah dieksternalisasikan itu kemudian secara dialektik diinternalisasikan kembali kepada diri sehingga realitas yang semula sudah objektif menjadi realitas yang juga subjektif.
-
Sastra, Subjek, dan Konstruksi Asimetris
0Rp 135.000Ada ruang alternatif bagi subjek sebagai wilayah pemenuhan atas rasa kekurangan (lack) manusia. Begitu juga dalam sastra dan seni, pengarang atau seniman mengarahkan kita pada kenikmatan spiritual untuk memenuhi segala kekurangan (kasat mata) yang kita rasakan sebagai manusia. Perihal ini kita dapat menelisik lebih jauh dalam artikel kelima mengenai kenikmatan spiritualitas dalam pakeliran padat lakon Dewa Ruci Ki Mantep Soedarsono.
Saya pernah menyinggung persoalan politik spiritualitas dalam tulisan saya di salah satu koran lokal di Yogyakarta, bahwa pada tataran subjek/per-orangan, spiritualitas menjadi ruang alternatif (cadangan) yang dapat dipakai ataupun tidak. Hal ini tentu bergantung pada tuntutan lingkungan sosial terdekat yang dialami sehari-hari. Spiritualitas dapat menjadi kontestasi persahabatan dan persaudaraan suatu komunitas, baik sebagai ajang persaingan internal, baik untuk tujuan-tujuan tertentu (negatif/positif).
Merujuk perspektif Lacanian bahwa subjek pada dasarnya adalah subjek terbelah, serba kekurangan, dan tidak utuh. Tanpa sadar subjek terus mereproduksi fantasi-fantasi untuk memenuhi hasrat, untuk mencapai kesatuan eksistensial. Usaha pencarian ‘diri’ ini seringkali dipenuhi atau diaktualisasikan salah satunya dengan laku spiritual. Dalam Jawa ada upaya penyatuan diri subjek dengan ‘Yang Riil’ untuk menuju pada kesempurnaan atau kemanunggalan. Gagasan itu termanifestasikan dalam tradisi masyarakat Jawa sehingga mereka punya konsep laku spiritual yang disebut Manunggaling Kawula Gusti. Laku spiritual manusia Jawa tentu sebagai laku memenuhi keselarasan dan keharmonian hidup.
Dunia manusia adalah dunia yang dikonstruksi atau dibentuk oleh aktivitasnya sendiri. Artinya, ia harus membentuk dunianya sendiri dalam hubungannya dengan dunia. Yang dibentuk adalah kebudayaannya. Tujuannya memberikan struktur-struktur kokoh yang sebelumnya tidak dimiliki secara biologis. Sebagai bentukan manusia, struktur-struktur memiliki kemungkinan berubah karena sifatnya yang tidak stabil (Berger, 1990: 6-8). Karena sifatnya yang tidak stabil, pandangan-pandangan mahasiswa dalam buku ini cukup representatif merespons kenyataan-kenyataan sosial dalam karya sastra beragam.
Mengapa saya katakan ‘asimetri’? Hal penting asimetri adalah sifatnya yang tersebar luas di berbagai tingkat dan lapisan, memungkinkan perubahan terjadi berkali-kali. Begitu dengan sastra hal yang terlihat di permukaan teks (main text) belum tentu secara tersirat mengatakan hal yang sama. Bentuk teks sastra bukanlah sekadar hiasan melainkan sebagai perwujudan ideologis yang kuat (Jameson, 1971). Maka upaya pembacaan totalitas dibutuhkan untuk mengetahui yang tersembunyi dari struktur bawah teks. Kesadaran historis membantu mengungkap makna-makna yang termanifestasikan dalam karya sastra. Sejarah adalah struktur dasar memang menjadi sangat penting.
-
-
Secangkir Bintang V1.7
0Rp 55.000Sedikit Pembuka
Sinta Ridwan
Untuk Senja Hatiku: Kutunggu kau/ di rumah mungil itu// Aku akan siapkan kayu untuk perapian nanti malam// Dan secangkir bintang/ untuk kita berdua// Dari Embun Pagimu – Ujungberung II, 26 Mei 2009
Setiap malam tiba, hal pertama yang aku cari adalah keberadaan bintang-bintang. Kami seolah saling menyapa: Bagaimana kabarmu hari ini? Indah? Ya, aku dan bintang seperti memiliki keterikatan yang dalam. Selain bintang, sahabatku yang lain adalah senja, Manglayang, awan putih, langit biru, pelangi, hujan, mentari, angin, naskah kuna, tanah, laut, camar, elang, dan naga. Aku juga punya seorang kekasih, Embun Pagi namanya. Namun, sebenarnya hanya satu pelindung hati dan semangat jiwa, bintang itulah.
Lalu mengapa harus secangkir? Bukan seember, segelas, semangkuk, atau selangit. Alasannya, karena hidup ini sebentar. Seperti ukuran cangkir kecil yang dalam dan melengkung. Waktu ini sempit. Ibaratnya, duniaku hanya sebesar cangkir. Dan mimpi-mimpi yang ada dalam hidupku seperti sedang memenuhi cangkir dengan bintang-bintang penuh warna. Sedih, suka, senang, bahagia, masa lalu, masa kini, dan amarah. Sengaja aku beri warna-warna pada si hidup agar menambah cita rasa bintang dalam cangkirku.
Ya, secangkir bintang. Dua kata inilah yang mewakili perasaanku dalam judul naskah yang berisikan kumpulan tulisan pendek dan ringan selama perjalanan empat tahun dari 2006 hingga 2009. Dan ini adalah naskah pertamaku. Anakku sendiri, yang lahir dari seluruh tubuhku, berbaur dengan apa yang ada di dekatku.
Inspirasi untuk menulis “katakanlah” puisi, selalu datang tanpa terdeteksi sebelumnya. Ketika muncul, aku hanya sanggup mempersilakan mereka masuk ke dalam ruang imajinasiku. Entah, menarik atau tidak bagi orang lain. Setidaknya aku bersikap jujur untuk mengungkapkan apa yang aku lihat, apa yang aku dengar, apa yang aku rasa, apa yang aku sentuh, apa yang aku pikir, dan apa yang aku mimpikan pada saat itu juga. Langsung kutuang ke dalam cangkir. Entah berasa pahit, manis, luka, atau ceria.
Kuyakini, jika imajinasi, mimpi, khayalan, dan ambisi merupakan anugerah yang dimiliki setiap makhluk hidup. Bila dikolaborasi suasana hati akan menjadi lebih berwarna. Hidup semakin lebih hidup.
Coretan tulisan ini berasal dari apa saja yang aku rasa dan merupakan hal-hal sederhana di kehidupanku sehari-hari. Aku sedang belajar dan mencoba menuangkan isi tentang hal-ihwal di hadapan juga di belakang, mulai dari mata lalu ke otak, ke hati kemudian membentuk kata-kata. Bagiku, si pengidap ill communication stadium tinggi, menulis adalah bentuk ekspresi dari pelampiasan kata-kata yang tertahan, tak terucap, terpendam, lama mengendap, lalu menggunung dalam tubuh.
Melalui tulisan yang sedikit malu-malu kucing ini, aku mengakui bahwa anak-anakku yang didokumentasikan dalam secangkir bintang dianggap sebagai bentuk puisi sederhana, yang akhirnya mampu kutuang semuanya. Dan aku merasa plong. Lega rasanya.
Teramat bahagia, ketika melihat ada makhluk-makhluk hidup lainnya mau menyisakan waktu membaca coretan ini. Bagiku, itu adalah bentuk dari perhatian yang tak dapat dibalas dengan apapun. Mungkin, hanya bisa memberikan senyuman paling manis yang dimiliki dan bisikan terima kasih atas semua yang telah membantu dan menemani selama proses pembuatan dan kelahirannya anak kecil ini.
Kepada semua yang sudah pernah main ke duniaku, membaca tulisan-tulisannya, menggenggam secangkir bintang, menyeruput dan turut menambah rasa warna-warni bintang dalam cangkir ini, kuucapkan: Hatur nuhun pisan.
Ujungberung II, 23 April 2009
-
Secangkir Kopi Primadona
0Rp 65.000Desa Sapit merupakan salah satu desa tertua yang terletak di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Desa ini kaya akan sejarah, budaya, dan sumber daya alam yang melimpah. Salah satu sumber daya alam yang menjadi komoditas utama di Desa Sapit adalah kopi dan beragam sayur-sayuran. Salah satu keunikan kegiatan pertanan di desa ini adalah bahwa mayoritas warga penggerak kegiatan pertanian adalah para pemuda berumur 18 hingga 28 tahun. Para pemuda ini bersatu membentuk sebuah kelompok Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang dinamakan Sapit Farm Mandiri yang didirikan pada tahun 2017. Saat ini, UMKM tersebut akan membuka kedai kopi perdana mereka. Namun, mereka masih sering menemukan kendala dalam kegiatan pengembangan produk kopi ini. Aliran listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) seringkali tidak stabil dan padam tanpa pemberitahuan. Hal tersebut membuat kegiatan pengembangan produk terhambat. Sementara itu, Desa Sapit memiliki intensitas sinar matahari yang tinggi dan ketinggian yang cocok untuk implementasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya. Maka dari itu, kami merencanakan untuk melakukan kegiatan pelatihan implementasi teknologi tepat guna dan ramah lingkungan “Gerobak Surya” sebagai sarana kegiatan ekonomi kelompok UMKM Desa Sapit. Gerobak Surya yang diimplementasikan di Desa Sapit ini terbuat dari galvalum. Selain lebih kuat, tipe Gerobak Surya ini juga terlihat lebih modern. Dalam jangka waktu 3 bulan, dengan penggunaan teknologi pencipta sumber energi alternatif seperti Gerobak Surya ini, pendapatan UMKM Sapit Farm Mandiri diharapkan dapat meningkat sebanyak 25% dari pendapatan sebelumnya.
-
SELINTAS NARATOLOGI SASTRA DAN FILM INDONESIA
0Rp 140.000Merespons fenomena narrative turn, buku ini menyajikan artikel-artikel yang menggunakan pendekatan naratologi dari beberapa ahli yang berbeda. Konsep-konsep naratologi dari Todorov, Genette, Barthes, digabungkan dengan beberapa analisis diskursif tentang memori kolektif, mimetic desire, dan ideologi, terhadap berbagai genre karya sastra dan film Indonesia. Buku ini diharapkan bisa menjadi salah satu ruang diskusi naratologi dalam konteks Indonesia, yang bisa diperbandingkan dengan perkembangan naratologi di berbagai belahan dunia berbeda.
-
Seni Menulis Puisi
0Rp 60.000Puisi terdiri dari tubuh dan ruh. Di dalam buku ini mengulik keduanya, yaitu bagaimana mengenalinya dan menguraikan langkah-langkah menulisnya. Kelebihan buku ini adalah, pembaca mengenal berbagai jenis puisi, cara menikmati puisi/analisis, dan teknik menuliskannya.
Buku ini terdiri dari teori apresiasi dan langkah-langkah terapan. Masing-masing penulis sertakan contoh puisi untuk mempermudah pemahaman. Ada beberapa langkah-langkah yang memamng tidak penulis sertakan langkah-langkahnya, sebab dengan contoh yang ada sudah cukup untuk mengerti ke arah cara menulis puisi yang dimaksud.
Tidak banyak yang tahu jenis-jenis puisi dan istilah yang melingkupinya, mislanya alusi, impresi, dramatik, antropomorfisme, pararima, kolase. Di dalam buku ini juga dipaparkan juga kiat menangkap ide; menciptakan kesegaran daya ungkap; menghilangkang konjungsi; menulis kata pertama; menulis judul; merecvisi; dan lain sebagainya.
Buku ini deperuntukkan bagi masyarakat yang ingin mengenal puis; bagi orang-orang yang ingin bisa menikmati puisi; bagi guru yang mengajarkan puisi; bagi pembina sanggar; bagi penyair yang selama ini kesulitan mengajarkan penulisan puisi; dan bagi siapa pun yang menjadi pemateri penulisan puisi.