• Senja Megatruh

    Senja Megatruh

    0

    Esti memotret hidup dengan bahasa dan ia memakaikan gambarnya lewat katanya—bukan lewat warnanya. Tapi toh titik itu kembali lagi: lewat kata kita menghidupi warna yang diambil Esti dari dalam, katanya, tengahnya hidup dan itulah Mijil yang lagi menurunkan dirinya, dari tembang kesunyian hidup manusia, manusia siapa saja dan manusia mana saja, kita beroleh kabar agak terang bahwa, kata Esti, tengahnya dunia adalah laku atau diri atau, apa saja hendak kita isikan, dunia nasihat yang keluar dari gaibnya dunia Mijil juga. Esti mengatakan potretnya ini lewat nada dari warna gambar hidupnya dan keluarlah sesuatu pernyataan normatif atas hidup yang berlaku untuk siapa saja, tapi sukar itu. Esti: tengahnya laku//terhormat dan bermartabat. Tapi lihatlah “sampai juga gairah asmaradhana” di sana. sampai dan tiba ke “hingga senja megatruh”. (Hudan Hidayat – Sastrawan)

    Kembalinya penyair ke akar tradisi sebagai pilihan pantas dihargai, sebab realitas menunjukkan bahwa akar tradisi memberikan tumpuan yang kuat bagi tumbuhkembangnya karya sastra monumental. Bagi kita yang hidup di dalam tata nilai Timur, sastra yang unggul adalah sastra yang berjalin-berkelindan pada Realitas Hakiki yang metafisis sifatnya. Karya sastra yang dihasilkan oleh tata nilai Timur ini menunjukkan karya yang memiliki keharmonisan di dalam dan sarat makna. Penyair pada akhirnya harus tanggap pada apa yang disebut oleh Romo Dick hartoko sebagai ”Tanda-tanda Zaman”. Perubahan memerlukan penyesuaian. Penyesuaian memerlukan pemahaman. Pemahaman memerlukan kerja keras. Kerja keras akan menghasilkan karya berkualitas. Penyair yang gemilang adalah mereka yang mau bekerja keras saat orang-orang lain tidur, berani mengambil risiko ketika yang lain mundur. Demikianlah, lanskap suasana yang tertangkap saat Esti Ismawati menyanyi megetruh di saat senja. (Dimas Arika Mihardja – Direktur Eksekutif Bengkel Puisi Swadaya Mandiri)

    Rp 40.000
    Add to cart
  • Sepenggal Kisah di Balik Gunung

    Sepenggal Kisah di Balik Gunung

    0

    Seorang legenda pendaki gunung dan pencinta alamIndonesia Soe Hok Gie pernah menyatakan dalamsebuah tulisannya, bahwa rasa nasionalisme tidak dapat tumbuh dari slogan atau indoktrinasi melainkan cinta tanah air hanya dapat tumbuh dari melihat langsung alam dan masyarakatnya.

    Pernyataan Soe Hok Gie tersebut, betul-betul penulis rasakan ketika bergabung menjadi anggota Perkumpulan Pendaki Gunung dan Penjelajah Alam MERMOUNC. Melakukan perjalanan dan kegiatan alam bebas menelusuri pelosok negeri, menerobos hutan belantara,menyusuri lembah dan mendaki tingginya Gunung di semesta alam Nusantara serta melihat langsung denyut nadi kehidupan masyarakat yang berada jauh dari hiruk pikuk kota metropolitan. Sebuah pengalaman inderawi yang banyak memberikan pengetahuan bagi penulis dalam memahami makna kehidupan.

    Mungkin bagi sebagian orang, apa yang dilakukan oleh penulis dengan berkegiatan petualangan di alam bebas, bisa jadi dipersepsikan sebagai sebuah aktivitas yang tidak ada manfaatnya alias buang-buang waktu. Bahkan penulis sendiripun pernah mengalami perlakuan sinis dan cibiran dari sebagian orang yang menganggap para petualang alam bebas adalah orang-orang kurang kerjaan dan hanya sekedar mencari eksistensi agar dianggap “macho”.

    Boleh saja sebagian orang berpendapat begitu, namun bagi penulis melalui kegiatan petualangan di alam bebas, kita dapat melihat dan merasakan langsung keindahan bumi Nusantara dan juga keaneka ragaman budaya yang merupakan ekspresi dari keragaman masyarakat Nusantara tercinta ini. Sesuatu hal yang jauh melampaui dari hanya sekedar mencari pengakuan akan eksistensi diri agar dianggap “macho”, tapi sesuatu hal yang memberikan makna yang lebih dalam untuk mengenal lebih dekat alam dan masyarakat bumi Nusantara ini, dengan melihat dan merasakan secara langsung melalui pengalaman inderawi baik sebagai sebuah pengalaman material maupun spiritual.

    Apalagi berbicara tentang sebuah gunung, gunung bagi penulis penuh dengan beribu makna yang terekam dalam bentuk kisah-kisah baik yang bersifat personal maupun kisah yang bercerita tentang aspek pengetahuan baik secara ilmiah maupun aspek pengetahuan lokal masyarakat yang hidup di lingkaran sebuah gunung. Secara personal penulis memandang gunung sebagai sebuah realitas empirik yang berdimensi ruang dan waktu. Ketika kita mendaki sebuah gunung yang sama namun dengan dimensi ruang dan waktu yang berbeda pasti kita mendapatkan pengalaman dan pengetahuan yang berbeda pula.

    Sementara dalam konteks aspek pengetahuan ilmiah, gunung adalah sesuatu fenomena alam yang harus kita ketahui bersama, karena kita tinggal di bumi Nusantara yang dikelilingi oleh beribu-ribu gunung api atau disebut sebagai wilayah ring of fie. Di mana keberadaan gunung dapat merupakan ancaman bencana bagi sebuah wilayah yang dihuni oleh penduduk, sehingga pengetahuan tentang kegunungapian atau vulkanologi sudah semestinya menjadi pengetahuan dasar bagi kita semua yang hidup di wilayah
    “cinci api” termasuk di dalamnya memahami pengetahuan lokal yang bersumber dari cara pandang masyarakat lokal
    sebagai cara kita untuk memahami “bahasa” gunung dan sekaligus upaya kita dalam konteks pengurangan resiko
    bencana yang disebabkan oleh erupsi gunung api.

    Bagi sebagian masyarakat Jawa, keberadaan sebuah gunung adalah sebuah keniscayaan, karena gunung api paling banyak terdapat di pulau Jawa dibandingkan dengan pulau lainnya di wilayah nusantara. Hal ini menyebabkan sebagian masyarakat Jawa terutama mereka yang hidup di sekitar gunung memiliki cara pandang sendiri dalam memaknai keberadaan sebuah gunung. Gunung dapat
    dipandang dari sisi material maupun dari sisi spritualitas.

    Dari sisi material sebagian masyarakat Jawa memahami bahwa gunung merupakan ancaman bencana ketika gunung tersebut tengah mengalami erupsi, tapi di balik ancaman bencana tersebut gunung juga mendatangkan keuntungan ekonomi berupa tanah yang subur bagi lahan pertanian dan pasir yang melimpah yang dapat menghasilkan manfaat secara ekonomi.

    Sementara dari sisi spritualitas gunung bagi masyarakat Jawa bukanlah sekedar benda mati, namun diyakini bahwa gunung melambangkan hubungan diantara dunia manusia atau jagad manusia dan kayangan atau jagad para dewa-dewa. Kepercayaan tersebut memang mempengaruhi kepercayaan masyarakat Jawa terhadap gunung, mulai dari jaman dahulu hingga saat ini. Mencoba memahami “bahasa” gunung barangkali adalah sebuah ungkapan yang tepat bagi penulis untuk menuliskan pengalaman-pengalaman penulis dalam melakukan kegiatan pengembaraan dan melihat secara langsung kehidupan yang ada di sekitar gunung serta mendengar langsung cara pandang masyarakat yang hidup di kaki gunung atau meminjam istilah antropologi adalah dengan menggunakan pendekatan emic sehingga kita menjadi tahu persepsi mereka dari sudut pandang mereka sendiri bukan dari sudut pandang kita.

    Buku yang hadir ditangan pembaca ini bukanlah sebuah hasil penelitian ilmiah yang lengkap dengan kerangka teori dan metodologinya. Buku ini hanya berdasarkan pengalaman inderawi ketika penulis melakukan perjalanan yang penulis rekam dalam catatan perjalanan ditambah dengan beberapa data sekunder yang penulis peroleh dari berbagai sumber referensi. Beberapa penggalan kisah yang berangkat dari pengalaman pribadi penulis dalam melakukan pengembaraan di wilayah pegunungan dan melihat langsung denyut nadi kehidupan masyarakat di beberapa daerah. Penulis mencoba mengulasnya dalam beberapa penggalan kisah yang didasarkan pada hasil observasi, wawancara dan terekam dalam catatan perjalanan

    Rp 65.000
    Add to cart
  • SEUNTAI MUTIARA UNTUK GAZA

    SEUNTAI MUTIARA UNTUK GAZA

    0

    Bagi yang masih memiliki rasa kemanusiaan dan rasa keadilan, dan sadar akan pentingnya kedaulatan sebuah bangsa, penderitaan panjang bangsa Palestina mengundang rasa solidaritas untuk berbagi rasa melalui bantuan kemanusiaan dan keberpihakan. Bagi penyair dan pecinta sastra, yang hanya punya senjata kata-kata, menyusun kata-kata yang menohok rasa kemanusiaan adalah cara untuk mengungkapkan solidaritas itu. Bukankah kata-kata lebih tajam dari peluru? Inilah yang dilakukan oleh para penyair dari berbagai negara, termasuk penyair dari Palestina sendiri.

    Sejak era intifada kita sudah membaca puisi-puisi mereka yang patriotik dan membangkitkan semangat perlawanan. Sebut saja penyair-penyair terkemuka Palestina, seperti Fatwa Tuqan, Mahmoud Darwish, Ibrahim Touqan, Abu Salma, Abdelrahim Mahmud, dan Kamal Nasir. Mereka dengan lantang menyuarakan semangat perlawanan terhadap rezim zionis sembari mengobarkan semangat cinta tanah air Palestina. Sampai-sampai Mosye Dayan berujar, “Satu puisi patriotik Palestina lebih berbahaya daripada satu resimen pasukan komando.” Dan, penyair-penyair patriotik itu, seperti Fatwa Tuqan, pun ditangkapi dan dijebloskan ke dalam penjara.

    Para penyair dan pecinta puisi di Indonesia, yang tahu tajamnya kata-kata, yang sadar bahwa puisi adalah saksi sejarah dan saksi sikap kemanusiaan kita, tentu tidak mau tinggal diam, mengungkapkan solidaritas kepada bangsa Palestina – bangsa pertama yang mengakui kemerdekaan kita. Sudah kita baca puisi-puisi solidaritas Palestina karya Taufiq Ismail, D. Zawawi Imron, Helvy Tiana Rosa, dan banyak lagi. Puisi-puisi yang penuh keprihatinan, solidaritas, dan kepedulian dalam melihat tragedi kemanusiaan yang terjadi di Palestina.

    Kali ini, dalam antologi puisi bertajuk Seuntai Mutiara untuk Gaza, kata-kata solidaritas dan sikap kemanusiaan itu diungkapkan kembali.

    Read more
  • SOSIOLOGI KEHIDUPAN

    SOSIOLOGI KEHIDUPAN

    0

    Buku ini memuat fragmen-fragmen teoretik “perjalanan hidup subjek” ketika subjek mulai memasuki (struktur) kehidupan hingga berbagai upaya pencarian subjek terhadap dirinya. Sebagai fragmen, setiap tulisan berdiri secara sendiri-sendiri, tetapi menjadi rangkaian dari keseluruhan isi buku. Secara umum, buku ini mengapresiasi berbagai teori dan pendekatan, tetapi terutama sosiologi struktural, postruktural, dan posmarxis. Buku yang dikemas secara esai ini lebih dalam rangka mencari dan membuka masalah daripada menjawab masalah.

    Rp 70.000
    Add to cart
  • Suites: 50 Puisi

    Suites: 50 Puisi

    0

    Suites adalah korpus berisi puisi-puisi pendek yang dikerjakan Federico García Lorca dalam rentang 1920-1923, dan baru diterbitkan 60 tahun kemudian, 47 tahun setelah kematiannya. Suites berisi sekuens-sekuens puitik, serangkaian fragmen lirik yang dikelompokkan secara bebas ke dalam tema tunggal, melalui analogi, dengan apa yang telah dikerjakan oleh para komponis musik favoritnya. Sejumlah puisi dalam Suites cenderung menunjukkan narasi yang rusak atau diinterupsi dengan aku-lirik sebagai protagonis sementara, sedangkan puisi-puisi lain begitu dekat dengan bentuk ideal haiku, terutama puisi-puisi pendek yang menangkap momen-momen pengalaman tanpa kehadiran aku-lirik menyela di antara penyair dan pembacanya.

    Rp 45.000
    Add to cart
  • Suluk Bagimu Negeri

    Suluk Bagimu Negeri

    0

    SULUK PENGANTAR

    Aku merasa sudah memasuki umur cukup tua. Entah kapan aku akan meninggalkan dunia ini. Tentu aku berharap usiaku panjang. Panjang usia dan dalam keadaan sehat sejahtera. Tentu aku juga berharap dosa-dosaku, dosa-dosa kita diampuni.

    Dalam kecemasan entah kapan kita kembali pada-Nya, aku merasa tidak ada persiapan yang cukup. Aku sadar, nanti kalau meninggal aku tidak membawa apa-apa. Untuk itulah, aku berpikir aku perlu meninggalkan sesuatu, yang kelak bisa aku bawa. Salah satu pilihan itu adalah dengan menulis puisi.

    Berbeda ketika aku menulis Mantra Bumi (2016). Waktu itu, aku bisa menulis dengan cepat, dan tidak berpikir panjang, karena kuniati menulis mantra atau doa. Munulis puisi dalam Suluk Bagimu Negeri, aku harus bekerja keras.

    Berdasarkan pengalamanku kali ini, tidak ada pekerjaan lain yang lebih melelahkan daripada membuat puisi. Tidak ada pekerjaan lain yang lebih menuntut konsentrasi tinggi daripada membuat puisi.

    Biasanya, setelah aku berhasil membuat dua atau tiga puisi, aku tertidur kelelahan, dengan perasaan tidak puas. Dalam tidur yang penuh kecemasan, terbersit pertanyaan apakah aku dibangunkan dan bisa membuat puisi lagi.

    Begitulah, segalanya harus kita lewati menuju hari-hari yang kita tak tahu ke mana arah hidup berjalan. Dalam kesempatan ini, tidak ada kata-kata yang lebih pantas untuk mengatakan terimakasih. Terimakasih kepada Tuhan, serta shawalat dan salam kepada junjungan Kanjeng Muhammad.

    Terimakasih kepada buah hatiku, kecintaanku, Ainina Zahra, kepada istriku yang indah, Pristi Salam. Terimakasih kepada sahabat-sahabat di Pusat Studi Kebudayaan UGM, kepada seniman dan sastrawan Yogyakarta, dan kepada para mahasiswaku yang hebat-hebat. Juga kepada sahabat-sahabat yang telah menemani diskusi-diskusi yang panjang di malam-malam yang larut.

    Hormat saya kepada Anda semua.

    Aprinus Salam

    Rp 40.000
    Add to cart
  • TAPAL BATAS KRITIK SASTRA

    TAPAL BATAS KRITIK SASTRA

    0

    T. S. Eliot terutama dikenal sebagai pemuka penyair modernis yang dianugerahi Hadiah Nobel Sastra tahun 1948. Selain itu, dia juga esais yang jejaknya selama enam puluh tahun (1905-1965) dibuktikan melalui delapan jilid tebal antologi. Esai-esai yang dia tulis memiliki cakupan tema sangat luas dari mulai sastra, budaya, agama, sampai pendidikan. Melalui esai-esai sastranyalah dia dikenal sebagai salah satu patron aliran Kritisisme Baru dalam kritik sastra.
    Antologi ini memuat enam esai terpenting yang dia tulis tentang hal-hal mendasar dalam kritik sastra, termasuk esai legendarisnya “Tradisi dan Bakat Individu”. Berbeda dengan esai-esai kritik sastranya yang mengupas karya sastrawan tertentu, esai-esai seperti yang dimuat dalam antologi ini lebih memiliki sifat universal yang memungkinkan mereka untuk tetap kontemporer bahkan saat dibaca puluhan tahun kemudian.

    Rp 65.000
    Add to cart
  • Trinitas Suci Pascakolonial dalam Sastra

    Trinitas Suci Pascakolonial dalam Sastra

    0

    Di dalam buku ini akan ditemukan pembicaraan mengenai subalternitas dengan pengertian yang mungkin berbeda dengan yang disampaikan dalam tulisan lain. Kemungkinan perbedaan pemahaman tersebut menunjukkan bahwa apa yang disampaikan oleh tulisan ini hanya salah satu kemungkinan dari ke(salah)pahaman mengenai istilah, pengertian, dan penjelasan Spivak yang memang sulit mengenai persoalan tersebut. Begitupun, tentunya, kemungkinan perbedaan pengertian mengenai istilah lainnya yang sama seperti orientalisme dari Said, ruang liminal dari Bhabha, di antara tulisan yang satu dengan tulisan yang lain. Semuanya lebih baik dipahami sebagai pengayaan pengertian daripada sebagai penyesatan.

    Rp 120.000
    Add to cart
  • -12% YIN

    YIN

    0

    Para pembaca budiman. Saya percaya sebagai pembaca dan penikmat puisi, tidak butuh pengantar panjang lebar untuk mengetuk pintu dan masuk ke rumah puisi. Terima kasih telah bersedia membaca puisi-puisi dalam buku ini. Semoga bermanfaat.

    Original price was: Rp 85.000.Current price is: Rp 75.000.
    Add to cart
  • YIN

    YIN

    0

    Ada kalanya, saya menulis satu kata ibarat memancing, tak tahu ikan apa yang akan menyambar umpan. Bisa juga ibarat menimba ke dalam “sumur diri” tanpa tahu apa dan berapa banyak yang dapat saya timba dengan “timba kata” itu.

    Para pembaca budiman. Saya percaya sebagai pembaca dan penikmat puisi, tidak butuh pengantar panjang lebar untuk mengetuk pintu dan masuk ke rumah puisi. Terima kasih telah bersedia membaca puisi-puisi dalam buku ini. Semoga bermanfaat.

    Rp 75.000
    Add to cart
  • Memorabilia & Melankolia

    Memorabilia & Melankolia

    0

    Buku kumpulan cerita Agus Noor.

    Rp 65.000
    Add to cart